
SERAYUNEWS– Semangat kebersamaan dan toleransi antarumat beragama kembali terlihat di Kabupaten Banjarnegara. Di tengah suasana bulan suci Ramadan, umat Buddha dan Kristen mengikuti pelatihan membuat minuman khas Dawet Ayu Banjarnegara yang digelar di Vihara Dhammaloka Merden, Kecamatan Purwanegara.
Uniknya, pelatihan pembuatan dawet ayu tersebut diprakarsai oleh penyuluh agama Islam dari Kementerian Agama Banjarnegara, pelatihan ini sendiri sebagai upaya mempererat kerukunan sekaligus memberikan keterampilan usaha kepada masyarakat lintas agama.
Pelatihan tidak hanya berisi teori, tetapi juga praktik langsung membuat Dawet Ayu. Para peserta dibagi menjadi dua kelompok untuk mempelajari proses pembuatan minuman tradisional yang menjadi ikon kuliner Banjarnegara tersebut.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diajak mempraktikkan setiap tahapan pembuatan Dawet Ayu secara runtut. Mulai dari menakar bahan baku, merebus adonan, mencetak butiran dawet, hingga meracik santan dan juruh gula merah yang menjadi ciri khas rasanya.
Narasumber kegiatan, penyuluh agama Islam Hendriyanto, menjelaskan bahwa Dawet Ayu dipilih sebagai materi pelatihan karena memiliki potensi ekonomi yang cukup besar dan relatif mudah dipasarkan.
Ia juga memperkenalkan berbagai inovasi minuman tersebut, seperti Dawet Ayu salak, Dawet Ayu terong Belanda, hingga penggunaan pati irut yang membuat dawet lebih ramah bagi lambung.
Menurut Hendriyanto, kegiatan ini tidak hanya bertujuan membagikan keterampilan membuat minuman tradisional, tetapi juga menjadi sarana memperkuat silaturahmi antarumat beragama di Banjarnegara.
Sementara itu, Pendeta Gereja Suara Kebenaran Injil, Heru Siswanto, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menilai pelatihan ini menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat dari berbagai latar belakang agama dapat bekerja sama dan saling mendukung.
“Kegiatan ini menunjukkan kerukunan antarumat beragama yang sangat baik. Kami dari gereja sangat mengapresiasi inisiatif penyuluh agama Islam yang mengadakan pelatihan ini,” ujarnya.
Hal senada disampaikan penyuluh agama Buddha, Ade Retno Purwati. Ia menjelaskan bahwa peserta pelatihan berasal dari umat Buddha dan Kristen yang ingin mengembangkan keterampilan berwirausaha.
“Pelatihan ini bertujuan melatih keterampilan umat dalam berwirausaha, khususnya usaha Dawet Ayu Banjarnegara,” katanya.
Sementara itu, Ketua Vihara Dhammaloka, Budhi Primadana, menilai kegiatan ini tidak hanya memperkuat moderasi beragama, tetapi juga dapat memberdayakan masyarakat, terutama kaum perempuan.
“Kami menyambut baik pelatihan ini karena selain memperkuat toleransi, juga dapat mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui usaha Dawet Ayu,” ujarnya.
Melalui kegiatan tersebut, Banjarnegara kembali menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan bukan penghalang untuk membangun kebersamaan, bahkan dapat menjadi kekuatan untuk menciptakan harmoni sekaligus peluang ekonomi bagi masyarakat.