
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Bagi Anda yang menantikan karya terbaru Bayu Skak, pertanyaan film Landasan tayang kapan? kini mulai menemukan jawabannya.
Menariknya, sebagian besar pengambilan gambar berlangsung di wilayah Banyumas, Jawa Tengah, yang menghadirkan suasana pedesaan autentik sebagai latar utama cerita.
Tak hanya menjadi karya terbaru Bayu Skak sebagai sutradara, Landasan juga menjadi proyek yang mempertemukan aktor nasional dengan talenta lokal Banyumas.
Hal ini membuat film tersebut semakin dinantikan oleh para pencinta film Indonesia.
Landasan mengangkat genre drama keluarga dengan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Kisahnya mengikuti perjalanan seorang tokoh utama yang kembali ke kampung halamannya setelah lama merantau.
Kepulangannya bukan sekadar untuk bernostalgia, melainkan menghadapi berbagai persoalan keluarga yang selama ini belum terselesaikan.
Konflik demi konflik membuat sang tokoh harus menghadapi tanggung jawab masa lalu yang selama ini ia tinggalkan.
Dari perjalanan tersebut, ia kembali memahami arti keluarga, pengorbanan, serta pentingnya memiliki “landasan” atau fondasi yang kuat dalam menjalani kehidupan.
Tema tersebut menjadi kekuatan utama film karena menyentuh persoalan yang banyak dialami masyarakat Indonesia, terutama mengenai hubungan antaranggota keluarga, kampung halaman, dan pencarian jati diri.
Nama Bayu Skak sudah dikenal melalui berbagai film yang mengangkat budaya lokal dengan pendekatan yang hangat dan dekat dengan penonton.
Di film Landasan, ia kembali memegang dua peran sekaligus, yakni sebagai sutradara sekaligus pemeran utama.
Selain Bayu Skak, film ini turut dibintangi sejumlah aktor dan aktris nasional, yaitu:
Tak hanya mengandalkan nama-nama besar, produksi film ini juga melibatkan puluhan aktor pendukung dan talenta lokal dari Banyumas.
Kehadiran warga setempat diharapkan mampu menghadirkan suasana pedesaan yang lebih alami sehingga cerita terasa semakin hidup.
Film Landasan dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada rentang Agustus hingga September 2026.
Meski tanggal resmi penayangan masih menunggu pengumuman dari rumah produksi, proses syuting telah selesai sejak Maret 2026.
Setelah tahap produksi berakhir, film biasanya memasuki proses pascaproduksi yang meliputi penyuntingan gambar, penataan suara, pengisian musik, hingga finalisasi efek visual sebelum siap diputar di layar lebar.
Film ini diproduksi oleh MD Pictures bersama Skak Studios, dua rumah produksi yang telah melahirkan berbagai film Indonesia dengan kualitas produksi yang dikenal luas.
Salah satu lokasi penting dalam proses produksi adalah Desa Panembangan, yang menjadi tempat pengambilan gambar selama tiga hari, tepatnya pada 2–4 Maret 2026.
Tim produksi memilih dua rumah warga di RT 001 RW 001 sebagai lokasi utama, yaitu rumah milik H. Slamet dan Aris Heriyanto.
Kedua bangunan tersebut dinilai memiliki karakter rumah pedesaan yang sederhana, alami, dan sesuai dengan kebutuhan visual cerita.
Suasana kampung yang masih asri juga menjadi nilai tambah untuk memperkuat nuansa emosional dalam film.
Selama proses syuting berlangsung, warga sekitar ikut membantu berbagai kebutuhan produksi.
Sebagian masyarakat bahkan mendapat kesempatan tampil sebagai figuran dalam beberapa adegan.
Keterlibatan masyarakat lokal ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri karena membuat suasana film terasa lebih autentik dibandingkan jika seluruh pemerannya berasal dari kalangan profesional.
Pemerintah Desa Panembangan menyambut baik kehadiran tim produksi film tersebut.
Kepala Desa Panembangan menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada wilayahnya sebagai lokasi pengambilan gambar.
Menurutnya, kesempatan ini menjadi kebanggaan bagi masyarakat sekaligus sarana promosi daerah melalui industri perfilman.
Selama tiga hari pelaksanaan syuting, kegiatan berlangsung lancar berkat koordinasi yang baik antara tim produksi, pemerintah desa, perangkat RT, RW, serta masyarakat.
Warga pun berharap kehadiran Landasan tidak hanya membawa nama Desa Panembangan ke layar bioskop nasional, tetapi juga membuka peluang kerja sama kreatif lain di masa mendatang.
Kehadiran produksi film di daerah juga dinilai mampu memberikan dampak ekonomi, mulai dari penyewaan lokasi, konsumsi, hingga keterlibatan tenaga lokal.
Film Landasan menawarkan kombinasi menarik antara drama keluarga yang emosional dengan latar pedesaan Indonesia yang jarang dieksplorasi secara mendalam di layar lebar.
Kolaborasi Bayu Skak bersama MD Pictures juga menjadi perhatian tersendiri.
Bayu selama ini dikenal piawai menghadirkan cerita yang sederhana namun sarat makna, sementara MD Pictures memiliki rekam jejak panjang dalam memproduksi film-film dengan kualitas teknis yang kuat.
Di sisi lain, penggunaan lokasi asli di Banyumas serta keterlibatan masyarakat lokal memberikan warna yang berbeda.
Pendekatan seperti ini tidak hanya memperkuat realisme cerita, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya dan lanskap daerah kepada penonton nasional.
Bagi Anda yang menyukai film bertema keluarga dengan konflik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, Landasan menjadi salah satu film Indonesia yang patut masuk daftar tontonan pada paruh kedua 2026.
***