SERAYUNEWS – Media sosial kembali diramaikan dengan tren baru yang unik dan mengundang banyak komentar. Kali ini, giliran joget THR yang viral di TikTok.
Di mana warganet menari maju-mundur, bergeser ke kanan dan kiri, sambil menyodorkan amplop THR. Gerakannya sederhana dan cepat ditiru, membuat banyak orang tertarik mengikutinya.
Namun, tak sedikit yang mempermasalahkan tren ini. Sebagian netizen menyebut gerakan tersebut mirip dengan tarian khas Yahudi.
Klaim ini pun memicu perdebatan: bolehkah mengikuti tren joget ini, atau justru sebaiknya dihindari?
Jika ditelusuri lebih jauh, gerakan yang kini dikenal sebagai joget THR tidak benar-benar baru. Tarian dengan pola serupa sudah ada sejak lama dan dikenal di berbagai belahan dunia.
Salah satu yang paling dekat kemiripannya adalah Bunny Hop, tarian yang lahir dari Balboa High School di San Francisco, Amerika Serikat, sekitar tahun 1952.
Majalah TIME dalam artikel tahun 1953 mencatat bahwa Bunny Hop mulai populer di kalangan remaja sekolah dan kemudian menyebar ke publik luas.
Gerakan yang ringan dan berulang membuatnya mudah diterima di berbagai budaya. Bunny Hop lalu berkembang menjadi penguin dance, terutama saat lagu pengiringnya diubah menjadi versi instrumental pada 1958.
Di Arab Saudi, penguin dance bahkan sempat populer dan dijadikan hiburan dalam berbagai acara.
Fenomena ini menunjukkan bahwa gerakan serupa bukan hal eksklusif dari satu budaya, melainkan hasil penyebaran budaya pop global.
Selain di Amerika dan Timur Tengah, gerakan yang mirip juga bisa ditemukan di Finlandia. Tarian bernama Jenkka, yang populer sejak abad ke-19, memiliki formasi dan ritme yang mirip dengan Bunny Hop.
Salah satu variasi terkenal dari Jenkka adalah Letkajenkka, yang mulai dikenal luas pada tahun 1960.
Letkajenkka menggunakan gerakan berbaris sambil melompat-lompat mengikuti irama musik. Sekilas, inilah bentuk awal dari berbagai jenis tarian viral yang muncul di media sosial, termasuk joget THR saat ini.
Sejumlah warganet mengaitkan joget THR dengan tarian Yahudi, namun hingga kini belum ada bukti kuat yang mendukung klaim tersebut.
Tidak ada penelitian akademik atau sejarah yang menyatakan bahwa gerakan ini berasal dari tarian keagamaan tertentu.
Seorang pengamat tren digital menyebut bahwa tuduhan seperti ini rentan disalahartikan dan bisa memperkeruh suasana. Banyak tarian populer yang muncul dari proses kreatif massal, lalu viral karena mudah diikuti.
Algoritma media sosial juga memegang peran penting dalam menyebarkan gerakan-gerakan sederhana yang bisa dinikmati siapa saja.
Ia menambahkan bahwa membandingkan tren joget THR dengan tarian Yahudi hanya berdasarkan kemiripan gerakan bisa menjadi spekulasi yang menyesatkan.
Perbedaan konteks, niat, dan fungsi perlu dipertimbangkan sebelum menyimpulkan sesuatu yang bersifat sensitif.
Di tengah kesibukan dan kebiasaan digital masa kini, tren joget THR justru menjadi bagian dari tradisi baru yang menyenangkan.
Banyak keluarga yang memanfaatkannya sebagai hiburan ringan saat berbagi THR, menciptakan momen bahagia dan tawa bersama.
Tidak sedikit orang tua yang ikut menari bersama anak-anaknya, membuat video, lalu membagikannya sebagai kenangan lebaran.
Hal ini bisa dilihat sebagai bentuk adaptasi masyarakat terhadap perkembangan zaman, di mana budaya populer ikut mewarnai momen keagamaan.
Tren viral seperti joget THR sebaiknya disikapi secara bijak. Daripada fokus pada tuduhan atau kontroversi yang belum terbukti, lebih baik menikmati momen tersebut sebagai bagian dari budaya digital yang terus berkembang.
Selama tidak melanggar norma dan nilai agama, serta dilakukan dengan itikad baik, tren ini bisa dinikmati dengan santai.
Namun tentu saja, jika ada keraguan dalam hati atau keberatan secara pribadi, memilih untuk tidak ikut juga merupakan pilihan yang bijak.
Perbedaan pendapat dalam menyikapi tren adalah hal yang wajar di era digital seperti sekarang.
Joget THR yang sedang ramai dibicarakan di TikTok merupakan bagian dari fenomena budaya populer yang terus bergulir.
Meski gerakannya disebut mirip dengan tarian Yahudi, tidak ada bukti yang kuat untuk mendukung klaim tersebut.
Justru, banyak catatan sejarah menunjukkan bahwa gerakan seperti ini telah lama hadir dalam berbagai tarian rakyat dan budaya pop dunia.
Daripada terjebak pada asumsi, mari melihat tren ini sebagai bagian dari ekspresi kegembiraan menyambut Lebaran.
Selama tidak melenceng dari nilai yang diyakini, tak ada salahnya ikut menari dan tertawa bersama keluarga di hari yang suci.***