
SERAYUNEWS– Ketua DPRD Jateng Sumanto menekankan, jangan sampai upaya penyelamatan lingkungan dilakukan setelah bencana terjadi. Hal itu diungkapkan terkait potensi adanya kerusakan lingkungan.
Sumanto mengatakannya usai menanam bibit pohon penyimpan air di sekitar Kali Sejati, Desa Seloromo, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Sabtu (16/5/2026). Aksi penghijauan berjuluk Menjaga Pertiwi tersebut digelar menyambut Bulan Bung Karno yang akan jatuh pada Juni nanti. Tak jauh dari lereng Gunung Lawu, sekitar 100 relawan dan petani ikut menanam bibit Pohon Preh, Bulu, dan Beringin di tepian sungai.
“Kesadaran kita terhadap lingkungan kerap muncul setelah terjadi bencana. Karena itu penting untuk menyiapkan langkah pencegahan sejak dini melalui penanaman pohon penyimpan air ini,” kata politisi PDI Perjuangan tersebut.
Dia menambahkan, penanaman pohon menjadi investasi lingkungan jangka panjang bagi generasi mendatang. Bibit pohon yang ditanam dalam 5 sampai 10 tahun mendatang diharapkan tumbuh besar dan menyimpan cadangan air yang petani butuhkan untuk mengairi sawah, terutama saat musim kemarau.
“Air yang tersedia dapat menghindarkan kita dari krisis lingkungan. Maka kawasan hulu harus kita benahi. Berkurangnya pepohonan membuat kemampuan tanah menyerap air menurun sehingga saat musim hujan rawan terjadi limpasan dan longsor, sedangkan pada musim kemarau debit air perlahan menyusut,” katanya.
Sumanto mengatakan, jika kawasan hulu sungai tak dirawat, akan berdampak bagi wilayah-wilayah yang menggantungkan kebutuhan air dari kawasan pegunungan. Apalagi, Desa Seloromo berada di dataran tinggi lereng Gunung Lawu dan menjadi bagian penting dari hulu Kali Sejati.
Sumanto menegaskan, menjaga kelestarian alam dan sumber air adalah bentuk paling otentik dalam menerjemahkan ajaran Marhaenisme dan gotong royong yang diwariskan oleh Bung Karno. Bung Karno dalam salah satu pidatonya mengatakan, pangan adalah hidup matinya sebuah bangsa. Jika kebutuhan pangan rakyat tidak terpenuhi, maka akan terjadi malapetaka. Pemikiran Bung Karno tentang kedaulatan pangan tersebut tersirat sebagai bentuk dukungan terhadap pengelolaan lingkungan agar tanah air Indonesia tetap subur dan dapat menghidupi rakyatnya.
”Bung Karno mengajarkan kita tentang berdikari dan berpihak pada rakyat kecil. Kedaulatan pangan dan kedaulatan air adalah kunci kemandirian bangsa. Kalau sungai kita rusak, air mengering, yang paling pertama menderita adalah petani dan rakyat kecil. Maka aksi Jogo Kali ini adalah ziarah kebangsaan kami yang nyata di lapangan,” katanya.
Aksi yang Sumanto gelar tersebut juga tak sekedar seremonial. Setiap Sabtu, kegiatan penanaman pohon penyimpan air ia gelar di Kabupaten Karanganyar. Dia juga melakukan pendekatan yang menarik saat mengedukasi warga desa agar peduli lingkungan dan tak sembarang menebang pohon. Sumanto mengutip mitos pohon besar banyak hantunya sehingga tak boleh ditebang.

“Kalau kita amati, di dekat sendang atau sumber air selalu ada pohon besar. Dulu orang tua kita sering bilang pohon besar ada Genderuwo nya, nggak boleh ditebang. Ini sanepo orang Jawa, entah benar atau tidak. Yang jelas pohon tetap terjaga dan lestari,” ujarnya.
Melalui narasi yang dekat dengan kearifan lokal tersebut, warga desa justru lebih mudah tergerak. Mereka kini melihat pohon-pohon di pinggir sungai sebagai aset masa depan.
Kepala Desa Seloromo, Mono, menyambut baik gerakan penghijauan tersebut sebagai upaya menjaga kelestarian lingkungan desa.
“Ini kegiatan yang bagus dan saya mengapresiasi langkah Pak Manto yang bermanfaat untuk kelangsungan daerah aliran sungai dan tentunya memberi manfaat juga untuk masyarakat,” katanya.