
BANYUMAS, SERAYUNEWS-Di Desa Jipang Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas, malam-malam belakangan ini terasa berbeda. Deretan lampu warna-warni menyala hingga larut, disusul suara palu dan obrolan riang warga yang tak kunjung sepi.
Kemeriahan di Jipang itu adalah upaya warga untuk menyambut hari ulang tahun ke-81 kemerdekaan Republik Indonesia.
Salah satu yang mencolok dari gemerlap Agustusan di Desa Jipang adalah menara raksasa hasil tangan-tangan warga yang kini jadi buah bibir di linimasa, viral di TikTok, bahkan sempat disorot kamera televisi nasional. Menara bambu dengan lampu gemerlapan di malam hari itu adalah karya warga RT 2 RW 3.
Butuh waktu kurang lebih tiga pekan sejak Juli lalu untuk menyelesaikan menara yang disebut banyak orang sebagai miniatur Eiffel itu. Tasam, ketua RT 2 RW 3 mengatakan bahwa menara setinggi 9 meter itu dibuat dari hasil gotong royong warga.
Saat pembangunan menara akan tuntas, warga diberi tahu lewat pesan singkat di grup RT. Dan malam itu, seperti yang sudah-sudah, warga datang tanpa diminta. Sebagian bahkan bertahan hingga menjelang subuh.
Di gardu bambu RT 2 RW 3, Selasa (11/8/2026) Tasam bercerita. Dia mengatakan, untuk membangun menara itu, semua mengalir dari kesadaran warga sendiri. Ada yang menyumbang Rp300 ribu, Rp500 ribu, bahkan tanpa diminta ada yang memberi hingga Rp400 ribu. Hingga akhirnya terkumpul kisaran Rp10 juta.

Salah satu sumber uang lain dari pembangunan menara itu adalah dari istri Tasam. Istrinya, yang berjualan di pasar, iseng mengumpulkan botol-botol bekas minuman probiotik dari para pembeli untuk kemudian dijual. Awalnya hanya coba-coba. Ternyata hasilnya lumayan, dan kebiasaan kecil itu terus berlanjut hingga kini, menjadi salah satu sumber napas bagi kegiatan warga.
Terharu ketika Jadi Sorotan Televisi
Ada satu momen yang membuat Tasam, untuk pertama kalinya, tak bisa menyembunyikan haru. Ketika menara buatan warganya muncul di layar Metro TV, sesuatu di dalam dirinya pecah.
“Seumur hidup saya jarang mengluarkan air mata. Ketika berita ini muncul tiba-tiba, saya meneteskan air mata mba,” katanya pelan. Ia bukan satu-satunya yang menangis malam itu beberapa warganya pun ikut terharu, menyadari bahwa kerja keras diam-diam mereka selama ini akhirnya dilihat oleh banyak mata.
Menara itu mungkin hanya berdiri untuk beberapa pekan, sebelum akhirnya dibongkar seperti dekorasi lain pada umumnya. Tapi bagi Tasam dan warganya, yang tertinggal bukan sekadar rangka besi dan lampu melainkan bukti bahwa di tengah dunia yang kian sibuk sendiri-sendiri, sebuah kampung kecil masih bisa berdiri tegak karena satu hal sederhana: kebersamaan yang dijaga, malam demi malam, oleh tangan yang tak pernah lelah.
Satu Menara, Ratusan Tangan
Tasam, menegaskan bahwa berdirinya menara ikonik yang belakangan viral di media sosial tidak lepas dari kekuatan kolektif warganya. “Tanpa kegotongroyongan, tanpa kesatuan warga, tidak mungkin menara ini berdiri,” tegasnya.
Setiap malam menjelang perayaan, warga mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu, hingga anak muda berkumpul untuk latihan baris-berbaris, menyiapkan properti karnaval, hingga memasang dekorasi lampu. Partisipasi kerja bakti di RT ini diklaim mencapai hampir 99%.
Aktif Libatkan Pemuda
Tasam juga menceritakan bagaimaa dia aktif melibatkan generasi muda dengan memberi mereka peran-peran utama dalam setiap kegiatan. Hal itu sebagai upaya menumbuhkan mental dan keberanian sejak dini sekaligus menyiapkan estafet kepemimpinan gotong royong di masa depan.
Ia juga menolak keras wacana penggunaan properti sewaan atau instan dalam perlombaan antar-RT tingkat desa, dengan alasan hal itu akan mematikan kreativitas warga. “Alasan saya biar warga punya kreativitas. Yang tadinya nggak bisa bikin, jadi bisa bikin,” ujarnya, sembari berharap semangat kolektif semacam ini tidak hanya menjadi seremoni tahunan, melainkan budaya yang terus diwariskan lintas generasi. (Amelia Faridha Zhariif)