
SERAYUNEWS- Tahun Baru Imlek identik dengan barongsai, angpao, kue keranjang, hingga ramalan shio. Namun di balik kemeriahannya, ada pesan spiritual yang lebih dalam, terutama dalam perspektif ajaran Buddha.
Imlek tidak hanya berbicara soal “hoki” atau menghindari “ciong”, tetapi tentang bagaimana manusia menanam sebab-sebab kebahagiaan dalam hidupnya.
Melansir artikel dari Totok, Penyuluh Agama Buddha Kota Yogyakarta, di laman resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, Imlek adalah momentum pembaruan hidup yang sarat makna spiritual.
Tahun Baru Imlek merupakan perayaan budaya masyarakat Tionghoa yang menandai pergantian musim sekaligus awal siklus baru dalam kalender lunar.
Bagi komunitas Tionghoa, Imlek bukan sekadar pergantian waktu, tetapi juga momen mempererat kebersamaan keluarga, menumbuhkan rasa syukur, dan membangun harapan baru.
Perayaan ini dirayakan lintas agama dan keyakinan sebagai simbol doa, pembaruan, serta optimisme menghadapi tahun yang akan datang.
Secara historis, Imlek telah ada jauh sebelum ajaran Buddha berkembang di Tiongkok. Namun, ajaran Buddha tidak hadir untuk menghapus budaya lokal.
Sebaliknya, Buddha memperkaya tradisi dengan nilai spiritual yang lebih mendalam. Karena itu, agama Buddha berkembang dengan ekspresi budaya yang beragam di Tiongkok, Jepang, Korea, Thailand, Myanmar, Sri Lanka hingga Indonesia.
Setiap Imlek, masyarakat kerap menantikan ramalan shio dan elemen tahun berjalan. Pembahasan soal “hoki” (keberuntungan) dan “ciong” (kesialan) menjadi topik populer.
Namun dalam praktiknya, tidak sedikit orang yang menggantungkan kualitas hidup pada kecocokan shio atau berusaha menghindari “tahun sial”. Di sinilah ajaran Buddha mengajak umat untuk berefleksi:
Apakah kita hanya menunggu peruntungan berubah, atau mulai mengubah sebab-sebab kehidupan kita sendiri?
Dalam perspektif Buddhis, kebahagiaan dan penderitaan tidak ditentukan oleh nasib semata.
Dalam Anguttara Nikaya (III: 415), Buddha menegaskan bahwa kamma adalah kehendak (cetana) yang terwujud melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan. Artinya, arah kehidupan sangat ditentukan oleh kualitas niat dan tindakan seseorang.
Lebih lanjut, dalam Cūḷakammavibhaṅga Sutta, Buddha menjelaskan bahwa perbedaan kondisi hidup manusia umur panjang atau pendek, sehat atau sakit, berkecukupan atau kekurangan berkaitan dengan perbuatan masa lalu dan masa kini.
Dengan pemahaman ini, kesehatan, rezeki, kelancaran karier, hingga kualitas hidup bukanlah hadiah yang turun tiba-tiba.
Semua itu merupakan buah dari sebab-sebab kebajikan yang ditanam melalui hidup bermoral, penuh perhatian, dan bijaksana. Karma adalah aspek yang paling mungkin dikendalikan oleh diri sendiri.
Ajaran Buddha tidak menolak tradisi budaya, termasuk perayaan Imlek. Umat tetap dapat merayakannya sebagai identitas kultural dan sarana mempererat relasi sosial.
Namun, makna Imlek dapat diperdalam menjadi:
1. Dari sekadar berharap keberuntungan → menjadi tekad menanam sebab kebahagiaan
2. Dari sekadar ritual tahunan → menjadi momentum refleksi diri
3. Dari sekadar mengikuti ramalan → menjadi komitmen memperbaiki pikiran, ucapan, dan perbuatan
Imlek menjadi kesempatan untuk mengembangkan sebab-sebab keberuntungan melalui kebajikan dan menghindari sebab-sebab keruntuhan hidup.
Bagi umat Buddha, khususnya warga Tionghoa, Imlek dapat dimaknai sebagai momen untuk:
1. Berdoa di vihara, kelenteng, maupun di rumah
2. Melakukan praktik kebajikan
3. Menumbuhkan niat baik bagi diri sendiri dan semua makhluk
4. Mengembangkan kejernihan batin
Semangat Dhamma menekankan bahwa kebajikan adalah jalan menuju kebahagiaan. Dengan demikian, Imlek bukan hanya perayaan pergantian kalender, tetapi titik awal pembaruan batin dan penguatan etika hidup.
Inilah semangat Tahun Baru Imlek dalam pandangan agama Buddha: merayakan tradisi dengan penuh makna sekaligus menghidupi Dhamma dalam keseharian.
Selamat merayakan Tahun Baru Imlek.
Semoga Tiratana senantiasa melindungi.
Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.