
PURWOKERTO, SERAYUNEWS — Bagi civitas akademika Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, ikon Patung Kuda Jenderal Soedirman tentu sudah tidak asing lagi. Namun, di balik megahnya monumen tersebut, beredar mitos yang melekat di kalangan mahasiswa bahwa berfoto di depan patung kuda dipercaya bisa bikin mahasiswa lulusnya lama.
Lantas, bagaimana tanggapan para mahasiswa Unsoed yang merupakan gen Z, terkait legenda urban kampus satu ini?
Cerita mengenai fenomena patung kuda ini rupanya sudah diturunkan dari generasi ke generasi mahasiswa.
“Saat saya maba, saya pernah dengar mitos itu di kelompok ospek. Bahkan saat perkuliahan ada salah satu dosen yang pernah menyebut mitos itu. Tapi ya menurutku sampai sekarang hanya mitos saja,” ungkap Cindy, mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia semester 5, Rabu (26/8/2026).
Hal senada diakui oleh Arya, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis semester 6. Ia menyebut rumor ini tidak hanya menyasar mahasiswa baru, melainkan berlaku untuk semua angkatan.
Meskipun mayoritas mahasiswa menyadari bahwa rumor tersebut tidak terbukti secara ilmiah, beberapa di antaranya mengaku tetap enggan mengambil risiko berfoto di spot tersebut.
Cindy menambahkan bahwa efek mitos ini cukup kuat memengaruhi psikologis mahasiswa.
“Nggak percaya sih, tapi masih nggak berani aja buat foto di depan patung kuda. Ya karena udah telanjur kedistraksi dan buat jaga-jaga aja, takutnya mitosnya beneran,” selorohnya.
Di sisi lain, Widya, mahasiswa Teknologi Pangan, menilai spot tersebut sudah terlalu umum.
“Percaya nggak percaya sih, cuma menganggap itu mitos. Saya pribadi nggak pernah foto di situ seumur-umur bukan karena takut nggak lulus, tapi emang malas aja dan spotnya sudah pasaran,” ujar Widya.
Fenomena mitos ini memiliki dampak nyata terhadap psikologis mahasiswa jika ditanggapi secara berlebihan. Dhayu, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, memberikan pandangan kritis terkait dampak saran autosugesti dari mitos ini.
“Secara pribadi saya tidak percaya. Tapi kalau ada yang merasa kelulusannya terhambat setelah foto, alasan yang masuk akal adalah timbulnya rasa paranoid atau terlalu memikirkan mitos tersebut secara berlebihan. Stres berat akibat memikirkan mitos bisa memicu migrain dan kelelahan berlebih,” jelas Dhayu.
Dhayu menegaskan bahwa kelulusan sepenuhnya ditentukan oleh tindakan individu dalam menyelesaikan hambatan akademis, seperti pengerjaan skripsi dan komunikasi dengan dosen pembimbing.
Pandangan unik juga disampaikan oleh Dimas, mahasiswa Teknik, yang menanggapi fenomena ini dengan gaya santai.
“Mungkin yang foto di situ karena terlalu menikmati masa-masa kuliahnya, jadi ya lulusnya lama,” tuturnya.
Sebagian besar responden sepakat bahwa faktor utama yang menentukan masa studi seorang mahasiswa adalah komitmen pribadi dan proses akademis yang dijalani, bukan tempat atau spot foto.
Beberapa mahasiswa UNSOED lain memberikan penegasan serupa:
• Chelsya (Agroteknologi): “Iya denger-denger aja. Kalau buat aku sih nggak percaya ya, lulus lama atau cepat tergantung kitanya aja.”
• Fadil Bagus Alam (Ilmu Komunikasi): “Itu cuma mitos doang. Yang bikin lama lulus ya skripsi plus revisi.”
• Dea (Alumni Administrasi Perkantoran): “Pernah denger, tapi sekarang udah lulus dan emang nggak percaya sama mitosnya.”
• Vina (FISIP) & Rajendra (Sastra Inggris): Keduanya kompak menyatakan tidak percaya karena belum pernah ada pembuktian yang valid secara akademis.
Mitos foto di Patung Kuda Unsoed pada akhirnya menjadi bagian dari dinamika dan warna kehidupan kampus di Purwokerto. Pada dasarnya, kunci kelulusan tepat waktu tetap berada di tangan masing-masing mahasiswa melalui ketekunan, manajemen waktu, dan penyelesaian tugas akhir. (Tiya monalisa)