
Cilacap, serayunews.com
Koordinator Lapas se-Nusakambangan Jalu Yuswa Panjang menyampaikan bahwa potensi sejumlah ancaman keamanan di Nusakambangan telah terdeteksi diantaranya, adanya pembalakan liar di hutan Nusakambangan yang terpantau dengan CCTV drone milik Lapas belum lama ini.
“Itu terjadi sekitar bulan April-Mei kemarin. Artinya, kalau pohon yang di puncak itu habis, kan serapan air yang dibutuhkan untuk kita warga Nusakambangan baik itu petugas akan berkurang, ini salah satu ancaman buat kita ke depan,” ujar Jalu usai rapat evaluasi di Hotel Dafam Cilacap.
Selain pembalakan liar, Jalu juga menyampaikan adanya indikasi perburuan hewan liar di Nusakambangan, sebab disana terdapat hewan dilindungi seperti macan kumbang (macan tutul) serta sejumlah hewan lain yakni kancil dan babi yang merupakan makanan dari macan kumbang.
“Setiap mereka ditangkap berburu ‘saya kan hanya nembak kancil, saya hanya nembak babi tidak nembak macan’. Cuma masalahnya kancil dan babi adalah makanan macan, kalau mereka habis kan jadi pertanyaan besar, siapa makanan mereka berikutnya, apakah kami? Itu barangkali salah satu ancaman yang harus kita selesaikan supaya ke depan lebih baik,” ujarnya.
Selain itu, warga yang sudah puluhan tahun bermukim dan menggarap lahan di Nusakambangan juga menjadi ancaman, dimana saat lahan akan digunakan untuk pembangunan Lapas baru, meraka minta ganti rugi.
“Jadi ada lahan penduk masuk ke kita, itu murni milik Nukambangan, terimbas oleh pembangunan Lapas yang baru, dan mereka ngotot untuk minta ganti rugi, padahal mereka tahu itu tanah Nusakambangan, mereka hidup berpuluh tahun di Nusakambangan dan tidak pernah di pungut apapun oleh pihak Nusakambangan. Disaat tanah itu diminta jadi masalah, ini akan jadi masalah ke depannya,” katanya.
Sedangkan upaya yang telah dilakukan pihak Lapas dengan melibatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) kembali menanami hutan gundul yang dibalak dengan menanam pohon petai agar kayunya tidak diincar jadi kayu olahan namun buahnya bisa jadi komoditi. Selain itu, petugas juga menelusuri dan menutup jalan (jalur tikus) dan memeberikan sosialisasi kepada warga sekitar di Kampung Laut.
“Dari titik kosong tempat pembalakan itu, kita telusuri jalan (jalur tikus) itu sudah kita tutup tapi geser, jadi jalan itu supaya tidak dilalui terus menerus, memang kita pernah menangkap tapi selesai begitu saja, memang banyak keterlibatan dari mana-mana bukan dari kita,” ujarnya.
Jalu menambahkan, terkait hal tersebut pihaknya juga sudah melaporkan ke aparat penegak hukum, yang ditindaklanjuti dengan operasi di Wilayah Nusakambangan.
“Ini juga sudah kita coba sampaikan ke APH (aparat penegak hukum), dan dari kemarian sudah ada 2 minggu kedepan akan mengeroperasi terus di wilayah barat Nusakambangan,” ujarnya.