
SERAYUNEWS – Isra’ dan Mi’raj merupakan salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam. Cek kisah lengkap di artikel ini.
Peristiwa luar biasa ini menjadi bukti kebesaran Allah Subhanahu Wa Taala (SWT) sekaligus keistimewaan yang hanya dianugerahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW).
Melalui perjalanan mulia ini, umat Islam menerima salah satu ibadah terpenting, yakni kewajiban shalat lima waktu.
Secara ringkas, Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina.
Sementara Mi’raj adalah perjalanan lanjutan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha untuk menghadap langsung kepada Allah SWT, ditemani oleh Malaikat Jibril.
Peristiwa Isra’ Mi’raj ditegaskan langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam surat Al-Isra ayat 1:
Artinya: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjid Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Ayat ini menjadi landasan kuat bahwa Isra’ Mi’raj bukan sekadar kisah spiritual, melainkan peristiwa nyata yang terjadi atas kehendak Allah SWT.
Imam Bukhari mengisahkan perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dalam Shahih Bukhari, juz 5 halaman 52.
Diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW sedang berada di dalam kamar dalam keadaan tidur.
Malaikat datang, membelah dada Nabi, mengeluarkan hatinya, lalu menyucikannya.
Setelah itu, hati Nabi diisi dengan iman dan dikembalikan ke tempat semula.
Perjalanan kemudian dimulai dengan mengendarai buraq, hewan tunggangan istimewa, ditemani Malaikat Jibril. Nabi Muhammad SAW dibawa menuju langit demi langit.
Di setiap lapisan langit, Nabi bertemu dengan para nabi terdahulu.
Di langit pertama, Nabi Muhammad SAW bertemu Nabi Adam AS.
Jibril meminta Nabi Muhammad SAW untuk mengucapkan salam, yang kemudian dibalas dengan penuh kehangatan. Di langit kedua, Nabi bertemu Nabi Yahya dan Nabi Isa.
Langit ketiga mempertemukan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Yusuf. Di langit keempat, beliau bertemu Nabi Idris. Di langit kelima, Nabi Harun menyambut kedatangannya.
Di langit keenam, Nabi Musa AS menangis karena umat Nabi Muhammad SAW kelak lebih banyak yang masuk surga. Di langit ketujuh, Nabi Muhammad SAW bertemu Nabi Ibrahim AS.
Perjalanan berlanjut menuju Sidratul Muntaha, tempat Nabi Muhammad SAW bermunajat dan berdoa kepada Allah SWT.
Dari sana, beliau dibawa menuju Baitul Makmur, baitullah di langit ketujuh yang sejajar dengan Ka’bah di bumi.
Setiap hari, tujuh puluh ribu malaikat masuk dan thawaf di dalamnya, dan tidak pernah kembali lagi.
Di tempat ini, Nabi Muhammad SAW disuguhi arak, susu, dan madu. Nabi memilih susu, lalu Malaikat Jibril berkata:
“Susu adalah lambang dari kemurnian dan fitrah yang menjadi ciri khas Nabi Muhammad dan umatnya.”
Di Baitul Makmur, Allah SWT mewajibkan shalat sebanyak lima puluh kali sehari.
Dalam perjalanan kembali, Nabi Muhammad SAW bertemu Nabi Musa AS yang menyarankan agar meminta keringanan. Nabi Musa AS berkata:
“Umatku telah membuktikannya.”
Nabi Muhammad SAW kemudian kembali menghadap Allah SWT beberapa kali hingga akhirnya kewajiban shalat diringankan menjadi lima waktu sehari semalam. Meski demikian, pahalanya tetap setara dengan lima puluh kali shalat.
Imam Ibnu Katsir dalam Bidayah wa Nihayah, Sirah Nabawiyah, juz 2 halaman 94 menceritakan bahwa keesokan harinya Nabi Muhammad SAW menyampaikan peristiwa Isra’ Mi’raj kepada kaum Quraisy.
Banyak dari mereka yang mengingkari, bahkan sebagian kaum muslimin menjadi murtad karena tidak percaya.
Namun, Abu Bakar Ash-Shiddiq tampil membela dan membenarkan Nabi Muhammad SAW dengan berkata:
“Sungguh aku percaya terhadap berita dari langit, apakah yang hanya tentang berita Baitul Maqdis aku tidak percaya?”
Sejak saat itu, Abu Bakar mendapat gelar Ash-Shiddiq, orang yang sangat jujur dan membenarkan kebenaran.
Ali Muhammad Shalabi dalam Sirah Nabawiyah: ‘Irdlu Waqâi’ wa Tahlîl Ihdats menjelaskan sejumlah hikmah besar dari Isra’ Mi’raj.
Pertama, kemuliaan dan keistimewaan Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini terjadi setelah wafatnya Sayyidah Khadijah dan Abu Thalib, masa paling berat dalam kehidupan Nabi.
Allah SWT menguatkan hati Nabi dengan memperlihatkan kebesaran-Nya secara langsung.
Kedua, kewajiban shalat lima waktu. Shalat menjadi sarana mi’raj bagi setiap muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dengan shalat yang khusyuk, seseorang akan terjaga dari perbuatan tercela dan terdorong melakukan kebaikan.
Ketiga, Isra’ Mi’raj sebagai perjalanan luar angkasa pertama dalam sejarah manusia.
Peristiwa ini menjadi inspirasi agar umat Islam terus belajar, bangkit, dan unggul dalam sains dan teknologi.
Keempat, kewajiban membela Masjidil Aqsha. Penyebutan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha menegaskan bahwa Masjidil Aqsha adalah bagian dari tempat suci umat Islam.
Membelanya berarti membela agama Islam, sesuai kemampuan masing-masing.
Peristiwa Isra’ Mi’raj bukan sekadar kisah masa lalu, tetapi sumber nilai, kekuatan iman, dan pedoman hidup bagi umat Islam hingga hari ini.***