
PURWOKERTO, SERAYUNEWS– Krisis air selalu dialami oleh warga Desa Kedungwuluh Lor, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas setiap memasuki musik kemarau.
Sejumlah bagian wilayahnya yang berbentuk perbukitan, serta jenis tanah yakni tanah lempung, menjadi salah satu faktornya.
Musim kemarau saat ini, setidaknya sudah sejak sekitar 3 bulan, rata-rata sumur warga sudah tidak bisa lagi diambil airnya. Begitu juga dengan program Pamsimas yang sudah tidak bisa lagi dimanfaatkan.
Kepala Dusun 1 Desa Kedungwuluh Lor, Sidik menyampaikan, di wilayah RT 5 RW 2, sekitar 60 KK terdampak akibat sumur warga yang telah lama mengering.
“Sumur sudah kering sekitar tiga bulanan. Pamsimas macet dan kering juga, sedangkan sumur sudah tidak mencukupi,” katanya.
Di wilayah tersebut, ada sebuah mata air (belik) yang masih lumayan bagus. Ketika kondisi seperti ini, warga mengandalkan air dari belik tersebut. Setidaknya bisa untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi serupa juga dialami warga wilayah RT 3 RW 3 lebih parah. Sekitar 50 KK atau sekitar 200 jiwa terdampak kekeringan.
Salah seorang warga, Noviatun (29), mengatakan hanya untuk memenuhi kebutuhan mandi saja sangat terbatas. Sementara keberadaan belik belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga.
“Belik ada, tapi kalau banyak yang pakai ya berkurang juga dan tetap kurang,” ujarnya.
Ia menjelaskan wilayah tempat tinggalnya memang berada di dataran tinggi sehingga hampir setiap musim kemarau selalu mengalami kesulitan air.
“Pamsimas ada, tapi seret. Kadang mengalir, kadang tidak. Sumur rata-rata sedalam 17 meter, tetapi airnya tinggal sedikit, paling pagi agak lumayan,” kata dia.
Sementara itu Ketua RT 3 RW 3 Desa Kedungwuluh Lor, Tikam, mengatakan kondisi tanah lempung di wilayah tersebut membuat sumber air tanah sulit ditemukan.
“Tanahnya lempung, jadi susah keluar mata air. Menggali sumur sampai puluhan meter pun belum tentu keluar air. Pamsimas juga tidak sampai ke sini,” katanya.
Menurutnya, air sumur yang masih tersisa hanya dimanfaatkan sebagai air minum, sedangkan kebutuhan mandi dan mencuci mengandalkan belik maupun bantuan air bersih dari BPBD.
“Kalau kekeringan kami memang selalu mengajukan bantuan. Tahun ini ini dropping yang pertama,” katanya.
Sabtu (11/07/2026) lalu, untuk kali pertama desa tersebut mendapatkan bantuan air bersih dari BPBD. “Bantuan dropping air ini yang pertama kali kami terima pada musim kemarau tahun ini,” ujarnya.