
SERAYUNEWS-Semarak peringatan Hari Jadi Kabupaten (HJB) Banyumas ke-455 mencapai puncaknya pada Minggu (15/2/2026) melalui prosesi Kirab Pusaka.
Di balik kemeriahan yang menyedot perhatian ribuan warga tersebut, Wakil Bupati Banyumas, Dwi Asih Lintarti, menekankan bahwa gelaran ini membawa misi yang jauh lebih mendalam daripada sekadar perayaan tahunan.
Dwi Asih Lintarti menyoroti bahwa Kirab Pusaka adalah wujud nyata upaya nguri-uri (melestarikan) tradisi leluhur. Menurutnya, iring-iringan empat pusaka kebesaran, yang terdiri Tombak Kiai Genjring, Keris Kiai Gajah Endro, Keris Kiai Nalapraja, dan Keris Kiai Sempana Bener, merupakan simbol marwah dan sejarah panjang Banyumas yang harus dijaga.
“Kirab ini bukan sebatas euforia semata. Ini adalah bentuk penghormatan kita terhadap sejarah dan upaya nguri-uri budaya agar tidak lekang oleh zaman. Kita ingin nilai-nilai luhur ini terus hidup di tengah masyarakat,” ujar Dwi Asih ditemui usai acara.
Lebih lanjut, Lintarti menekankan pentingnya aspek edukasi dalam kirab yang menempuh rute dari Pendopo Wakil Bupati menuju Pendopo Si Panji ini.
Melalui barisan barisan Suba Manggala, replika tokoh Raden Joko Kahiman, hingga foto para Bupati terdahulu, kirab ini menjadi “perpustakaan berjalan” bagi generasi muda.
Hal ini selaras dengan testimoni warga, seperti Titi dari Kelurahan Teluk, yang sengaja membawa cucunya untuk menonton agar mengenal warisan daerah sejak dini.
Titi menjelaskan, bahqa selain karena salah satu anggota keluarganya turut menjadi peserta kirab, ia juga memanfaatkan momen tersebut sebagai sarana mengenalkan budaya Banyumas kepada cucunya yang masih kecil.
Sebab, kirab pusaka bukan sekadar tontonan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran budaya bagi generasi muda agar lebih mengenal dan mencintai warisan daerahnya sejak dini.
“Saya ajak untuk nonton, biar kenal dan paham dengan budaya Banyumas sedari kecil,” kata dia.
Dwi Asih berharap, melalui visualisasi sejarah ini, anak muda Banyumas memiliki rasa kepemilikan dan kebanggaan terhadap identitas budayanya.
Selain aspek kultural, Lintarti juga melihat potensi besar kirab sebagai penggerak ekonomi kerakyatan. Sebagai event yang masuk dalam kalender wisata resmi kabupaten, Kirab Pusaka terbukti mampu menarik massa yang besar.
Kerumunan warga menjadi pasar potensial bagi pedagang kecil dan pelaku UMKM di sepanjang rute kirab. Meningkatnya kunjungan wisatawan diharapkan berdampak pada sektor jasa, kuliner, dan kerajinan khas Banyumas.
“Kegiatan-kegiatan budaya semacam ini bisa memberikan multiplier effect,” ujarnya.
Senada dengan semangat Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, yang mengusung tema “Bergerak Bersama Mewujudkan Banyumas PAS (Produktif, Adil, dan Sejahtera)”, Dwi Asih berharap kolaborasi antara pelestarian budaya dan penguatan ekonomi dapat berjalan beriringan.
Dengan kondisi masyarakat yang guyub rukun, Pemkab Banyumas optimistis bahwa stabilitas daerah akan menarik minat investor sekaligus menyejahterakan masyarakat lokal melalui sektor pariwisata berbasis budaya.