Rabu, 5 Oktober 2022

Manfaatkan Stik Es Krim, Santri Ponpes Tanbihul Ghofilin Banjarnegara Adu Kreasi Miniatur Unik

Siswa MTs Tanbihul Ghofiliin Banjarnegara, pamerkan beragam karya kreatif memanfaatkan stik es krim, Senin (19/9/2022) . (Dok MTs Tanbihul Ghofiliin Banjarnegara)

Bagi sebagian orang, barang bekas seperti stik es krim mungkin hanya akan terbuang sia-sia. Tapi di tangan para siswa MTs Tanbihul Ghofiliin (TanGho) Banjarnegara, barang bekas ini bisa menjadi barang-barang unik dan menarik.


Banjarnegara, serayunews.com

Siswa MTs di Pondok Pesantren Tanbihul Ghofiliin menyulap stik es krim menjadi aneka miniatur-miniatur bangunan unik yang cantik. Hal tersebut seperti terlihat saat para siswa MTs ini, pamerkan kerajinan tangan di lingkungan Pondok Pesantren Tanbihul Ghofiliin Banjarnegara, Senin (19/9/2022).

Aneka bangunan seperti masjid, rumah adat, hingga menara berdiri kokoh layaknya karya profesional. Tak hanya itu, melalui kegiatan ini, para siswa juga dituntut untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan barang bekas menjadi nilai ekonomi.

Sejumlah karya siswa ini, sebagai bagian dari tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia dalam materi laporan hasil percobaan. Seluruh siswa kelas 9 mengikuti pameran bertajuk ‘Bridge stick Party’ yang menyajikan karya luar biasa.

Ketua OSIM MTs Tanbihul Ghofiliin Banjarnegara, Labib Egi mengatakan, aneka karya rancang bangun oleh siswa ini merupakan bagian dari pemanfaatan barang bekas, seperti stik es krim, kardus, kapas, hingga tusuk sate.

“Di tengah kepadatan kegiatan kami sebagai santri, ternyata para siswa mampu menghasilkan karya yang luar biasa. Kerajinan ini tentu menjadikan kami lebih bersemangat dalam berkreasi. Apalagi pembuatan karya ini di tengah keterbatasan kami sebagai seorang santri,” katanya.

Potensi Luar Biasa

Wakil Kepala MTs Tanbihul Ghifiliin Bidang Kurikulum M Ulin Albab menilai, bahwa karya siswa ini sangat luar biasa. Melalui kegiatan ini banyak potensi siswa yang ternyata sangat luar biasa.

“Kami sangat paham betul bagaimana para siswa ini harus mengatur waktu antara sekolah dan kegiatan di pesantren. Namun mereka mampu menghasilkan karya yang sangat luar biasa,” katanya.

Dia juga berharap, kegiatan ini bisa terus dikembangkan di sekolah. Sehingga barang bekas ini memiliki nilai jual yang lebih. Ajang ini juga perlu pengemasan lebih baik lagi, demi menggali potensi kreativitas siswa.

“Saya berharap kegiatan ini setiap tahun dengan tema dan konsep yang berbeda, sehingga potensi kreativitas siswa siswi MTs TanGho akan terus tergali,” katanya.

Berita Terpopuler

Berita Terkini