
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Kesepakatan kelas menjadi salah satu bagian penting dalam menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan kondusif di lingkungan sekolah.
Pada awal tahun ajaran baru maupun saat pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), guru biasanya mengajak seluruh siswa menyusun aturan yang akan dipatuhi bersama selama proses pembelajaran berlangsung.
Berbeda dengan peraturan sekolah yang ditetapkan oleh pihak sekolah, kesepakatan kelas disusun melalui diskusi antara guru dan peserta didik.
Cara ini membuat siswa merasa ikut memiliki aturan tersebut sehingga lebih terdorong untuk menaati setiap poin yang telah disepakati.
Untuk siswa Sekolah Dasar (SD), isi kesepakatan kelas sebaiknya dibuat sederhana, menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, dan berkaitan langsung dengan kebiasaan sehari-hari di sekolah.
Selain melatih kedisiplinan, kesepakatan kelas juga membantu membangun sikap tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, hingga rasa saling menghormati antarteman.
Dengan adanya aturan yang disepakati bersama, guru juga lebih mudah mengingatkan siswa ketika terjadi pelanggaran karena seluruh aturan telah dipahami sejak awal.
Dalam menyusun kesepakatan kelas, jumlah aturan tidak perlu terlalu banyak. Pilih poin-poin yang benar-benar penting agar siswa lebih mudah mengingat dan menerapkannya setiap hari.
Berikut contoh kesepakatan kelas untuk jenjang SD yang dapat dijadikan referensi.
Selain menyusun aturan, guru juga dapat menjelaskan konsekuensi apabila ada siswa yang melanggar kesepakatan. Konsekuensi tersebut sebaiknya bersifat mendidik, bukan hukuman yang membuat anak merasa takut.
Misalnya, siswa yang membuang sampah sembarangan diminta membersihkan area kelas, siswa yang merusak fasilitas diminta ikut memperbaiki atau bertanggung jawab sesuai kesalahannya, sedangkan siswa yang berkata kurang sopan diarahkan untuk meminta maaf kepada pihak yang bersangkutan.
Pendekatan seperti ini bertujuan menanamkan rasa tanggung jawab sekaligus memberikan pembelajaran mengenai akibat dari setiap tindakan.
Penyusunan kesepakatan kelas akan lebih efektif apabila melibatkan seluruh siswa. Guru dapat memulai dengan mengajak anak-anak berdiskusi mengenai suasana kelas seperti apa yang mereka inginkan agar kegiatan belajar terasa menyenangkan.
Selanjutnya, guru dapat meminta siswa menyampaikan pendapat mengenai kebiasaan baik yang perlu diterapkan setiap hari. Semua usulan kemudian ditulis di papan tulis sebelum dipilih bersama mana yang paling penting.
Setelah aturan disepakati, guru dapat menyusun kalimat yang sederhana dan mudah dipahami anak-anak. Jumlah aturan sebaiknya tidak terlalu banyak agar siswa mampu mengingat seluruh poin tersebut.
Langkah berikutnya adalah menuliskan hasil kesepakatan pada sebuah poster atau kertas berukuran besar. Agar lebih menarik, siswa dapat diajak menghias poster menggunakan gambar, warna, atau hiasan sederhana. Poster tersebut kemudian dipasang di dalam kelas sehingga selalu terlihat oleh seluruh siswa.
Sebagai bentuk komitmen, guru dan siswa juga dapat menandatangani poster kesepakatan kelas. Cara ini memberikan kesan bahwa seluruh warga kelas memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjalankan aturan yang telah dibuat.
Guru juga perlu melakukan evaluasi secara berkala. Jika terdapat aturan yang sudah tidak sesuai atau ada kebutuhan baru di dalam kelas, kesepakatan dapat diperbarui melalui diskusi bersama.
Dengan melibatkan siswa sejak awal, kesepakatan kelas tidak hanya menjadi daftar aturan yang ditempel di dinding, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran karakter.
Anak-anak belajar menghargai pendapat orang lain, memahami pentingnya tanggung jawab, serta membiasakan diri menjaga ketertiban dalam kehidupan sehari-hari.
Kebiasaan positif yang dibangun sejak bangku Sekolah Dasar diharapkan dapat menjadi bekal saat mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya maupun dalam kehidupan bermasyarakat.***