
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS — Dieng Culture Festival (DCF) ke-16 dimulai hari ini, perhelatan budaya dan musik yang berlangsung di dataran tinggi Dieng dimulai hari ini, ribuan wisatawan dapat menikmati rangkaian acara dengan aman, nyaman, dan tertib.
Salah satu persiapan akhir adalah penataan kawasan festival menjadi tiga panggung utama dengan karakter acara yang berbeda. Konsep tersebut tidak hanya ditujukan untuk menyajikan beragam hiburan, tetapi juga menjadi strategi panitia dalam menyebar konsentrasi pengunjung sekaligus menghidupkan aktivitas ekonomi kreatif masyarakat lokal.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa sekaligus Koordinator Pelaksana DCF, Alif Faozi, mengatakan seluruh persiapan teknis sejauh ini berjalan sesuai rencana.
“Seluruh tahapan teknis berjalan lancar sesuai rencana,” kata Alif, Jumat (28/8/2026).
Panggung pertama berada di Kompleks Candi Arjuna. Area ini diposisikan sebagai ruang budaya dan ruang terbuka yang dapat dinikmati masyarakat secara gratis.
Berbagai kegiatan akan digelar di kawasan tersebut, mulai dari aksi bersih lingkungan, pertunjukan seni tradisi, pameran UMKM Banjarnegara, festival domba, hingga sarasehan Kongkow Budaya.
Kegiatan tersebut juga akan menghadirkan Kiai Kanjeng dan Sabrang Mowo Damar Panuluh atau yang dikenal sebagai Noe Letto, sehingga panggung Candi Arjuna tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga ruang untuk berdiskusi dan menikmati kekayaan budaya.
Beranjak ke Area Gatotkaca, panitia menyiapkannya sebagai zona kreatif dan bisnis. Sejumlah agenda yang dijadwalkan di lokasi ini antara lain Festival Kopi Nusantara, forum bisnis, seminar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) bersama Kementerian Hukum dan HAM, serta Jazz Atas Awan Showcase.
Panggung tersebut juga akan menjadi ruang tampil bagi sejumlah musisi berbakat dari Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sementara Area Pandawa menjadi panggung utama untuk pertunjukan musik. Musisi papan atas nasional akan mengisi panggung ini dan diproyeksikan menjadi salah satu magnet utama bagi wisatawan, khususnya kalangan anak muda.
Pembagian tiga zona tersebut membuat DCF 2026 tidak hanya bertumpu pada satu titik keramaian. Pengunjung memiliki pilihan aktivitas sesuai minat, mulai dari menikmati tradisi, mengikuti kegiatan kreatif dan bisnis, hingga menyaksikan pertunjukan musik.
Selain panggung, persoalan lalu lintas dan parkir menjadi perhatian penting. Lonjakan kendaraan diperkirakan terjadi selama DCF berlangsung, sehingga panitia bersama masyarakat lokal menyiapkan 41 titik kantong parkir di sejumlah lokasi sekitar kawasan Dieng.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Banjarnegara, Yusuf Winarsono, melalui Plt Kepala Bidang Lalu Lintas, Margono, mengatakan puluhan titik tersebut disiapkan oleh panitia, sementara Dishub Banjarnegara secara khusus mengelola tiga lokasi.
“Dari panitia ada 41 titik parkir. Kalau kami dari Dishub mengelola tiga titik,” ujar Margono.
Sebagian besar kantong parkir dikelola oleh masyarakat. Lokasinya memanfaatkan lahan warga, warung, maupun area usaha yang berada di sekitar lokasi festival. Panitia juga menyediakan karcis sebagai bukti pembayaran parkir. Karena itu, pengunjung diimbau memastikan memperoleh karcis setelah menggunakan fasilitas parkir.
“Kami mengimbau masyarakat untuk meminta bukti karcis parkir kepada petugas,” kata Margono.
Kantong parkir yang disiapkan tersebar di berbagai lokasi. Beberapa di antaranya berada di fasilitas publik, destinasi wisata, dan rest area seperti Shuttle Aswatama, Area Parkir Candi Bima, Telaga Warna 1 dan 2, Museum Kailasa 1, 2 dan 3, Taman Syailendra, Surya Yudha Rest Area (SYRA), Rest Area Dieng Wetan, hingga Basecamp Bukit Pangonan.
Kapasitas parkir juga diperkuat dengan pemanfaatan lapangan terbuka, di antaranya Lapangan Geodipa 1 dan 2, Lapangan Rikuwut Utara dan Selatan, serta Lapangan Belakang Sate Sang Aji. Khusus kendaraan roda dua, tersedia titik parkir tersendiri di Lapangan Utara Simpang 3 di samping Tani Jiwo.
Sejumlah halaman sekolah, lembaga perbankan, dan tempat ibadah juga dimanfaatkan sebagai kantong parkir. Lokasi tersebut meliputi halaman SDN 1 Dieng Kulon, SDN 2 Dieng Kulon, BRI Unit Dieng, Ex-BNI Dieng, Mushola Ashofiyah, dan Masjid Jami Baiturrohman Dieng Wetan.
Tidak hanya itu, sejumlah tempat kuliner, pusat oleh-oleh, hingga penginapan milik warga turut mendukung penyediaan area parkir. Di antaranya Dieng Food Court, Purasaba Coffee Shop, Mikroba Kedai Kopi, Red Paprika Dieng, Kedai Mie Ongklok Dieng Kulon, Bebek & Ayam Kampung Mas Budi, Bakso Kita, Kalingga Oleh-Oleh, Platinum Oleh-Oleh, Pusat Oleh-Oleh Saerah, Tiga Mahkota, Homestay Camelia, Sare House, hingga sejumlah halaman rumah warga.
Margono menjelaskan, pengunjung tidak perlu khawatir apabila kantong parkir yang tersedia di sekitar lokasi utama sudah penuh. Masih terdapat ruas jalan dari Rest Area Geo Dipa ke arah bawah yang dapat dimanfaatkan sebagai lokasi parkir tambahan. Ruas tersebut diperkirakan mampu menampung lebih dari 200 kendaraan.
“Kalau titik-titik parkir sudah penuh, masih ada satu ruas jalan yang bisa digunakan untuk parkir, yakni dari Rest Area Geo Dipa ke bawah,” jelasnya.
Dengan pola parkir yang tersebar, pengaturan tersebut diharapkan dapat mengurangi penumpukan kendaraan pada satu lokasi sekaligus membantu kelancaran arus lalu lintas selama festival berlangsung.
Dengan kesiapan tiga panggung dan puluhan kantong parkir, DCF 2026 diproyeksikan menjadi perhelatan yang tidak hanya menawarkan hiburan. Pembagian zona budaya, kreatif, bisnis, dan musik menunjukkan bahwa festival ini juga menjadi ruang pertemuan antara tradisi, pelaku ekonomi kreatif, wisatawan, seniman, dan masyarakat lokal.
Bagi warga Dieng dan Banjarnegara, derasnya arus wisatawan juga menjadi peluang untuk menggerakkan sektor kuliner, oleh-oleh, transportasi, penginapan, hingga usaha kecil lainnya.
Panitia berharap seluruh persiapan tersebut mampu membuat pelaksanaan DCF ke-16 berlangsung aman, tertib, dan nyaman bagi wisatawan sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
DCF 2026 dijadwalkan berlangsung pada 28–30 Agustus 2026 di kawasan Dieng, Banjarnegara, dengan mengusung semangat keberagaman budaya, kreativitas, dan kebersamaan.