Sabtu, 18 September 2021

Nekat Melaut! Begini Cerita Nelayan Cilacap Bertahan Hidup di Tengah Cuaca Buruk

Ratusan perahu nelayan bersandar di Pantai Teluk Penyu menunggu cuaca buruk mereda. (Ulul)

Cuaca buruk dan tidak menentu pada akhir-akhir ini melanda perairan Cilacap Jawa Tengah di puncak musim kemarau tahun ini. Meski sering terjadi gelombang tinggi dan arus kencang, sebagian nelayan Cilacap tetap melaut demi memenuhi kebutuhan hidup dimasa pandemi Covid-19.


Cilacap, serayunews.com

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI)  Cilacap Sarjono menyampaikan, bahwa saat ini nelayan Cilacap sudah kembali melaut dimasa angin timuran yang dinilai ombaknya lebih stabil dibanding dengan angin barat. Meski demikian, hasil tangkapan ikan cenderung menurun seiring dengan cuaca buruk yang masih melanda  khususnya di perairan Cilacap atau laut bagian selatan Jawa di Samudera Hindia.

“Cuaca buruk sangat pengaruh, hampir satu bulan ini cuaca tidak bersahabat, banyak nelayan yang merugi, nelayan ada yang masih menunggu, dalam minggu ini sudah ada yang melaut lagi, karena gelombang tinggi dibarengi dengan arus kencang,” ujar Sarjono dalam keterangannya, Selasa (10/08/2021).

Sementara menurut salah satu nelayan di Pantai Teluk Penyu Cilacap Andung mengatakan, meski cuaca buruk dan gelombang tinggi, ia bersama rekannya tetap pergi melaut demi memenuhi kebutuhan hidup di masa pandemi ini.

“Sekarang gelombang tinggi sekitar 3-4 meter, ini udah terbiasa, bahkan kemarin lebih tinggi sekitar 6 meter kita tempuh, yang penting bisa makan. Kalau cuaca tidak memungkinkan kita istirahat dulu, beres-beres alat barangkali ada yang rusak, ini baru bernagkat tiga hari ini, sebelunya angin besar gelombang besar jadi tidak melaut tidak ada pemasukan, ” ujarnya usai menyandarkan perahu di pantai.

Ia mengatakan, bahwa pada hari ini ia mendapat sedikit rezeki atas hasil tangkapan ikan layur sekitar 25 kg. meski dirasa masih sedikit ia tetap bersyukur masih mendapat hasil tangkapan. Sebab meski sebagai nelayan kecil, biaya bekal operasional sekali berangkat paling tidak membutuhkan ongkos hingga Rp 200 ribu.

“Hasil penjualan dipotong perbekalan dulu kemudian dibagai 3 sama bosnya, yang 2 dibagi anak buah. Hari ini berangkat sekitar jam 05.00 WIB pulang jam 12.00 WIB, mendapat sekitar 25 kg ikan layur, biaya operasional sekali berangkat sekitar Rp 200 ribu, perolehan hasil tangkapan sekitar Rp 700 ribu,” ujarnya.

Meski demikian, dalam kondisi cuaca buruk ini terkadang juga tidak mendapatkan hasil yang sesuai, sehingga pendapatan tidak sebanding dengan biaya operasional.

“Ke laut aja kalau nggak ada hasil ya sudah, mau jual apa, alhmadulillah dapat segini sudah bersyukur, yang penting bisa untuk makan, usaha lancar, karena kondisi sedang PPKM,” ujarnya.

Sementara itu, Kadafi atau sering disapa Bang Napi dari anggota Rukun Nelayan Padanarang berharap agar PPKM lebih dilonggarkan, sebab nelayan yang berada di Pantai Teluk Penyu Cilacap, selain menangkap ikan di tengah laut, juga memanfaatkan jasa transportasi air bagi wisatawan yang mau menyusuri perairan sekitar Nusakambangan dan segara anakan Cilacap. Sehingga saat kondisi cuaca buruk nelayan tidak menganggur.

“Minta tolong agar PPKM dibuka biar lancar seperti semula, sebab disini kan area pariwisata,” ujarnya.

Editor :M Amron

Berita Terkait

Berita Terkini