
CILACAP, SERAYUNEWS — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membekali nelayan Cilacap dengan kemampuan membaca informasi cuaca sebelum melaut. Melalui Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN), nelayan diajari memanfaatkan informasi cuaca, tinggi gelombang, arus, hingga potensi lokasi ikan melalui perangkat digital.
Kegiatan SLCN berlangsung di Aula Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Sabtu (29/8/2026). Sebanyak 34 peserta mengikuti kegiatan tersebut.
Peserta terdiri atas 30 nelayan dari berbagai wilayah di Kabupaten Cilacap serta empat personel dari dinas atau instansi terkait.
Program tersebut diharapkan membantu nelayan membuat keputusan yang lebih aman sebelum berangkat, mulai dari menentukan waktu dan rute pelayaran hingga memperkirakan lokasi penangkapan ikan.
Wilayah pesisir selatan Jawa, termasuk Cilacap, memiliki aktivitas perikanan yang cukup besar. Ribuan keluarga menggantungkan penghasilan dari sektor perikanan laut.
Namun, pengalaman melaut saja tidak selalu cukup untuk menghadapi perubahan kondisi cuaca dan laut. Karena itu, BMKG mendorong nelayan menjadikan informasi cuaca sebagai salah satu dasar dalam merencanakan perjalanan.
Sekretaris Utama BMKG Guswanto mengatakan SLCN merupakan program nasional BMKG yang dijalankan melalui kemitraan dengan Komisi V DPR RI.
“SLCN itu kan sebuah program nasional yang dilaksanakan oleh BMKG dengan kemitraan Komisi V. Jadi, Komisi V itu kalau kita lihat ada sekitar lima puluhan orang. Jadi, semuanya memiliki program yang namanya Sekolah Lapang, nah salah satunya adalah Sekolah Lapang Cuaca Nelayan,” kata Guswanto.
Menurutnya, SLCN merupakan kursus singkat yang membantu nelayan memahami kondisi cuaca, khususnya cuaca di laut, sekaligus memanfaatkan informasi tersebut untuk mengurangi risiko selama melaut.
“Sekolah Lapang Cuaca Nelayan itu adalah suatu sekolah ataupun kursus singkat digunakan untuk bagaimana nelayan-nelayan ini memahami terkait informasi cuaca, khususnya informasi cuaca di laut. Terus bagaimana memanfaatkannya? Terus bagaimana memitigasinya?” ujarnya.
Dalam pelatihan tersebut, BMKG mengenalkan Indonesia Weather Information for Shipping (InaWIS) sebagai salah satu perangkat informasi yang dapat dimanfaatkan nelayan.
Platform tersebut menyediakan berbagai informasi mengenai kondisi laut, termasuk potensi cuaca ekstrem, tinggi gelombang, dan arus.
“Termasuk juga BMKG di sana memberikan satu tools yang namanya InaWIS. Dalam tools InaWIS itulah ada beberapa indikator mulai cuaca ekstrem, tinggi gelombang, arus, dan sebagainya,” jelasnya.
Informasi tersebut dapat membantu nelayan menentukan rute perjalanan dengan mempertimbangkan kondisi laut.
Bahkan, InaWIS juga menyediakan informasi mengenai wilayah yang berpotensi terdapat ikan.
“Nanti itu bisa digunakan oleh para nelayan jalur mana yang harus saya lalui agar perjalanan ini selamat atau cepat sampai di tujuan. Kemudian di sana juga ada informasi di mana keberadaan ikan itu berada,” kata Guswanto.
Dengan demikian, nelayan dapat melakukan perencanaan sebelum berangkat, termasuk menentukan rute, menyiapkan kebutuhan logistik, dan memperkirakan lokasi penangkapan ikan.
“Prinsipnya InaWIS ini membantu para nelayan bagaimana merencanakan nelayan melaut dan bagaimana menangkap ikannya dan bagaimana mereka kembali. Itu kira-kira. Sehingga harapannya terakhir adalah ikan itu bisa meningkat ya pulang dengan selamat,” imbuhnya.
Selain mengenalkan teknologi informasi cuaca, BMKG mengingatkan nelayan Cilacap untuk mewaspadai kondisi laut pada musim kemarau.
Saat ini Indonesia berada pada periode angin monsun timur atau monsun Australia. Angin tersebut bergerak dari Australia menuju Asia dengan melewati wilayah Indonesia.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan nelayan ketika menentukan waktu dan rute pelayaran.
“Kondisi saat ini kan saat ini itu adalah musim kemarau ya. Musim kemarau di mana angin monsunnya adalah monsun Australia, angin monsun timur, di mana udara bertiup angin bertiup dari Australia menuju Asia melewati Indonesia. Tentunya untuk tantangannya saat ini itu lebih tinggi,” ujarnya.
Guswanto mengatakan prakiraan BMKG menunjukkan tinggi gelombang di wilayah Samudera Hindia bagian selatan Jawa saat ini dapat mencapai lebih dari 2,5 meter.
“Kalau kita lihat saat ini beberapa prakiraan BMKG itu tinggi gelombang untuk wilayah samudera ini ya sebelah selatan itu sekitar lebih tinggi dari 2,5 m lebih lah. Kalau kita warnanya karena tadi kuning ya. Nah, itu tantangannya lebih,” jelasnya.
Selain tinggi gelombang, kecepatan angin juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
“Nah, dilihat lagi, kalau kecepatannya angin semakin tinggi biasanya gelombang semakin tinggi juga, maka harus berhati-hati. Nah, itu untuk bulan-bulan saat ini. Jadi, tolong tetap waspada terhadap tinggi gelombang dan kecepatan angin,” tegas Guswanto.
Salah satu keunggulan InaWIS adalah informasi dapat diakses melalui smartphone. Nelayan membutuhkan perangkat yang terhubung dengan jaringan komunikasi untuk mengakses informasi tersebut.
BMKG meminta nelayan membiasakan diri mengecek kondisi cuaca dan laut sebelum berangkat melaut.
“Pesan kami kepada para nelayan yang pertama rencanakan untuk melaut itu dengan baik dengan membaca InaWIS tadi. Kedua, persiapkan logistik maupun apa ya? obat-obatan dan sebagainya yang dibutuhkan,” ujarnya.
Nelayan juga diminta memilih rute dengan kondisi gelombang yang lebih aman.
“Rencanakan jalurnya ya, di mana ikan yang dituju maka jalurnya cari supaya jalur yang dilalui itu gelombangnya tidak tinggi. Itu aja yang bisa pesankan agar tangkapannya nanti harapannya tangkapannya itu meningkat, pulang dengan selamat,” sambungnya.
Dengan kebiasaan mengecek informasi sebelum melaut, nelayan diharapkan dapat mengurangi risiko perjalanan sekaligus meningkatkan efisiensi kegiatan penangkapan ikan.
Anggota Komisi V DPR RI Wastam melalui Tenaga Ahli, Nur Fauzi, mengatakan pihaknya siap mendukung program BMKG yang berkaitan dengan keselamatan dan kesejahteraan nelayan.
“Memang Komisi V ini atau anggota DPR secara tupoksi kan membantu pemerintah dalam hal mensupport penganggaran dan lain-lainnya,” kata Nur Fauzi.
Menurutnya, dukungan anggaran dapat diberikan untuk program yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
“Dalam hal ini yang dibutuhkan BMKG untuk kepentingan masyarakat, untuk kesejahteraan masyarakat baik nelayan dan lain-lainnya, Komisi V siap mensupport,” ujarnya.
Ia juga membuka peluang penambahan kegiatan maupun perlengkapan keselamatan bagi nelayan.
“Saya kira nanti yang dibutuhkan termasuk kegiatannya, peruntukan anggota termasuk umpamanya anggota harus ditambah dengan peralatan safety atau keselamatan,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Cilacap menyambut baik pelaksanaan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan. Plt Bupati Cilacap Ammy Amalia Fatma Surya melalui Kepala Pelaksana BPBD Cilacap Taryo menilai program tersebut membantu pemerintah daerah di tengah keterbatasan anggaran.
“Karena kegiatan ini bagi kami tentunya sangat bermanfaat di sela-sela keterbatasan anggaran yang ada di pemda. Maksudnya ketika ada kolaborasi kegiatan dengan pemerintah pusat melalui BMKG ini, kami sangat berterima kasih. Dan ini juga kami mohon terus disupport terus ke depan,” kata Taryo.
Taryo menyebut jumlah nelayan di Cilacap mencapai sekitar 17 ribu orang. Menurutnya, edukasi mengenai cuaca, angin, dan arus sangat dibutuhkan untuk meningkatkan keselamatan nelayan.
“Seperti tadi disampaikan bahwa di kita juga nelayan tidak hanya sedikit ada sekitar 17 ribuan lebih ya. Kemudian jenis perikanan juga paham, sehingga kegiatan-kegiatan yang seperti ini kami sangat senang sekali,” ujarnya.
Ia berharap nelayan dapat memperoleh hasil tangkapan maksimal sekaligus kembali ke rumah dengan selamat.
“Ini sangat bermanfaat terkait dengan keselamatan juga, sudah disampaikan ketika berangkat nelayannya semuanya harus dipersiapkan, mungkin waktunya, logistiknya, peralatan lainnya. Sehingga ketika berangkat di samping hasil yang maksimal, juga pulang dengan selamat,” katanya.
Pemkab Cilacap juga berharap program sekolah lapang dapat diperluas ke sektor pertanian. Petani dinilai membutuhkan edukasi mengenai iklim dan cuaca agar dapat menentukan waktu bercocok tanam dengan lebih tepat.
“Kemudian kami juga berharap ke depan mungkin tidak hanya Sekolah Lapang Nelayan tetapi juga pertanian juga, Pak. Mungkin para petani juga perlu dibekali tentang iklim, sehingga ketika bercocok tanam pas gitu ya,” pungkas Taryo.