
PURWAKARTA, SERAYUNEWS – Nama Saepul Bahri Binzein, Bupati Purwakarta periode 2025–2030 yang akrab disapa Om Zein, tengah menjadi perbincangan luas di media sosial.
Bukan karena kebijakan pemerintah daerah, melainkan lagu ciptaannya yang berjudul “Lalaki Langit, Lalanang Bejat”.
Lagu berbahasa Sunda tersebut mendadak viral setelah potongan videonya beredar di berbagai platform media sosial.
Di satu sisi, sebagian masyarakat menilai lagu itu merupakan bentuk satire atau sindiran yang dikemas dengan gaya humor khas Sunda.
Namun di sisi lain, tidak sedikit yang menganggap liriknya mengandung stereotipe terhadap perempuan hingga dinilai merendahkan martabat perempuan.
Polemik pun semakin meluas karena pencipta lagu tersebut merupakan seorang kepala daerah yang tengah menjabat.
Akibatnya, setiap bait lagu ikut dikaji dan diperdebatkan oleh masyarakat maupun pegiat isu kesetaraan gender.
Nuhun Gusti Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Cacak mun jadi awewe
Es-Em-Pe Kelas Tilu Tos karuron tujuh kali
Nuhun Gusti Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Teu kudu meuli kutang
Itu busana leuwih gede batan susu
Nuhun Gusti
Tos nyiptakeun kurng jadi lalaki
Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek
Alatan telat bulan
Nuhun Gusti
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Teu kudu ngalukis halis jeung bulu mata
Sakalina ngiceup hese beunta.
Lirik tersebut menggunakan bahasa Sunda dengan gaya bertutur yang ringan.
Namun, isi setiap bait justru memicu perdebatan karena menyentuh persoalan biologis perempuan, penampilan, hingga kehamilan.
Secara harfiah, “Lalaki Langit” berarti laki-laki langit, sedangkan “Lalanang Bejat” dapat dimaknai sebagai laki-laki bejat atau laki-laki yang memiliki perilaku buruk.
Lagu dibuka dengan ungkapan syukur seorang tokoh kepada Tuhan karena terlahir sebagai laki-laki.
“Nuhun Gusti, tos nyiptakeun kuring jadi lalaki.”
Artinya:
“Terima kasih Tuhan, sudah menciptakan aku menjadi laki-laki.”
Setelah itu, lagu menghadirkan berbagai pengandaian mengenai kehidupan apabila tokoh tersebut lahir sebagai perempuan.
Justru bagian inilah yang kemudian menuai banyak kritik karena dianggap menggambarkan perempuan melalui sejumlah stereotipe.
Salah satu bagian yang paling banyak diperdebatkan adalah penggalan berikut.
“Cacak mun jadi awewe, ES-Em-Pe kelas tilu, tos karuron tujuh kali.”
Secara sederhana, kalimat tersebut berarti:
“Andai menjadi perempuan, saat SMP kelas tiga sudah keguguran tujuh kali.”
Lirik itu menggambarkan kondisi ekstrem mengenai kehamilan di usia remaja yang disertai keguguran berulang.
Sejumlah pihak menilai penggambaran tersebut terlalu berlebihan dan berpotensi mengaitkan identitas perempuan dengan persoalan kehamilan di luar nikah.
Kritik muncul karena narasi semacam itu dinilai dapat memperkuat stigma terhadap perempuan.
Perdebatan juga muncul dari bait berikut.
“Teu kudu meuli kutang, itu busana leuwih gede batan susu.”
Dalam bahasa Indonesia, kalimat tersebut berarti seseorang tidak perlu membeli bra dengan busa yang lebih besar daripada ukuran payudara.
Sebagian masyarakat memahami bait tersebut sebagai sindiran terhadap penggunaan bra berbusa atau push-up bra.
Namun, banyak pula yang menilai lirik tersebut menjadikan tubuh perempuan sebagai bahan candaan sehingga dianggap kurang sensitif.
Bagian lain yang memicu kontroversi berbunyi:
“Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek alatan telat bulan.”
Artinya:
“Tidak perlu mondar-mandir ke apotek karena telat datang bulan.”
Lirik tersebut dipahami sebagai gambaran perempuan yang merasa khawatir ketika mengalami keterlambatan menstruasi karena takut sedang hamil.
Bagi sebagian pendengar, bait tersebut merupakan bentuk humor. Namun, kritik bermunculan karena dianggap memperkuat stereotipe bahwa perempuan selalu dikaitkan dengan persoalan reproduksi.
Lagu juga menyinggung penggunaan riasan wajah melalui lirik berikut.
“Teu kudu ngalukis halis jeung bulu mata, sakalina ngiceup hese beunta.”
Maknanya kurang lebih adalah tidak perlu menggambar alis maupun memakai bulu mata yang berlebihan hingga sulit membuka mata saat berkedip.
Penggalan ini dipahami sebagai sindiran terhadap tren penggunaan alis dan bulu mata palsu.
Sebagian orang menganggapnya sebagai kritik sosial yang dibungkus humor, sementara lainnya menilai candaan tersebut tetap berpotensi merendahkan pilihan perempuan dalam berpenampilan.
Lagu diakhiri dengan kalimat:
“Lalaki langit, lalanang bejad.”
Kalimat ini banyak ditafsirkan sebagai bentuk pengakuan tokoh dalam lagu.
Meski bersyukur dilahirkan sebagai laki-laki, tokoh tersebut juga menyebut dirinya sebagai laki-laki yang “bejat” atau memiliki perilaku buruk.
Penafsiran terhadap bagian penutup ini masih beragam. Ada yang memandangnya sebagai kritik terhadap perilaku laki-laki.
Sementara yang lain menganggap keseluruhan lagu lebih banyak mengarahkan humor kepada perempuan sehingga pesan akhirnya menjadi kurang tersampaikan.***