
SERAYUNEWS – Fenomena langit menarik akan kembali terjadi pada penghujung Mei 2026.
Masyarakat dapat menyaksikan fenomena blue moon. Apa itu? Simak penjelasan di bawah ini.
Istilah blue moon kerap menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat. Banyak orang mengira bulan akan tampak berwarna biru terang ketika fenomena ini terjadi.
Padahal, secara umum warna bulan tetap terlihat seperti bulan purnama biasa, yakni putih kekuningan atau keemasan.
Dalam dunia astronomi modern, Blue Moon digunakan untuk menyebut bulan purnama kedua yang muncul dalam satu bulan kalender.
Fenomena ini dapat terjadi karena jarak antara satu fase purnama dengan fase berikutnya berkisar 29,5 hari.
Karena panjang siklus tersebut hampir sama dengan jumlah hari dalam satu bulan kalender, terkadang fase purnama bisa muncul di awal bulan dan kembali terjadi pada akhir bulan yang sama. Kondisi inilah yang menyebabkan munculnya Blue Moon.
Fenomena dua kali purnama dalam satu bulan tidak terjadi setiap tahun. Oleh sebab itu, Blue Moon spesial dan menarik perhatian masyarakat dunia.
Istilah Blue Moon memiliki sejarah panjang dalam bahasa Inggris. Ungkapan once in a blue moon sejak lama menggambarkan sesuatu yang sangat jarang terjadi.
Beberapa catatan sejarah menyebut istilah tersebut mulai dikenal sejak abad ke-16. Kala itu, frasa the moon is blue menggambarkan sesuatu yang mustahil atau tidak biasa.
Istilah itu kemudian berkembang seiring munculnya berbagai fenomena alam yang membuat bulan tampak kebiruan.
Salah satu peristiwa terkenal terjadi setelah letusan Gunung Krakatau di Indonesia pada tahun 1883.
Debu vulkanik yang menyebar ke atmosfer membuat cahaya merah tersaring sehingga bulan terlihat kebiruan di sejumlah wilayah dunia.
Sejak saat itu, istilah Blue Moon semakin populer dan mulai orang kaitkan dengan kejadian langka.
Selain itu, sejumlah ahli juga menyebut istilah Blue Moon kemungkinan berasal dari kata kuno belewe yang berarti mengkhianati.
Sebutan tersebut menggambarkan pengkhianatan terhadap anggapan umum bahwa setiap bulan hanya memiliki satu kali bulan purnama.
Masyarakat dapat menyaksikan kemunculan Blue Moon pada 31 Mei 2026 mendatang.
Peristiwa ini menjadi perhatian karena tergolong jarang terjadi. Dalam satu bulan biasanya hanya muncul satu fase bulan purnama.
Namun, pada Mei 2026, fase purnama muncul dua kali, yakni pada 1 Mei yang dikenal sebagai Flower Moon dan pada 31 Mei yang disebut Blue Moon.
Meski menggunakan nama Blue Moon, fenomena ini tidak membuat warna bulan berubah menjadi biru.
Istilah tersebut lebih merujuk pada kejadian astronomi yang tidak sering terjadi dibandingkan perubahan warna bulan secara nyata.
Blue Moon menjadi salah satu fenomena yang berbeda. Para pengamat langit, pecinta fotografi malam, hingga masyarakat umum ingin menikmati pemandangan langit malam unik ini.
Fenomena Blue Moon memang tidak sesering bulan purnama biasa. Dalam kalender normal, fase purnama rata-rata hanya muncul sekali dalam satu bulan.
Karena siklus bulan berlangsung sekitar 29,5 hari, dalam kondisi tertentu purnama dapat muncul dua kali di bulan yang sama. Fenomena seperti ini umumnya hanya terjadi setiap dua hingga tiga tahun sekali.
Selain definisi modern sebagai bulan purnama kedua dalam satu bulan kalender, Blue Moon juga memiliki definisi tradisional dalam astronomi.
Definisi tersebut menyebut Blue Moon sebagai bulan purnama ketiga dalam satu musim astronomi yang memiliki empat kali bulan purnama.
Meski demikian, definisi modern lebih populer dan lebih mudah dipahami masyarakat luas.
Kemunculan Blue Moon selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi pengamat astronomi dan pemburu foto malam.
Banyak orang memanfaatkan momen ini untuk mengabadikan pemandangan langit karena posisi bulan purnama biasanya tampak lebih terang dan indah.
Fenomena ini juga kerap dikaitkan dengan berbagai cerita budaya, simbol keberuntungan, hingga kepercayaan spiritual di sejumlah negara.
Walaupun demikian, secara ilmiah Blue Moon tetap merupakan fenomena astronomi biasa yang terjadi akibat siklus pergerakan bulan.***