
SERAYUNEWS – Menjawab tantangan adaptasi dunia pendidikan terhadap dinamika industri, sebuah inovasi signifikan lahir melalui peluncuran Griya Cendekia.
Bukan sekadar unit usaha biasa, tempat ini dirancang sebagai laboratorium pembelajaran berbasis pengalaman langsung bagi mahasiswa untuk mengasah kompetensi mereka di lapangan.
Inti dari konsep ini adalah menyediakan ruang praktik konkret yang mengintegrasikan teori akademik ke dalam ekosistem bisnis secara langsung.
Melalui program yang telah dikonversi setara 20 SKS, mahasiswa diajak mendalami model academic culinary business, di mana mereka terlibat langsung dalam manajemen dan operasional usaha secara profesional.
“Pada dasarnya, kita butuh media praktik untuk mahasiswa. Maka ditangkap oleh pihak rektorat bahwa prinsip ini harus difasilitasi melalui beberapa tempat praktik. Karena itu, di sini tidak semata-mata kafe, tetapi menjadi Cendekia Cafe di Griya Cendekia,” kata Direktur Utama Pringsewu Cemerlang, Totok Sutrisno, Selasa (31/3/2026).
Di kawasan ini, cakupan belajar mahasiswa sangat luas, mulai dari aspek teknis produksi hingga manajerial. Kedepannya, model serupa direncanakan menyasar fakultas-fakultas lain agar setiap disiplin ilmu memiliki ruang praktik yang relevan dengan bidang keahliannya.
Meski saat ini keterlibatan mahasiswa baru terpusat dari Fakultas Ekonomi, pihak pengelola memiliki visi besar untuk menjadikan mahasiswa sebagai motor utama operasional dengan target partisipasi hingga 90 persen.
“Memang saat ini keterlibatannya masih kecil, tetapi ini akan terus kita kembangkan. Targetnya, mahasiswa menjadi bagian utama dari operasional,” jelasnya.
Ekspansi program ini sebenarnya telah merambah ke beberapa outlet di luar lingkungan kampus. Namun, prioritas mendatang adalah memperkuat unit praktik internal kampus guna menciptakan sistem pembelajaran yang lebih terintegrasi.
Menurut Totok, inisiatif ini tidak melulu mengejar profit. Orientasi utamanya adalah pada nilai edukasi dan pembentukan karakter. “Di kampus ini kan dunia pendidikan, bukan sekadar bisnis. Kita lebih mengedepankan silaturahmi, nanti rezeki mengikuti,” kata dia.
Langkah ini juga dipandang sebagai strategi jitu dalam menjembatani kesenjangan karakter kerja pada generasi Z, yang sering kali dianggap memiliki tantangan dalam hal mentalitas dan tanggung jawab oleh dunia industri.
“Problem utamanya sebenarnya di mentalitas dan budaya kerja. Banyak yang bilang Gen Z sulit diatur, tapi bukan hanya mengklaim, harus ada solusi. Nah ini salah satu bentuk solusi kita, membekali mereka sejak dini,” kata dia.
Pola pendidikan di Griya Cendekia menekankan pada perubahan paradigma. Mahasiswa dilatih untuk tidak memandang hambatan sebagai beban, melainkan sebagai tantangan yang harus ditaklukkan.
“Kalau hambatan dianggap beban, mereka akan mudah menyerah. Tapi kalau kita ubah menjadi tantangan, mereka akan terdorong untuk menyelesaikannya. Itu yang kita tanamkan sejak di bangku kuliah,” kata Totok.
Totok juga berharap pengalaman yang diperoleh mahasiswa selama magang dapat menjadi bekal untuk membuka usaha setelah lulus.
“Harapannya, lulusan-lulusan kami disini pulang ke kampung halamannya buka seperti ini. Syukur-syukur dengan nama Pringsewu,” katanya.