
SERAYUNEWS- Doa mandi gerhana bulan untuk ibu hamil kerap dicari setiap kali fenomena langit ini terjadi. Sebagian masyarakat meyakini ritual tersebut dapat melindungi ibu dan janin dari bahaya.
Namun, benarkah praktik ini memiliki dasar dalam Islam dan ilmu kesehatan?
Fenomena gerhana bulan memang sering dikaitkan dengan berbagai tradisi turun-temurun. Salah satunya adalah kepercayaan bahwa ibu hamil harus mandi saat gerhana agar bayi terhindar dari cacat atau gangguan tertentu.
Melansir berbagai sumber, berikut Serayunews sajikan ulasannya secara komprehensif dari perspektif syariat Islam, budaya, hingga medis.
Dalam ajaran Islam, setiap amalan harus memiliki landasan yang jelas dari Al-Qur’an, hadis, atau pendapat ulama. Praktik mandi gerhana bulan khusus untuk ibu hamil tidak memiliki dalil yang secara spesifik memerintahkannya.
Namun, sebagian ulama memang menyebutkan anjuran mandi ketika terjadi gerhana, baik gerhana matahari (kusuf) maupun gerhana bulan (khusuf), untuk kaum muslim secara umum.
Keterangan ini dapat ditemukan dalam kitab Kifayatul Akhyar karya Taqiyuddin Abu Bakar al-Husaini.
Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa mandi saat gerhana termasuk dalam kategori mandi yang disunahkan, bersama mandi Jumat, mandi hari raya, dan mandi istisqa’. Artinya, anjuran ini berlaku umum bagi umat Islam, bukan dikhususkan bagi ibu hamil.
Bagi muslim yang ingin melaksanakan mandi sunah gerhana bulan, berikut bacaan niatnya:
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِخُسُوْفِ القَمَرِ سُنَّةً لِلهِ تَعَالَى
Nawaitul ghusla li khusuufil qomari sunnatal lillaahi ta’aala.
Artinya: “Aku niat mandi karena terjadi gerhana bulan, sunnah karena Allah Ta’ala.”
Sekali lagi, niat ini bersifat umum dan tidak diperuntukkan secara khusus bagi ibu hamil.
Kepercayaan mandi gerhana bagi ibu hamil lebih kuat berakar pada tradisi budaya dibanding dalil agama.
Beberapa penelitian akademik mencatat adanya ritual mandi saat gerhana di sejumlah daerah. Misalnya, kajian budaya dari Universitas Hasanuddin yang membahas tradisi appassili pada masyarakat Makassar. Ada pula penelitian dari STIKes Dharma Husada Bandung terkait praktik budaya Sunda saat gerhana.
Di Jawa, dikenal pula tradisi Bancakan Sega Ulih yang diteliti dalam jurnal kebudayaan setempat. Dalam ritual ini, ibu hamil diminta mandi saat gerhana dengan perlengkapan tertentu sebagai simbol penyucian diri.
Secara filosofis, ritual tersebut dimaknai sebagai bentuk ikhtiar dan perlindungan simbolik. Namun, keyakinan bahwa bayi bisa lahir cacat jika ibu tidak mandi saat gerhana tidak memiliki dasar ilmiah.
Berikut beberapa mitos yang masih beredar di masyarakat:
1. Ibu hamil tidak boleh keluar rumah
Mitos ini muncul karena suasana gelap saat gerhana di masa lampau berpotensi menimbulkan kecelakaan. Kini, dengan pencahayaan modern, larangan tersebut tidak relevan.
2. Tidak boleh memegang benda tajam
Larangan ini lebih berkaitan dengan faktor keamanan saat kondisi minim cahaya, bukan karena pengaruh gaib gerhana.
3. Dilarang memakai perhiasan logam
Tidak ada bukti medis bahwa logam saat gerhana memengaruhi kondisi janin.
4. Tidak boleh mandi
Secara medis, mandi aman dilakukan selama kondisi kamar mandi tidak licin dan suhu air sesuai.
5. Tidak boleh melihat gerhana
Melihat gerhana bulan aman dengan mata telanjang. Berbeda dengan gerhana matahari yang berisiko bagi retina mata menurut lembaga antariksa seperti NASA.
6. Tidak boleh minum air
Justru ibu hamil harus cukup cairan untuk mencegah dehidrasi.
7. Tidak boleh makan makanan yang dimasak sebelum gerhana
Larangan ini kemungkinan muncul karena faktor keamanan pangan di masa lalu, bukan karena efek gerhana itu sendiri.
Dalam Islam, amalan utama ketika gerhana adalah melaksanakan salat sunah khusuf. Allah SWT berfirman dalam QS Fushshilat ayat 37 agar manusia tidak menyembah matahari dan bulan, melainkan hanya kepada-Nya.
Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadis riwayat Muhammad yang tercantum dalam kitab sahih karya Al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj bahwa gerhana merupakan tanda kekuasaan Allah, bukan karena kematian atau kelahiran seseorang.
Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak zikir, doa, dan salat ketika gerhana terjadi bukan terfokus pada ritual tanpa dasar dalil.
Rangkaian gerhana berlangsung selama kurang lebih 5 jam 41 menit, dengan durasi totalitas hampir 59 menit.
Berikut rincian waktunya berdasarkan zona waktu Indonesia:
1. Awal Gerhana Penumbra (P1)
· WIB: 15.42.44
· WITA: 16.42.44
· WIT: 17.42.44
2. Awal Gerhana Sebagian (U1)
· WIB: 16.49.46
· WITA: 17.49.46
· WIT: 18.49.46
3. Awal Gerhana Total (U2)
· WIB: 18.03.56
· WITA: 19.03.56
· WIT: 20.03.56
4. Puncak Gerhana
· WIB: 18.33.39
· WITA: 19.33.39
· WIT: 20.33.39
5. Akhir Gerhana Total (U3)
· WIB: 19.03.23
· WITA: 20.03.23
· WIT: 21.03.23
6. Akhir Gerhana Sebagian (U4)
· WIB: 20.17.33
· WITA: 21.17.33
· WIT: 22.17.33
7. Akhir Gerhana Penumbra (P4)
· WIB: 21.24.35
· WITA: 22.24.35
· WIT: 23.24.35
Untuk wilayah Sumatera Barat, puncak gerhana diperkirakan terjadi sekitar pukul 18.33 WIB, bertepatan dengan waktu menjelang berbuka puasa.
Saat puncak gerhana, bulan akan tampak merah akibat hamburan cahaya matahari oleh atmosfer bumi. Fenomena ini aman disaksikan tanpa alat bantu khusus.
Dari sudut pandang medis, cacat lahir lebih dipengaruhi oleh faktor genetik, infeksi, kekurangan nutrisi, atau paparan zat berbahaya selama kehamilan. Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan hubungan langsung antara gerhana bulan dan kelainan pada janin.
Sebaliknya, menjaga kesehatan selama hamil jauh lebih penting, seperti:
Praktik mandi gerhana bulan untuk ibu hamil lebih merupakan tradisi budaya daripada ajaran agama. Dalam Islam, mandi gerhana bersifat sunah secara umum dan tidak dikhususkan bagi ibu hamil.
Sementara itu, dari sisi medis, tidak ada bukti bahwa gerhana memengaruhi kondisi janin.
Ibu hamil tetap boleh beraktivitas seperti biasa saat gerhana bulan, selama menjaga keselamatan dan kesehatan diri.