
PURWOKERTO, SERAYUNEWS-Sebanyak 1.200 mahasiswa baru Universitas Terbuka (UT) Purwokerto mengikuti Orientasi Studi Mahasiswa Baru dan Klinik Ujian (OSMB-KU) Semester 2026/2027 Ganjil di Aula Hotel Aston Purwokerto, Sabtu (15/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih dekat sistem pendidikan di Universitas Terbuka sekaligus mempersiapkan diri menghadapi proses pembelajaran jarak jauh.
Berbeda dengan sistem perkuliahan konvensional, pendidikan di UT menuntut mahasiswa memiliki kemandirian belajar, kemampuan mengelola waktu, serta kesiapan beradaptasi dengan berbagai metode dan teknologi pembelajaran yang tersedia.
Direktur UT Purwokerto, Dr. Prasetyarti Utami, S.Si., M.Si., atau yang akrab disapa Dr. Utami, dalam kesempatan tersebut menyampaikan materi mengenai Perguruan Tinggi di Era Revolusi, serta Mengenal Sistem Pendidikan Tinggi di Indonesia dan Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh.
Dalam paparannya, Dr. Utami menjelaskan bahwa Universitas Terbuka memiliki kedudukan yang setara dengan perguruan tinggi negeri lainnya. Perbedaan utamanya terletak pada konsep pembelajaran yang mengedepankan sistem pendidikan jarak jauh serta kemandirian mahasiswa.
“UT memiliki kedudukan yang setara dengan perguruan tinggi negeri lainnya. Perbedaannya terutama pada konsep pembelajaran yang mengedepankan sistem jarak jauh dan kemandirian mahasiswa,” ujarnya.
Menurut beliau, mahasiswa UT mendapatkan bahan ajar yang telah disiapkan untuk mendukung proses belajar secara mandiri. Dengan konsep study from anywhere, mahasiswa dapat menjalani pendidikan tanpa harus selalu hadir secara fisik di ruang kelas.
“UT hadir untuk memberikan kesempatan pendidikan tinggi yang lebih luas dan menyetarakan keberagaman masyarakat. Mahasiswa baru tidak hanya diperkenalkan dengan sistem akademik, tetapi juga dibekali pemahaman mengenai strategi belajar dan berbagai pelatihan,” ujar Dr. Utami.

Melalui OSMB-KU, mahasiswa baru juga diarahkan memahami berbagai hal yang berkaitan dengan proses perkuliahan di UT, mulai dari sistem pembelajaran, pengelolaan waktu, penggunaan layanan akademik, hingga strategi menghadapi evaluasi dan ujian.
OSMB-KU juga menghadirkan Wakil Bupati Purbalingga Dimas Prasetyahani, S.E., M.M., yang menyampaikan materi bertema “Membangun Generasi Adaptif dan Berdaya Saing: Dari Bangku Kuliah Menuju Kontribusi Nyata bagi Masyarakat.”
Dalam paparannya, Dimas mengajak mahasiswa baru untuk melihat pendidikan tinggi tidak semata-mata sebagai jalan memperoleh ijazah. Menurutnya, perguruan tinggi merupakan ruang untuk membangun kapasitas diri, memperluas wawasan, mengembangkan keterampilan, membangun jejaring, hingga mempersiapkan diri agar mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Pendidikan jangan hanya dikejar untuk mendapatkan ijazah. Yang lebih penting adalah bagaimana ilmu dan pengalaman selama kuliah bisa menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas diri dan memberi manfaat bagi lingkungan,” ujarnya.
Dimas juga menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi di tengah perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), transformasi digital, perubahan pola kerja, serta dinamika sosial yang berlangsung cepat.
Menurutnya, generasi muda perlu memiliki kombinasi pengetahuan, keterampilan, karakter, kreativitas, kemampuan berkolaborasi, serta literasi digital.
“Generasi adaptif bukan berarti mengikuti semua perubahan. Adaptif berarti mampu memahami perubahan dan memilih respons terbaik terhadap perubahan tersebut,” katanya.
Ia berharap mahasiswa UT Purwokerto dapat memanfaatkan kesempatan menempuh pendidikan tinggi dengan sebaik-baiknya, sekaligus terus mengembangkan potensi dan menghasilkan karya yang bermanfaat.
“Semoga mahasiswa Universitas Terbuka Purwokerto menjadi mahasiswa yang hebat dan berkualitas serta menjadi agen perubahan bagi dirinya sendiri, keluarga, bangsa, dan negara,” harapnya.
Selain materi mengenai sistem pendidikan dan pengembangan kapasitas mahasiswa, OSMB-KU juga menghadirkan sejumlah narasumber yang memberikan pembekalan dari berbagai bidang.
Fairuz menyampaikan materi bertema “Healthy Mind, Healthy Life: Membangun Mahasiswa yang Sehat, Tangguh, dan Produktif.” Materi tersebut memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental dan fisik selama menjalani pendidikan tinggi.
Sementara itu, Dewi Maharani Rachmaningsih, S.Hum., M.A., menyampaikan materi mengenai pembelajaran, pola kecemasan dan cara mengatasinya, serta strategi dalam menghadapi ujian.
Mahasiswa baru juga mendapatkan penjelasan mengenai prosedur perkuliahan di UT Purwokerto. Materi tersebut disampaikan Hendy Yudoko, S.P., yang membahas registrasi serta berbagai bentuk ujian yang berlaku di Universitas Terbuka.
Selanjutnya, materi mengenai UT Online, termasuk pengenalan menu-menu pada laman UT, komunikasi secara cerdas di dunia maya, pemanfaatan teknologi informasi dalam pendidikan jarak jauh, perpustakaan digital, SILAYAR, serta pengenalan aplikasi ujian disampaikan oleh Ismiantoro Aziis Shahrani, S.Kom.
Aspek keamanan dan lingkungan belajar yang aman juga menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. Ali Prayogi memberikan materi mengenai Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS). Mahasiswa diberikan pemahaman mengenai pentingnya mencegah kekerasan seksual sekaligus mengetahui langkah yang dapat dilakukan apabila menemukan atau mengalami kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan.
Sementara itu, materi mengenai kemahasiswaan disampaikan oleh Adi Setyawan, S.E., M.M. Materi tersebut mencakup berbagai informasi mengenai beasiswa, prestasi mahasiswa, organisasi kemahasiswaan (ormawa), kegiatan kemahasiswaan, serta Disporseni.
Rangkaian OSMB-KU diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan pengenalan bagi mahasiswa baru, tetapi juga menjadi bekal awal untuk menjalani proses pendidikan di UT secara mandiri.
Melalui berbagai materi yang diberikan, mahasiswa diperkenalkan dengan sistem akademik, layanan digital, strategi belajar dan ujian, pengembangan diri, kesehatan mental, keamanan di lingkungan pendidikan, hingga berbagai peluang untuk mengembangkan prestasi dan berorganisasi.
Dengan bekal tersebut, mahasiswa baru diharapkan mampu menjalani pendidikan secara mandiri, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta memiliki kompetensi dan karakter yang dibutuhkan untuk menghadapi dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari keberhasilan mahasiswa memperoleh gelar akademik, tetapi juga dari kemampuan mereka menerapkan ilmu pengetahuan untuk menghasilkan karya dan memberikan manfaat bagi masyarakat.