Minggu, 19 September 2021

Kisah Kuda Jadi Sumber Petaka dan Bambu Wulung Berisi Udang di Kemangkon Purbalingga

ilustrasi. Gambar oleh ATDSPHOTO dari Pixabay

Ini adalah kisah yang ada di Desa Kedung Legok, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga. Berdasarkan penelitian Dwi Novijanti (2019), awalnya ada kisah tentang kuda dan seorang putri dari Majapahit di daerah Kemangkon.

Putri asal Majapahit yang bernama Puspasari itu menaiki kuda. Namun, sang putri terperosok ke lubang yang dalam bersama kudanya. Insiden itu terjadi tak jauh dari kedhung. Maka, itulah mengapa dinamakan Kedung Legok.

Sejak saat itu, masyarakat berkeyakinan bahwa kuda akan membuat petaka. Maka, tak ada satu orang pun  di Kedung Legok yang berani memiliki kuda. Bahkan, hal yang berbau kuda pun dilarang. Misalnya tak boleh mengadakan pertunjukan ebeg.

Terkait larang kuda itu, ada sebuah kisah dari orang dari luar Kedung Legok. Saat itu, dia menaiki kuda dan akan melewati daerah Kedung Legok. Namun, sontak kuda meringkik dan menolak melewati Kedung Legok. Karena itu, akhirnya orang tersebut memilih jalan lain. Ada juga cerita warga meninggal dunia diyakini karena memelihara kuda.

Selain soal kuda, di Kedung Legok ada juga daerah yang ditumbuhi pohon bambu wulung. Bambu tersebut dipercaya ada penunggunya yakni sosok orangtua yang wujudnya menyerupai macan.

Pernah satu ketika ada orang yang tak paham dengan daerah itu. Lalu membelah bambu wulung tersebut. Ternyata setelah dibelah berisi udang besar dan air. Pada akhirnya bambu itu dikembalikan ke tempat semula.

Kisah seperti di Kedung Legok adalah salah satu dari banyak kisah di Banyumas Raya tentang asal usul sebuah tempat. Di Banyumas Raya yakni Kabupaten Banyumas, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Purbalingga, dan Kabupaten Banjarnegara banyak cerita rakyat yang dipercaya warga.

Misalnya di Banjarnegara juga ada kisah-kisah tentang asal usul tempat. Misalnya asal muasal Desa Batur, yakni kisah Raja Kejawan yang mengutus Ki Batur untuk berperang. Saat peperangan, Ki Batur meninggal. Tempat meninggalnya Ki Batur kemudian disebut Batur.

Selani cerita, sampai sekarang masih ada warga yang percaya terhadap larangan yang turun temurun. Tidak sedikit yang menurunkan kepercayaan ke anak cucunya agar hal itu terus lestari.

Referensi:

Dwi Novijanti: Legenda Asal Usul Nama-nama Desa di Kecamatan Kemangkon Kabupaten Purbalingga

Khotami Nursa’ah: Inventarisasi Cerita Rakyat di Kabupaten Banjarneagara

 

Berita Terkait

Berita Terkini