
SERAYUNEWS-Sejumlah relawan bersama dengan warga Dusun Bandingan, Desa Kalibombong, Kabupaten Banjarnegara, melakukan pengurasan kubangan air yang berada di area mahkota tanah gerak, Selasa (6/1/2026). Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mitigasi untuk menekan potensi kerusakan lanjutan akibat pergerakan tanah yang masih berlangsung.
Pengurasan difokuskan pada kubangan air yang berada tepat di zona tanah bergerak. Air yang menggenang di lokasi tersebut dinilai dapat mempercepat pergerakan massa tanah dan memperluas area longsoran.
Ketua Forum Destana Banjarnegara Wanidi mengatakan, keberadaan air di zona retakan dapat semakin memperparah kondisi tanah. Oleh karena itu, relawan bersama warga sepakat melakukan pengurasan secara bertahap.
“Air yang menggenang sangat berisiko mempercepat pergerakan tanah. Hari ini kami menguras satu kubangan, dan masih ada satu lagi yang rencananya akan kami kuras besok,” katanya.
Menurutnya, hingga saat ini pergerakan tanah di Dusun Bandingan masih terjadi, meskipun dengan intensitas yang lebih lambat dibandingkan hari-hari sebelumnya. Kondisi tersebut membuat warga tetap waspada, meski tidak lagi panik seperti saat awal kejadian.
Sementara itu, anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) Desa Kalibombong, Jikun, menyebutkan, selain pengurasan kubangan, relawan juga melakukan penyisiran di bagian puncak atau mahkota longsoran.
“Hasil penyisiran menemukan adanya aliran air yang masuk langsung ke bidang longsor. Kami berencana membuat saluran pengalihan agar air hujan tidak masuk ke badan longsoran,” katanya.
Fenomena tanah gerak di Dusun Bandingan sebelumnya telah menyebabkan kerusakan lahan pertanian warga seluas sekitar 1,5 hektare pada Jumat (2/1/2026). Selain itu, jalan usaha tani (JUT) di lokasi terdampak mengalami kerusakan berat hingga terputus.
Material tanah yang terus bergerak bahkan sebagian telah terbawa dan masuk ke Sungai Kecepit yang berada di bawah area longsoran, sehingga dikhawatirkan memicu dampak lanjutan, terutama saat curah hujan tinggi.
Kepala Desa Kalibombong, Wanti, mengungkapkan bahwa pergerakan tanah terjadi secara bertahap sebelum akhirnya menimbulkan kerusakan signifikan.
“Tanah mulai bergerak sejak Rabu dan sampai hari ini masih bergerak meski perlahan,” kata Wanti.
Ia menjelaskan, mahkota longsoran membentuk pola menyerupai tapal kuda, dengan lebar retakan mencapai sekitar satu meter dan panjang kurang lebih 60 meter. Kondisi tersebut mengancam permukiman warga di RT 1 RW 4 Dusun Bandingan.
“Setidaknya ada sembilan rumah dengan total 31 jiwa yang berada di zona rawan terdampak pergerakan tanah,” katanya.
Pemerintah desa bersama relawan terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memantau perkembangan dan menyiapkan langkah antisipasi jika pergerakan tanah kembali meningkat.