
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Pesarean Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, kembali menjadi perhatian masyarakat.
Dalam beberapa pekan terakhir, kawasan wisata religi tersebut ramai dibicarakan di media sosial setelah beredarnya daftar harga selamatan dan berbagai ritual yang dilakukan secara resmi di lokasi tersebut.
Fenomena tersebut membuat banyak orang mencari informasi mengenai Gunung Kawi, mulai dari sejarahnya, tradisi yang masih dijalankan, hingga kapan waktu terbaik untuk datang berziarah.
Tak sedikit pula calon pengunjung yang ingin mengetahui apakah terdapat hari-hari tertentu yang dianggap lebih baik untuk melakukan ziarah.
Di tengah berbagai anggapan dan mitos yang berkembang selama bertahun-tahun, pengelola Pesarean Gunung Kawi menegaskan bahwa kawasan tersebut merupakan destinasi wisata religi yang terbuka bagi siapa saja.
Pengunjung datang dengan beragam tujuan, mulai dari berdoa, mengenang jasa tokoh yang dimakamkan di sana, mengikuti tradisi budaya, hingga sekadar menikmati suasana pegunungan yang sejuk.
Selain dikenal sebagai lokasi ziarah, kawasan ini juga memiliki fasilitas yang cukup lengkap, seperti area parkir, tempat makan, penginapan, kios oleh-oleh, hingga loket resmi untuk pemesanan paket selamatan.
Perhatian publik semakin meningkat setelah sebuah unggahan di media sosial memperlihatkan daftar harga berbagai paket selamatan dan nazar di kawasan Pesarean Gunung Kawi.
Unggahan tersebut memancing beragam komentar karena nominal yang tercantum bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah.
Namun, daftar harga tersebut bukanlah biaya untuk memasuki kawasan wisata, melainkan tarif resmi bagi pengunjung yang ingin memesan paket selamatan melalui pengelola. Paket tersebut disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peziarah dan digunakan sebagai bagian dari tradisi syukuran.
Pengelola juga mengingatkan masyarakat agar melakukan pemesanan hanya melalui loket resmi guna menghindari praktik penipuan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Ramainya pembahasan mengenai daftar harga itu juga membuat semakin banyak masyarakat mencari informasi mengenai tradisi yang berlangsung di Gunung Kawi, termasuk kapan waktu yang dianggap paling baik untuk berziarah.
Bagi masyarakat yang ingin mengikuti tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun, terdapat beberapa waktu yang dikenal sebagai momen paling ramai di Pesarean Gunung Kawi.
Salah satunya adalah Malam Senin Pahing, yang menjadi waktu pelaksanaan haul Eyang Djugo atau Kiai Zakaria II, salah satu tokoh yang dimakamkan di kawasan tersebut. Pada malam ini biasanya diselenggarakan pembacaan Surat Yasin, tahlil, serta doa bersama yang diikuti peziarah dari berbagai daerah.
Selain itu, Malam Jumat Legi juga menjadi waktu favorit masyarakat Jawa untuk berziarah. Banyak pengunjung memanfaatkan malam tersebut untuk berdoa, melakukan tirakat, maupun memohon kesehatan, kelancaran rezeki, serta keselamatan keluarga.
Sementara itu, 1 Suro atau Tahun Baru Jawa menjadi salah satu momen yang paling sakral. Pada waktu ini digelar berbagai kegiatan budaya seperti kirab tumpeng, doa bersama, Gebyar Ritual 1 Suro, hingga prosesi Penyekaran Agung yang setiap tahunnya menarik ribuan pengunjung.
Meski demikian, kawasan Pesarean Gunung Kawi sebenarnya dibuka setiap hari. Pengunjung yang menginginkan suasana lebih tenang biasanya memilih datang pada hari kerja di luar momen-momen tersebut sehingga dapat berziarah dengan lebih khusyuk.
Loket pemesanan di Pesarean Gunung Kawi beroperasi setiap hari mulai pukul 07.30 hingga 21.00 WIB.
Sementara itu, sesi ziarah di pendopo makam dibagi menjadi tiga waktu, yaitu pagi pukul 07.30–10.30 WIB, siang pukul 13.30–15.30 WIB, dan malam pukul 19.30–21.30 WIB.
Pengunjung yang memesan paket selamatan disarankan datang lebih awal agar seluruh persiapan dapat dilakukan sebelum sesi ziarah dimulai.
Di balik berbagai cerita dan pembahasan yang berkembang di media sosial, Gunung Kawi tetap dikenal sebagai salah satu destinasi wisata religi dan budaya yang memiliki sejarah panjang di Jawa Timur.
Waktu terbaik untuk berkunjung pada akhirnya bergantung pada tujuan masing-masing peziarah, baik ingin mengikuti tradisi masyarakat Jawa maupun menikmati suasana ziarah yang lebih tenang.***