
PURBALINGGA, SERAYUNEWS-Kepedulian nyata terhadap peningkatan taraf kesehatan masyarakat desa kembali ditunjukkan oleh kalangan akademisi. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Kelompok 38 Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto sukses memfasilitasi puluhan warga lanjut usia untuk mengikuti skrining dan deteksi dini katarak secara gratis. Kegiatan yang berlangsung penuh antusiasme ini dipusatkan di Aula Balai Desa Gemuruh Kecamatan Padamara Kabupaten Purbalingga pada Jumat pagi, (31/1/2026)
Berkolaborasi dengan tenaga kesehatan profesional dari Puskesmas Padamara program pengabdian masyarakat ini tidak sekadar dirancang sebagai ajang pemeriksaan medis biasa. Momentum tersebut sekaligus disulap menjadi ruang edukasi interaktif untuk meluruskan berbagai pemahaman keliru seputar penyakit mata yang telanjur beredar luas di tengah masyarakat pelosok desa.
Dokter Martanto Budiarto dari Puskesmas Padamara yang memimpin langsung jalannya proses skrining mengungkapkan sebuah temuan lapangan yang cukup memprihatinkan. Ia mendapati fakta bahwa sebagian besar warga desa kerap dilanda kepanikan berlebih saat pandangan mereka mulai terasa kabur. Masyarakat cenderung mendiagnosis diri mereka sendiri dan mengira kondisi penurunan penglihatan tersebut pasti berujung pada ancaman operasi katarak.
“Banyak warga yang mengira asal matanya kabur itu pasti katarak parah yang bisa bikin buta. Kenyataannya dari puluhan lansia yang kita periksa secara maraton hari ini murni tidak ada satupun yang harus segera dirujuk ke rumah sakit untuk tindakan operasi karena kondisinya sama sekali belum matur atau matang,” ungkap Dokter Martanto usai melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.
Tenaga medis berpengalaman tersebut menambahkan penjelasan bahwa memaksa tindakan bedah pada kondisi katarak yang belum matang justru sangat membahayakan. Operasi baru boleh direkomendasikan ketika visus atau ketajaman penglihatan pasien sudah mencapai titik terendah. Penjelasan medis yang membumi ini perlahan mampu meredakan kecemasan puluhan warga yang sejak pagi tampak memenuhi kursi antrean Pos Bindu.
Kelegaan luar biasa turut dirasakan oleh Sudirman salah satu warga berusia 63 tahun yang mengaku sangat bersyukur setelah mengetahui hasil pemeriksaannya. Selama berbulan bulan Sudirman memendam ketakutan akan kehilangan penglihatan dan membayangkan harus menghadapi pisau bedah. Dokter justru menemukan fakta bahwa keluhan pandangan berkunang yang dialami Sudirman lebih dipicu oleh tekanan darahnya yang melonjak sangat tinggi melampaui batas kewajaran.

“Alhamdulillah perasaan saya sekarang jauh lebih tenang karena kata pak dokter mata saya sama sekali tidak perlu dioperasi. Tadi hanya diingatkan supaya saya lebih ketat menjaga pola makan biar darah tingginya tidak kumat lagi dan pandangan tidak ikut kabur,” tutur Sudirman dengan raut wajah semringah.
Koordinator Mahasiswa KKN Kelompok 38 Desa Gemuruh Irsyad Triadi Ramadhan menuturkan bahwa inisiatif skrining ini memang sengaja dirancang untuk menjawab keresahan warga. Berbekal kepekaan dalam melihat dinamika arus informasi di desa ia menilai agenda pengabdian masyarakat harus mampu menyentuh akar permasalahan sesungguhnya yaitu rendahnya literasi kesehatan dan mudahnya warga termakan informasi simpang siur.
“Sebagai mahasiswa kami menyadari bahwa edukasi dan cara penyampaian komunikasi yang tepat adalah kunci utama. Kami berharap lewat kegiatan ini warga tidak lagi termakan mitos kesehatan yang menakutkan dan para lansia di Desa Gemuruh semakin tergerak untuk memeriksakan diri secara medis ke puskesmas alih alih menebak nebak penyakitnya sendiri,” pungkas Irsyad.