
SERAYUNEWS – Fungsi Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga RU IV Cilacap disebut memiliki peran strategis mendukung keberlangsungan operasional perusahaan sekaligus menciptakan dampak sosial berkelanjutan bagi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Officer CSR & SMEPP RU IV Cilacap, Lifania Riski Nugrahani saat menjadi dosen tamu pada kuliah umum Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta di auditorium kampus setempat, Selasa (12/5).
Lifania menjelaskan konsep Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan terus berkembang melalui empat tahapan utama.
Dimulai dari pendekatan charity berupa bantuan sosial satu kali, berkembang menjadi community development yang fokus pada pemberdayaan masyarakat. Dilanjutkan dengan sustainability yang memastikan keberlanjutan program pascaintervensi, hingga konsep ESG dan shared value yang menciptakan nilai manfaat bagi masyarakat dan perusahaan.
“Program TJSL saat ini tidak lagi sekadar bantuan sesaat, tetapi bagaimana menciptakan sistem yang mampu memberikan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan secara berkelanjutan,” ujar Lifania.
Dicontohkan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Dusun Bondan, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap. Program tersebut kini telah mandiri dan dikelola langsung oleh masyarakat setelah intervensi perusahaan selesai dilaksanakan.
Ia juga menjelaskan fungsi Communication, Relations & CSR memiliki peran penting menjaga kondusivitas operasional perusahaan. Divisi ini berperan menghadapi berbagai risiko operasional hingga potensi gangguan sosial.
Menurutnya, terdapat tiga fungsi utama, yakni pengelolaan hubungan publik (public relation) untuk meredam isu yang berkembang, pengelolaan hubungan dengan pemangku kepentingan (stakeholder management), serta implementasi program TJSL.
Terkait penyelesaian konflik sosial, Lifa menyebut mekanisme yang diterapkan meliputi pencegahan dini, identifikasi aktor, dialog multipihak, mediasi netral, hingga pencapaian solusi yang saling menguntungkan bagi seluruh pihak.
Dalam sesi kuliah umum, peserta juga diajak membahas studi kasus praktik CSR RU IV Cilacap melalui program MAMAKU SIGAP di Kelurahan Kutawaru, Cilacap.
Program tersebut hadir sebagai solusi sejumlah persoalan sosial dan lingkungan seperti penumpukan sampah laut, rendahnya tingkat ekonomi masyarakat di bawah UMK Cilacap, hingga keterbatasan akses pendidikan.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR RU IV Cilacap, Agustiawan menilai forum akademik seperti ini penting sebagai sarana penyebarluasan informasi profil dan kontribusi perusahaan dalam membantu penyelesaian persoalan sosial kemasyarakatan.
“Forum ini juga menjadi ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa mengenai praktik pengelolaan konflik dan implementasi CSR di perusahaan energi seperti Pertamina,” ujar Agustiawan.
Kuliah umum berlangsung akrab dan interaktif dengan diikuti mahasiswa program sarjana Mata Kuliah Konflik di Kawasan Industri dan Pemberdayaan Masyarakat serta mahasiswa magister Mata Kuliah Manajemen CSR dan Resolusi Konflik.