
BANYUMAS, SERAYUNEWS – Gunung Kawi di Jawa Timur dikenal luas sebagai salah satu gunung yang memiliki nilai sejarah, budaya, sekaligus spiritual.
Tidak sedikit masyarakat yang mengenalnya sebagai lokasi pesarean yang ramai dikunjungi peziarah. Di sisi lain, Gunung Kawi juga menjadi destinasi favorit para pendaki karena menawarkan panorama alam yang indah serta jalur pendakian yang menantang.
Hal tersebut membuat banyak orang bertanya, apakah Gunung Kawi boleh didaki? Jawabannya adalah boleh.
Gunung ini memiliki beberapa jalur pendakian resmi yang dapat digunakan oleh para pendaki dengan tetap mematuhi aturan yang berlaku di masing-masing basecamp.
Selain terkenal dengan kisah-kisah mistis yang berkembang di masyarakat, Gunung Kawi juga memiliki daya tarik berupa hutan alami, perkebunan, hingga pemandangan pegunungan yang memanjakan mata selama perjalanan menuju puncak.
Gunung Kawi berada di wilayah Kabupaten Malang dan berbatasan dengan Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 2.651 meter di atas permukaan laut, sedangkan jalur menuju puncak Gunung Buthak mencapai sekitar 2.868 meter di atas permukaan laut.
Selain menjadi lokasi pendakian, kawasan Gunung Kawi juga terkenal sebagai destinasi wisata religi. Di lereng gunung terdapat Pesarean Gunung Kawi yang menjadi makam Eyang Djoego atau Kanjeng Kyai Zakaria II dan RM Iman Soedjono, tokoh yang dikenal sebagai pengikut sekaligus penasihat spiritual Pangeran Diponegoro.
Setiap tahunnya, kawasan pesarean ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah, terutama saat peringatan Haul RM Iman Soedjono yang digelar setiap tanggal 12 Sura dalam penanggalan Jawa.
Tradisi tersebut diisi dengan doa bersama, pembacaan tahlil, Yasin, hingga pertunjukan kesenian tradisional seperti karawitan dan campursari yang masih dilestarikan hingga sekarang.
Bagi masyarakat yang masih bertanya apakah Gunung Kawi boleh didaki, jawabannya adalah ya, diperbolehkan selama pendaki menggunakan jalur resmi dan mengikuti seluruh ketentuan yang berlaku.
Gunung Kawi memang lebih dahulu dikenal sebagai kawasan spiritual, namun aktivitas pendakian tetap dibuka melalui sejumlah basecamp resmi.
Bahkan setiap tahunnya banyak komunitas pendaki dari berbagai daerah menjadikan Gunung Kawi sebagai tujuan pendakian karena memiliki panorama alam yang menarik.
Pendakian menuju kawasan puncak akan melewati hutan pinus, perkebunan, vegetasi pegunungan, hingga beberapa area terbuka yang menyuguhkan pemandangan indah.
Medannya cukup menantang karena terdapat tanjakan panjang dan jalur berbatu, sehingga pendaki perlu mempersiapkan kondisi fisik dengan baik.
Meski kawasan Gunung Kawi memiliki banyak cerita mistis yang berkembang di masyarakat, para pendaki tetap dapat menikmati perjalanan secara aman selama menaati aturan pendakian, menjaga etika, serta menghormati nilai budaya yang ada di kawasan tersebut.
Karena berada di kawasan yang memiliki nilai sejarah dan spiritual tinggi, para pengunjung diharapkan tetap menjaga sikap selama berada di Gunung Kawi.
Menghormati adat setempat, tidak merusak lingkungan, serta mengikuti arahan petugas basecamp merupakan bagian penting dari etika pendakian.
Sebagian masyarakat juga mengenal sejumlah pantangan yang berkembang secara turun-temurun. Terlepas dari kepercayaan masing-masing, menjaga tutur kata, bersikap sopan, dan tidak melakukan tindakan yang dapat mengganggu pendaki lain maupun lingkungan merupakan hal yang sebaiknya selalu diterapkan.
Dengan persiapan yang matang serta mematuhi aturan yang berlaku, pendakian Gunung Kawi dapat menjadi pengalaman yang berkesan, baik bagi pecinta alam maupun wisatawan yang ingin menikmati keindahan pegunungan di Jawa Timur.***