
WONOSOBO, SERAYUNEWS– Fenomena Embun Upas kembali menyelimuti Dataran Tinggi Dieng pada musim kemarau 2026. Hamparan rerumputan dan tanaman yang tertutup kristal es menghadirkan panorama bak negeri bersalju dan menjadi magnet bagi wisatawan dari berbagai daerah.
Namun, di balik keindahan yang ramai diburu para pemburu foto dan pencinta alam, tersimpan kisah lain yang tidak kalah besar. Bagi para petani, Embun Upas justru menjadi ancaman serius karena mampu merusak tanaman hingga menyebabkan kerugian ekonomi.
Fenomena yang hanya berlangsung beberapa jam pada pagi hari itu memperlihatkan dua sisi yang sangat berbeda. Di satu sisi menjadi berkah bagi sektor pariwisata, tetapi di sisi lain menjadi ujian berat bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari hasil pertanian.
Melansir akun Instagram Teguh Fajar Santosa yang merupakan peraih medali Pemuda Pelopor Bidang Pangan Nasional dan sejumlah sumber, berikut ulasannya:
Setiap musim kemarau, terutama pada Juli hingga Agustus, Dieng selalu dipadati wisatawan yang ingin menyaksikan fenomena Embun Upas secara langsung.
Lapisan es tipis yang menempel di rumput, daun, hingga pagar tanaman menciptakan pemandangan unik yang jarang ditemukan di wilayah tropis.
Tak sedikit wisatawan rela berangkat sejak dini hari agar dapat menikmati momen ketika embun masih membeku sebelum perlahan mencair terkena sinar matahari.
Fenomena inilah yang membuat Embun Upas kerap dijuluki sebagai “salju tropis”, meskipun secara ilmiah berbeda dengan salju yang terbentuk dari presipitasi di atmosfer.
Keindahan tersebut juga mendorong meningkatnya kunjungan wisata ke Dieng selama musim kemarau, sehingga memberikan dampak positif bagi pelaku usaha pariwisata, mulai dari pengelola homestay, pemandu wisata, pelaku UMKM, hingga pedagang lokal.
Berbeda dengan wisatawan yang menikmati keindahan alam, para petani justru harus menghadapi kecemasan setiap kali suhu udara turun hingga mendekati atau bahkan di bawah nol derajat Celsius.
Embun yang membeku dapat merusak jaringan tanaman hortikultura seperti kentang, kubis, daun bawang, dan berbagai jenis sayuran dataran tinggi lainnya.
Daun tanaman yang semula hijau berubah kecokelatan, layu, kemudian mengering akibat kristal es yang merusak sel-sel tanaman.
Jika embun beku terjadi dalam intensitas tinggi dan berlangsung beberapa hari berturut-turut, risiko gagal panen pun semakin besar.
Kerusakan tersebut tentu berdampak langsung terhadap pendapatan petani yang sebagian besar menggantungkan ekonomi keluarga dari hasil panen.
Unggahan mengenai Embun Upas di media sosial menuai banyak respons dari masyarakat. Sebagian besar warganet mengaku kagum dengan keindahan fenomena tersebut dan berharap dapat berkunjung ke Dieng untuk menyaksikannya secara langsung.
Namun, tidak sedikit pula yang menyampaikan keprihatinan terhadap nasib petani. Salah satu komentar menyebutkan bahwa fenomena ini menghadirkan dua sisi kehidupan yang berbeda.
“Sebagian orang berbondong-bondong ingin menikmati fenomena alam seperti ini. Sebagian orang lagi, yaitu para petani, justru menderita kerugian besar.”
Komentar lainnya menyebut Embun Upas sebagai “berkah bagi wisata, tetapi musibah bagi petani”, menggambarkan kontras dampak yang ditimbulkan oleh fenomena alam tersebut.
Ada pula warganet yang berharap para petani mendapat rezeki pengganti atas kerusakan tanaman yang dialami akibat suhu dingin ekstrem.
Secara meteorologi, Embun Upas merupakan fenomena frost atau embun beku yang terjadi ketika suhu permukaan turun hingga mencapai titik beku.
Fenomena ini umumnya muncul saat musim kemarau karena langit cerah tanpa tutupan awan membuat panas bumi mudah terlepas ke atmosfer pada malam hari.
Di kawasan pegunungan seperti Dieng yang berada di atas 2.000 meter di atas permukaan laut, kondisi tersebut menyebabkan embun yang terbentuk pada dedaunan membeku menjadi kristal es. Fenomena ini lazim terjadi pada Juni hingga September dengan puncaknya pada Juli dan Agustus.
Fenomena Embun Upas memang menjadi salah satu ikon wisata Dieng pada musim kemarau. Namun, wisatawan diharapkan tidak hanya menikmati keindahannya, tetapi juga memahami dampak yang dirasakan masyarakat setempat, khususnya para petani.
Pengunjung dapat memberikan kontribusi positif dengan membeli hasil pertanian maupun produk UMKM lokal sebagai bentuk dukungan terhadap perekonomian masyarakat Dieng.
Selain itu, wisatawan juga diimbau menjaga kebersihan kawasan wisata, tidak menginjak lahan pertanian, serta menghormati aktivitas petani yang sedang bekerja.
Fenomena Embun Upas menjadi pengingat bahwa setiap keindahan alam sering kali menyimpan cerita yang berbeda bagi setiap orang. Bagi wisatawan, embun beku adalah pengalaman langka yang menghadirkan panorama menakjubkan.
Namun bagi petani, fenomena yang sama dapat menjadi ancaman terhadap hasil panen dan keberlangsungan mata pencaharian mereka. Karena itu, menikmati keindahan Embun Upas sebaiknya juga diiringi dengan empati kepada masyarakat yang hidup berdampingan dengan fenomena alam tersebut setiap tahunnya.