
SERAYUNEWS – Wilayah Cilacap mulai bersiap menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering dari biasanya. Prakiraan ini disampaikan oleh BMKG sebagai bagian dari peringatan dini bagi masyarakat dan pemerintah daerah.
Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, menyampaikan bahwa awal musim kemarau diperkirakan terjadi pada dasarian kedua Mei 2026.
Kemarau diprediksi berlangsung selama 14 hingga 18 dasarian, atau sekitar 140 hingga 180 hari.
Sejumlah wilayah di Cilacap akan lebih dulu memasuki musim kemarau, terutama kawasan pesisir tenggara seperti Binangun dan Nusawungu.
Wilayah tersebut diperkirakan mulai mengalami kemarau sejak dasarian pertama Mei 2026. Sementara itu, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026.
BMKG menyebutkan bahwa sifat musim kemarau tahun ini berada di bawah normal, yang berarti curah hujan lebih rendah dibandingkan rata-rata.
“Artinya, kondisi musim kemarau berpotensi lebih kering dari kondisi normal, sehingga perlu diantisipasi sejak dini,” ujar Teguh, Selasa (24/3/2026).
Potensi kekeringan menjadi perhatian utama, terutama di wilayah yang selama ini rawan kekurangan air bersih.
BMKG mengimbau pemerintah daerah untuk segera menyiapkan langkah antisipatif, mulai dari pengelolaan sumber daya air hingga mitigasi dampak kekeringan.
Langkah ini penting agar musim kemarau tidak mengganggu aktivitas masyarakat, khususnya di sektor pertanian dan kebutuhan air sehari-hari.
Sebelum memasuki kemarau, wilayah Cilacap akan mengalami masa pancaroba pada April hingga Mei 2026.
Pada periode ini, masyarakat diminta waspada terhadap potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai petir, angin kencang, hingga puting beliung. Kondisi cuaca panas juga bisa terjadi secara tiba-tiba.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca resmi dan meningkatkan kewaspadaan saat terjadi perubahan cuaca signifikan.