
PURWOKERTO, SERAYUNEWS-Pernah nggak, sih, membayangkan hidup tanpa notifikasi WhatsApp yang nggak berhenti bunyi, tanpa scroll media sosial sebelum tidur, atau tanpa Google Maps saat nyasar di jalan? Bagi generasi yang lahir dan besar berdampingan dengan gawai, gambaran hidup seperti pemuda-pemudi tahun 80-an mungkin terasa seperti mimpi buruk sekaligus fantasi receh yang seru untuk dibahas.
Penasaran dengan reaksi anak muda zaman sekarang? Satu pertanyaan meluncur bagi para gen Z Purwokerto. “Kalau kalian hidup tanpa telepon genggam atau HP seperti anak muda tahun 80-an, kira-kira sanggup nggak? Apa culture shock pertama yang bakal kalian rasakan?” Jawabannya ternyata beragam, dari yang panik duluan sampai yang santai-santai saja.
Vijaj Alzam Murobbi, yang akrab disapa Alzam, jadi orang pertama yang buka suara. Baginya, hidup tanpa HP seperti tahun 80-an, bukan sekadar merepotkan, tapi benar-benar mengguncang.
Alzam membayangkan jika dia hidup di tahun 80-an yang tidak memegang HP. Menurutnya, tanpa HP itu rasanya seperti bukan orang hidup gelisah, bingung, dan takut, apalagi mengingat tahun 80-an aksesnya masih sangat minim dan tidak secanggih sekarang. Culture shock pertama yang ia bayangkan bukan cuma soal komunikasi, tapi juga soal keadaan sekitar yang serba berbeda: gaya berpakaian yang beda, harga barang yang masih rendah, hingga transportasi yang minim.
Yang lebih berat lagi, Alzam menyinggung sisi sosial-politik era Orde Baru. Ia membayangkan harus hidup di zaman Soeharto, di mana rasanya selalu terbungkam dan takut untuk bersuara, apalagi dengan bayang-bayang rumor Petrus alias Penembak Misterius yang bikin suasana makin mencekam. Ditambah lagi minimnya akses komunikasi dan keterbatasan teknologi membuat bayangan hidup di era itu terasa jauh lebih berat dibanding sekadar hidup tanpa HP.
Tapi seandainya benar-benar bisa kembali ke masa itu, Alzam sudah punya rencana usil. Ia mengaku ingin tetap membawa sedikit budaya modern ke masa lalu dan jadi peramal masa depan, apa yang akan terjadi di masa depan.
Tak lupa Sambil bercanda, ia bilang mau mengajak masyarakat agar tidak memilih calon pemimpin yang berpotensi menjadi koruptor di masa depan. “Kalo seandainya balik ke zaman itu sih aku si bakal jadi peramal masa depan. Terus ngeramal apa yang akan terjadi, kaya misal ngasih tahu ke masyarakat kalau nanti di tahun 2021 bakal ada covid 19 wkwk,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, ia juga menyelipkan khayalan soal misi personal yang lebih menyentuh yaitu: mencegah Nike Ardila agar tidak mengendarai mobil sendiri pada hari nahas itu, serta mencegah Saleem Iklim untuk tidak berkendara motor di hari itu.
Sebagai penutup daftar keinginannya, Alzam ingin menghadiri momen sederhana namun berarti pernikahan orang tuanya sendiri, memang unik ya khayalan nya ini, di luar ekspetasi jawaban pada umumnya.
Berbeda dengan Alzam, Nabaila Zulfa yang akrab disapa Abil ia mempunyai pandangan yang jauh lebih santai. Baginya, hidup tanpa HP sebenarnya bukan hal yang terlalu buruk, karena tanpa HP orang justru bisa mencari kesibukan lain, seperti olahraga atau sekadar bermain bersama teman.
“Menurutku hidup tanpa HP tu sebenernya bukan hal yang terlalu buruk. Karena tanpa HP bisa mencari kesibukan lain contohnya olahraga atau main ya pokoknya cari kesibukan” ujarnya.
Meski begitu, ia tetap jujur mengakui bahwa karena sudah terlalu terbiasa hidup di zaman serba HP dan internet. Kalau tiba-tiba harus hidup tanpa gadet, hal pertama yang pasti muncul adalah rasa bingung dan buntu.
Sumber ketiga dari M Arjunnaja Fairuza yang kerap di sapa Karjo memberikan pandangan yang lebih ringkas namun tetap mewakili banyak orang. Menurutnya, kalau benar-benar harus hidup seperti di era 80-an, orang zaman sekarang pasti akan kaget karena sudah terlalu terbiasa dengan gawai, sementara di masa itu teknologi seperti itu belum ada. Rasa bingung disebutnya wajar muncul, mengingat pada masa itu masyarakat masih mengandalkan surat-menyurat sebagai cara utama berkomunikasi jarak jauh.
Dari tiga sudut pandang ini, terlihat jelas bahwa bayangan hidup tanpa HP bukan cuma soal kehilangan alat komunikasi, tapi juga soal beradaptasi dengan dunia yang serba berbeda mulai. Perbedaan itu mulai dari gaya hidup, transportasi, hingga suasana sosial-politik yang jauh lebih terbatas dan penuh kehati-hatian.
Obrolan receh ini pada akhirnya membuka kesadaran kecil: di balik keluhan soal notifikasi yang tak pernah berhenti dan layar yang terlalu sering menyita perhatian ada hal lain. Yakni, ini adalah zaman dengan akses informasi dan komunikasi yang jauh lebih mudah dibanding generasi sebelumnya. (Amelia Faridha Zhariif)