
SERAYUNEWS- Setiap kali Tahun Baru Islam tiba, masyarakat Jawa menyambut bulan Suro dengan beragam tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.
Mulai dari tirakat, ziarah makam leluhur, kirab budaya, hingga doa bersama menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari peringatan malam 1 Suro.
Di tengah berbagai ritual tersebut, muncul pertanyaan yang terus menarik perhatian para peneliti sejarah dan budaya: apakah tradisi Suro memiliki keterkaitan dengan Asyura dalam sejarah Islam?
Guru Besar Sejarah Kebudayaan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Prof. Kholid Mawardi, menjelaskan bahwa terdapat hubungan historis dan linguistik yang menarik antara istilah “Suro” dan “Asyura”.
Secara etimologis, kata Suro kemungkinan berasal dari Asyura, yakni hari kesepuluh bulan Muharam dalam kalender Hijriah.
Dalam ajaran Islam, Asyura merupakan hari yang memiliki keutamaan tersendiri karena Nabi Muhammad SAW menganjurkan umat Islam melaksanakan puasa sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.
Namun, perjalanan sejarah Muharam tidak hanya menyimpan kisah spiritual. Bulan ini juga mencatat salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam, yaitu tragedi Karbala.
Tanggal 10 Muharam tahun 61 Hijriah menjadi saksi gugurnya Sayyidina Husain bin Ali, cucu Rasulullah SAW, dalam peristiwa Karbala yang terjadi di wilayah Irak saat ini.
Peristiwa tersebut kemudian dikenang sebagai simbol perjuangan melawan ketidakadilan, keberanian mempertahankan kebenaran, dan pengorbanan demi nilai moral.
Di berbagai kawasan dunia Islam, khususnya yang memiliki tradisi Syiah yang kuat, Muharam diperingati sebagai bulan duka dan refleksi atas perjuangan Husain.
Melalui jalur perdagangan, dakwah, migrasi, dan pertukaran budaya, memori Karbala menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan dalam tradisi Tabot di Bengkulu dan Tabuik di Pariaman, Sumatera Barat, yang secara eksplisit mengenang tragedi Karbala.
Meski memiliki kemungkinan akar sejarah yang sama, tradisi Suro di Jawa berkembang dalam bentuk yang berbeda.
Masyarakat Jawa pada umumnya tidak menjadikan kisah Karbala sebagai pusat ritual malam 1 Suro. Narasi tentang peperangan Husain tidak mendominasi berbagai kegiatan yang dilakukan selama bulan tersebut.
Sebaliknya, yang berkembang justru praktik-praktik spiritual seperti tirakat, laku prihatin, pengendalian hawa nafsu, meditasi, ziarah makam, dan refleksi diri.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa tidak sekadar mengadopsi tradisi Islam secara literal, melainkan melakukan proses adaptasi budaya yang menghasilkan bentuk ekspresi religius yang khas.
Dalam kajian antropologi agama, fenomena tersebut dapat dipahami melalui pemikiran antropolog terkenal, Clifford Geertz.
Geertz memandang agama bukan hanya kumpulan doktrin atau ajaran normatif, melainkan sistem simbol yang memberikan makna dalam kehidupan manusia.
Melalui perspektif ini, yang menjadi penting bukanlah apakah masyarakat Jawa masih mengingat secara rinci peristiwa Karbala, tetapi bagaimana mereka memaknai kesakralan bulan Muharam dalam kehidupan sehari-hari.
Muharam kemudian diterjemahkan ke dalam simbol budaya Jawa sebagai Suro. Kesakralan bulan tersebut diwujudkan melalui berbagai praktik spiritual seperti doa bersama, tirakat, ziarah, dan laku prihatin.
Akibatnya, Suro berkembang menjadi simbol pengendalian diri, kebijaksanaan hidup, dan upaya mendekatkan diri kepada Tuhan.
Transformasi Muharam menjadi Suro semakin kuat ketika Sultan Agung dari Mataram melakukan reformasi kalender pada abad ke-17.
Saat itu, Sultan Agung menyelaraskan sistem penanggalan Jawa dengan kalender Hijriah tanpa menghilangkan unsur-unsur budaya lokal yang telah hidup di tengah masyarakat.
Langkah tersebut bukan sekadar perubahan administratif, tetapi juga strategi kebudayaan yang mempertemukan nilai-nilai Islam dengan tradisi Jawa.
Dari proses akulturasi inilah lahir identitas budaya yang unik. Muharam berubah menjadi Suro, namun tetap membawa semangat spiritual Islam yang melekat di dalamnya.
Karena itu, tradisi Suro tidak dapat disebut sepenuhnya sebagai tradisi Arab maupun murni tradisi Jawa. Ia merupakan hasil perjumpaan panjang antara agama dan budaya yang berlangsung selama berabad-abad.
Makna Suro juga dapat dipahami melalui teori liminalitas yang dikemukakan antropolog Victor Turner.
Menurut Turner, setiap masyarakat memiliki ritual yang menandai fase peralihan dari satu kondisi menuju kondisi lainnya. Masa tersebut disebut sebagai fase liminal atau masa ambang.
Dalam konteks budaya Jawa, malam 1 Suro berada di antara tahun yang telah berlalu dan tahun yang baru akan dimulai.
Karena itu, masyarakat merasa perlu melakukan berbagai ritual untuk membersihkan diri secara spiritual, mengevaluasi perjalanan hidup, serta menata kembali hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan sekitar.
Tirakat, doa, ziarah, hingga berbagai bentuk refleksi menjadi sarana untuk memasuki tahun baru dengan kesadaran yang lebih matang.
Pandangan yang menganggap Suro hanya sebagai bulan penuh mistik sebenarnya terlalu menyederhanakan makna yang terkandung di dalamnya.
Begitu pula anggapan bahwa Suro identik dengan tradisi berkabung Karbala. Kedua pandangan tersebut belum mampu menjelaskan kompleksitas sejarah yang melatarbelakangi lahirnya tradisi Suro di Jawa.
Tradisi ini merupakan hasil dialog panjang antara memori Islam tentang Muharam, kemungkinan pengaruh Asyura, dan spiritualitas masyarakat Jawa yang berkembang dari generasi ke generasi.
Karena itu, Suro lebih tepat dipahami sebagai ruang refleksi budaya yang mengajarkan manusia untuk mengendalikan diri, memperbaiki kehidupan, dan menata arah masa depan.
Terlepas dari perdebatan mengenai asal-usulnya, terdapat pesan moral yang mempertemukan Karbala dan tradisi Suro.
Karbala mengajarkan keberanian untuk mempertahankan nilai dan kebenaran meskipun harus menghadapi risiko besar.
Sementara itu, tradisi Suro mengajarkan pentingnya introspeksi, pengendalian ego, dan kesediaan untuk terus memperbaiki diri.
Keduanya sama-sama mengajak manusia untuk melakukan refleksi mendalam sebelum melangkah menuju masa depan.
Saat malam 1 Suro dan Tahun Baru Hijriah kembali tiba, warisan paling berharga yang sepatutnya dijaga bukanlah rasa takut terhadap bulan yang dianggap keramat, melainkan semangat perenungan dan perubahan diri.
Sebab baik dalam memori Karbala maupun dalam laku prihatin masyarakat Jawa, terdapat pesan yang sama: perubahan besar selalu berawal dari keberanian manusia untuk bercermin pada dirinya sendiri.
Di titik itulah Muharam dan Suro bertemu, bukan sekadar sebagai penanggalan, tetapi sebagai ruang budaya dan spiritual yang mengajarkan manusia untuk mengenali diri, memperbaiki orientasi hidup, dan melangkah menuju masa depan dengan kesadaran yang lebih bijaksana.