
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS-Sebanyak 23 guru Bahasa Jawa mengikuti pelatihan metode Carangapak sebagai langkah meningkatkan kemampuan membaca dan menulis aksara jawa di kalangan pelajar.
Pelatihan yang diikuti oleh guru bahasa jawa jenjang SMP di Kabupaten Banjarnegara di Gedung Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Banjarnegara, Sabtu (11/7/2026) ini menjadi upaya untuk menyelamat aksara jawa pada generasi muda.
Kekhawatiran terhadap semakin menurunnya kemampuan pelajar dalam membaca dan menulis aksara jawa mendorong Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Banjarnegara mengambil langkah nyata.
Sebanyak 23 guru Bahasa Jawa jenjang SMP mengikuti pelatihan metode Carangapak, sebuah pendekatan pembelajaran yang dirancang agar aksara jawa lebih mudah dipahami, menyenangkan, dan mudah diingat.
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya lokal sekaligus peningkatan kualitas pembelajaran Bahasa Jawa di sekolah. Melalui metode pembelajaran yang lebih interaktif, para guru diharapkan mampu menumbuhkan minat siswa terhadap aksara jawa yang selama ini dianggap sulit dipelajari.
Kepala Dindikpora Kabupaten Banjarnegara, Yusuf Agung Prabowo, mengaku prihatin dengan kondisi kemampuan generasi muda dalam memahami aksara jawa yang terus mengalami penurunan.
“Pemahaman anak-anak kita terhadap aksara jawa semakin memprihatinkan. Kalau bukan kita yang menjaga dan melestarikannya, siapa lagi,” ujarnya.
Menurut Yusuf, pelestarian aksara jawa harus dimulai sejak usia dini. Oleh karena itu, program pelatihan serupa tidak hanya akan menyasar guru SMP, tetapi juga guru Sekolah Dasar (SD) sebagai fondasi utama pembelajaran bahasa dan budaya daerah.
“Ke depan tidak hanya guru SMP, tetapi juga guru SD akan kami libatkan. Pendidikan dasar merupakan pondasi penting agar aksara jawa tetap eksis dan dikenal oleh generasi mendatang,” katanya.
Program tersebut mendapat dukungan penuh dari Komisi IV DPRD Kabupaten Banjarnegara yang membidangi pendidikan.
Anggota Komisi IV DPRD Banjarnegara, Dedi Surolmi, menilai pelestarian aksara Jawa menjadi pekerjaan rumah bersama di tengah derasnya arus globalisasi yang memengaruhi generasi muda.
Menurutnya, saat ini banyak anak lebih mengenal bahasa asing dibandingkan bahasa daerahnya sendiri, termasuk kemampuan membaca dan menulis aksara jawa yang mulai ditinggalkan.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Salah satu warisan budaya yang mulai hilang di kalangan generasi muda adalah aksara jawa. Bahkan banyak anak sekarang lebih memahami bahasa lain daripada bahasa sendiri,” katanya.
Ia berharap penerapan metode Carangapak yang digagas oleh Yayasan dari Jotjakart aini diharapkan dapat menjadi terobosan baru dalam pembelajaran Bahasa Jawa, sehingga materi yang selama ini dianggap sulit dapat dipahami siswa dengan lebih cepat dan menyenangkan.
DPRD Banjarnegara, lanjutnya, siap mendukung berbagai program pelestarian budaya daerah, termasuk perluasan pelatihan bagi guru di jenjang SD agar pembelajaran aksara Jawa semakin kuat sejak pendidikan dasar.
Pelatihan metode Carangapak diharapkan tidak hanya meningkatkan kompetensi guru, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan aksara jawa sebagai bagian dari identitas budaya bangsa. Dengan metode pembelajaran yang lebih inovatif, Banjarnegara berupaya mencetak generasi muda yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga tetap bangga terhadap warisan budaya leluhurnya.