
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Rumah Sastra Ahmad Tohari di Jatilawang, Banyumas, menjadi ruang pertemuan para penulis, sastrawan, dan pegiat literasi dalam Kenduri Prosa, Kamis (13/8/2026).
Kegiatan yang merupakan presentasi karya peserta Belajar Bersama Maestro (BBM) Sastra 2026 tersebut menghadirkan beragam agenda, mulai dari dramatic reading, presentasi karya 10 peserta dari berbagai daerah, apresiasi cerpen, diskusi sastra, hingga musikalisasi Ronggeng Dukuh Paruk.
Kenduri Prosa juga terbuka untuk umum. Sejumlah komunitas literasi turut hadir, di antaranya BIL Fest (Banyumas International Literacy Festival), Literasi Purbalingga, dan TBTC (Tukar Buku Tukar Cerita).
Kehadiran komunitas tersebut memperluas ruang pertemuan antara peserta BBM Sastra 2026 dengan pegiat literasi dan masyarakat.
Rangkaian Kenduri Prosa dibuka oleh Ahmad Tohari selaku tuan rumah sekaligus maestro dalam program BBM Sastra 2026.
Sastrawan asal Banyumas tersebut dikenal melalui sejumlah karya penting, seperti Ronggeng Dukuh Paruk, Senyum Karyamin, Bekisar Merah, dan Orang-orang Proyek.
Pembukaan kemudian berlanjut dengan pementasan yang melibatkan para peserta BBM Sastra 2026.
Sekitar pukul 10.26 WIB, peserta BBM Sastra bersama Riski Dwi Kemala memulai rangkaian pementasan melalui sesi dramatic reading.
Lagu Soleram berkumandang mengiringi pementasan sekaligus pembacaan puisi teatrikal. Beberapa menit kemudian, sekitar pukul 10.30 WIB, lagu Di Tepinya Sungai Serayu turut dikumandangkan ketika peserta membacakan puisi.
Lagu tersebut menjadi penutup pementasan sebelum acara berlanjut pada sesi pengenalan peserta dan karya.
Sebanyak 10 peserta BBM Sastra 2026 kemudian diperkenalkan kepada pengunjung. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Padang dan Kalimantan, dengan latar belakang kepenulisan yang beragam.
Salah satu karya yang diperkenalkan yakni Radio Tua dan Perkara Lama karya peserta dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Setelah sesi pengenalan, peserta dan pengunjung berfoto bersama sebelum memasuki sesi apresiasi karya.
Sesi apresiasi terhadap 10 cerpen peserta dimulai sekitar pukul 10.45 WIB. Fiqri dari BIL Fest memandu sesi tersebut dengan menghadirkan akademisi sekaligus sastrawan Anton dan penulis Raudal Tanjung Banua sebagai narasumber.
Pembahasan tidak hanya menyoroti teknik penulisan, tetapi juga bagaimana peserta mengolah lokalitas, karakter, persoalan sosial, dan strategi literer dalam cerpen mereka.
Anton menyoroti penggunaan unsur lokalitas dalam sejumlah karya peserta. Menurutnya, lokalitas tidak cukup hanya menjadi latar atau tempelan dalam cerita.
Unsur tersebut perlu memiliki keterkaitan dengan tokoh, konflik, serta persoalan yang dibangun penulis.
Ia juga menilai sejumlah bagian cerita dapat diperkuat melalui penggambaran perilaku tokoh. Dengan pendekatan tersebut, karakter dan kondisi sosial dapat muncul melalui tindakan tokoh, bukan hanya melalui narasi.
Anton juga mendorong peserta untuk melihat persoalan budaya secara lebih kritis. Penulis, menurutnya, memiliki kesempatan untuk membongkar persoalan yang berada di balik konstruksi sosial, termasuk patriarki dan pandangan terhadap perempuan.
Sementara itu, Raudal Tanjung Banua memberikan catatan terhadap sejumlah karya yang dinilai memiliki persinggungan dengan karya Ahmad Tohari, terutama dari sisi latar cerita.
Ia mengingatkan peserta bahwa setiap lokalitas memiliki kekhasan. Karena itu, penulis perlu menemukan cara tersendiri untuk mengolah latar dan persoalan lokal menjadi cerita.
Raudal juga menilai cerita sederhana tidak harus berhenti pada satu peristiwa. Penulis dapat menambahkan peristiwa lain yang memiliki keterkaitan sehingga cerita menjadi lebih kuat dan memiliki kedalaman.
Dalam sesi diskusi, Rakhmi dari BIL Fest bertanya mengenai alasan peserta mengangkat cerita yang dianggap lawas. Raudal menilai pilihan tersebut bukan persoalan selama penulis memiliki strategi literer dalam menyampaikannya.
“Tidak ada persoalan seseorang menulis cerita lawas, yang paling penting adalah strategi literer untuk mengungkapkannya,” ujar Raudal.
Diskusi Kenduri Prosa juga memberikan ruang bagi peserta untuk membagikan pengalaman selama mengikuti program BBM Sastra 2026.
Rey dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengaku setelah mengikuti pemaparan materi, dirinya menjadi lebih memperhatikan aksesibilitas pembaca agar cerita yang ditulis dapat lebih fokus.
Sementara itu, Hadi dari Kutai Barat, Kalimantan Timur, menampilkan karya sketsa bertajuk Pada Sebuah Lanskap. Karya tersebut menjadi bentuk ekspresi peserta selain karya sastra dalam bentuk tulisan.
Dani juga membagikan pengalamannya selama mengikuti program BBM Sastra 2026. Menurutnya, proses pembelajaran tidak hanya memberikan pengalaman dalam kepenulisan, tetapi juga pengalaman lain selama mengikuti kegiatan.
“Selain diberi gizi secara kepenulisan, saya juga diberi gizi secara fisik,” kata Dani.
Rangkaian Kenduri Prosa kemudian ditutup dengan penampilan Asta Kiri melalui musikalisasi Ronggeng Dukuh Paruk.
Memasuki sekitar pukul 12.25 WIB, kegiatan berakhir dengan sesi bernyanyi bersama yang melibatkan peserta, narasumber, komunitas literasi, dan pengunjung.
Kenduri Prosa sekaligus menjadi ruang bagi peserta BBM Sastra 2026 untuk mempresentasikan karya dan mendapatkan apresiasi serta masukan langsung dari sastrawan, akademisi, komunitas literasi, dan masyarakat. (Yoga Adikusuma)