
SERAYUNEWS – Keterlibatan komunitas seni lokal mewarnai proses produksi film Landasan yang tengah digarap di wilayah Banyumas. Sanggar Seni Samudra, komunitas teater asal Purwokerto, menerjunkan puluhan anggotanya untuk terlibat langsung dalam film tersebut.
Di tengah aktivitas syuting dan arahan sutradara, kehadiran komunitas ini menjadi salah satu kekuatan utama produksi. Lebih dari 20 anggota Sanggar Seni Samudra terlibat, baik sebagai pemeran utama maupun figuran yang menghidupkan latar cerita.
Pembina Sanggar Seni Samudra, Yoga Bagus Wicaksana, mengatakan keterlibatan anggotanya dalam film tersebut cukup dominan. Sekitar 80 persen anggota sanggar ikut ambil bagian dalam proses produksi.
“Kalau dihitung, hampir 80 persen anggota Sanggar Samudra ikut terlibat. Totalnya mungkin ada sekitar 20 orang lebih. Namun yang memegang peran cukup sentral ada sekitar enam orang,” kata Yoga.
Beberapa anggota yang tampil dalam film Landasan antara lain Setyo yang memerankan tokoh Pak Sabar, kemudian Jayeng dan Yudi yang berperan sebagai warga.
Yoga sendiri turut tampil sebagai perangkat desa, sementara tokoh masyarakat lainnya diperankan oleh Tarno dan Pak Edhon sebagai Parno.
“Mas Setyo memerankan Pak Sabar, Mas Jayeng dan Mas Yudi sebagai warga, kemudian saya sendiri memerankan perangkat desa. Ada juga Pak edhon sebagai Parno,” jelasnya.
Dominasi Sanggar Seni Samudra dalam film Landasan bukan terjadi secara kebetulan. Menurut Yoga, disiplin latihan teater yang rutin membuat para anggota sanggar memiliki kemampuan akting yang terorganisir.
Hal tersebut menjadi salah satu alasan tim produksi film memilih mereka sebagai aktor tambahan maupun figuran.
“Untuk sementara di Purwokerto yang memiliki kapasitas latihan rutin drama dan kemampuan akting yang cukup terorganisir memang teman-teman di Sanggar Samudra. Jadi ketika tim produksi film membutuhkan aktor tambahan atau figuran, mereka biasanya menghubungi kami,” kata dia.
Yoga juga mengungkapkan bahwa pengalaman bermain film sebenarnya sudah dimiliki para anggota sanggar sejak sebelum komunitas tersebut resmi berdiri.
Sejumlah personel pernah terlibat dalam beberapa produksi film nasional, di antaranya film Sang Penari (2010), film Tarian Lengger Maut yang proses syutingnya berlangsung di Purbalingga, hingga film Kuyang yang diproduksi di Bangka Belitung. Selain itu, beberapa anggota juga pernah tampil dalam berbagai judul FTV.
“Sebelum Sanggar Samudra terbentuk, teman-teman yang sekarang ada di sini sudah sering terlibat di film. Ada yang bahkan sudah tiga kali bermain di film layar lebar,” kata dia.
Kehadiran produksi film Landasan di Banyumas ternyata memicu ketertarikan masyarakat terhadap dunia seni peran. Banyak warga mulai penasaran dengan proses casting hingga teknik akting di depan kamera.
Yoga menilai fenomena ini menjadi momentum positif untuk memperkenalkan seni peran kepada masyarakat luas.
“Respon masyarakat cukup besar, mulai dari proses seleksi, casting sampai proses syuting. Banyak yang penasaran bagaimana cara bisa terlibat di film,” katanya.
Menanggapi tingginya minat masyarakat, Sanggar Seni Samudra berencana membuka kelas akting khusus film. Program ini bertujuan mengenalkan teknik akting di depan kamera yang berbeda dengan akting teater di panggung.
“Selama ini sebenarnya yang kita lakukan adalah teater. Tetapi setelah ada film Landasan, banyak yang bertanya bagaimana cara bisa bermain film. Karena orang sering mengira teater itu lebih konvensional dan kompleks,” jelas Yoga.
Melalui kelas akting tersebut, ia berharap akan lahir aktor-aktor baru dari Purwokerto dan Banyumas yang mampu bersaing di industri perfilman nasional.
“Kita akan membuka kelas akting khusus film. Jadi bagi masyarakat yang ingin belajar bagaimana bermain film, nanti bisa ikut kelas tersebut,” kata Yoga.