
JOMBANG, SERAYUNEWS-KH Miftakhul Akhyar dan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin terpilih dalam Muktamar NU yang berlangsung di Jombang. KH Miftakhul Akhyar menjadi Raiis Aam atau pemimpin tertinggi dan Gus Kikin menjadi Ketua Umum Tanfidziyah PBNU atau yang biasa disamakan sebagai eksekutif dalam pemerintahan.
Seperti terlihat di YouTube NU Online, Senin (31/8/2026), mekanisme pemilihan Rais Aam adalah mulanya dengan memilih para Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Ada 9 AHWA yang terpilih dan sembilan orang tersebut secara musyawarah mufakat memilih KH Miftakhul Akhyar sebagai Rais Aam.
Sementara mekanisme pemilihan Ketua Umum Tanfidziyah bermula dari para pemilik suara untuk memilh para bakal calon. Dari pemilihan itu, ada lima calon yang kemudian ditetapkan sebagai calon Ketua Umum Tanfidziyah PBNU.
Perolehan suara para bakal calon adalah KH Abdul Hakim Mahfud (Gus Kikin) dengan perolehan 472 suara, KH Zulfa Mustafa 262 suara, KH Abdul Salam 261 suara, KH Yahya Cholil Staquf 258, KH Abdul Ghofar Rozin 155.
Kemudian lima calon itu diserahkan ke Rais Aam untuk mendapatkan persetujuan. Selanjutnya, AHWA bermusyawarah dan mufakat memilih satu udari lima calon untuk menjadi Ketua Umum Tanfidziyah PBNU.
Jadi dalam muktamar kali ini, AHWA memiliki peran sangat penting. Sebab, AHWA lah yang akan menentukan siapa yang berhak menjadi Ketua Umum Tanfidziyah PBNU berdasarkan para calon yang dipilih para pemilik suara.
Sampai kemudian, AHWA secara musyawarah dan mufakat memilih Gus Kikin sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU. Hasil musyawarah dan mufakat itu disampaikan anggota AHW yakni KH Anwar Iskandar.
Salah satu rumor yang kencang berembus adalah bahwa pihak Istana atau pemerintahan mendukung paket untuk memimpin PBNU. Paket tersebut dirumorkan adalah KH Miftakhul Akhyar-Gus Kikin.
Maka, jika rumor itu benar, pasangan yang terpilih dalam Muktamar ini adalah paket istana. Hanya saja, ini sebatas rumor yang tidak terkonfirmasi. Sebab, Gus Kikin sendiri mengaku tidak tahu terkait rumor adanya paket istana.
Gus Kikin sendiri adalah Ketua PWNU Jawa Timur. Gus Kikin adalah cicit dari KH Hasyim Asyari, sosok ulama penting dalam pendirian NU. Nenek dari Gus Kikin dari pihak ibunya adalah anak dari KH Hasyim Asyari.
Ahlul Halli wal Aqdi atau AHWA merupakan sebuah institusi khusus dalam struktur Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki kewenangan penting dalam menentukan kepemimpinan tertinggi organisasi. Forum ini diisi oleh tokoh-tokoh yang dinilai memiliki pengaruh, kapasitas, serta pemahaman yang kuat terhadap kehidupan jamiyyah NU.
Secara istilah, Ahlul Halli wal Aqdi memiliki makna sebagai orang-orang yang mempunyai kewenangan untuk “mengikat dan melepaskan”. Makna tersebut berkaitan dengan kewenangan yang dimiliki para anggota AHWA dalam mengambil keputusan. Keputusan yang telah ditetapkan menjadi sesuatu yang mengikat pihak-pihak yang memberikan mandat kepada mereka. Sementara itu, kewenangan untuk “melepaskan” menggambarkan kemampuan AHWA untuk menentukan siapa yang dapat atau tidak dapat dipilih berdasarkan hasil musyawarah dan kesepakatan.
Rais Syuriyah PBNU, KH Ahmad Ishomuddin, menjelaskan bahwa penggunaan konsep AHWA dalam NU memiliki rujukan dari sejarah Islam pada masa para sahabat. Sistem tersebut berkaitan dengan proses penentuan pemimpin setelah wafatnya Sahabat Umar bin Khattab RA.
Dalam praktiknya di lingkungan NU, AHWA memiliki peran strategis dalam proses regenerasi kepemimpinan organisasi. Para anggota AHWA bermusyawarah untuk menentukan sosok yang akan memegang posisi tertinggi di jajaran Syuriyah PBNU.
Salah satu kewenangan utama AHWA adalah membahas dan menetapkan Rais Aam PBNU dan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU. Dengan mekanisme tersebut, proses penentuan pimpinan tertinggi NU dilakukan melalui musyawarah yang melibatkan tokoh-tokoh yang mendapatkan mandat untuk menjalankan fungsi AHWA.
Keberadaan AHWA menjadi bagian dari mekanisme organisasi NU dalam menjaga proses pemilihan kepemimpinan agar berlangsung melalui pertimbangan, musyawarah, dan kesepakatan para tokoh yang memiliki kewenangan di dalamnya.
Anggota AHWA pada muktamar kali ini adalah KH urul Huda Jazuli, TGK KH Nuruzzahri Yahya, AG Dr KH Baharuddin HS MA. Kemudian, KH Miftakhul Akhyar, KH Afifuddin Muhajir, KH Anwar Iskandar, KH Anwar Mansyur, Prof Dr KH Said Aqil Siroj, Dr KH Abun Bunyamin. (kholil/nur kholifah)