
SERAYUNEWS- Fenomena langit langka berupa parade 6 planet akan menghiasi cakrawala pada 28 Februari, bertepatan dengan bulan suci Ramadan.
Peristiwa astronomi ini menarik perhatian publik karena enam planet besar Tata Surya tampak sejajar dari sudut pandang Bumi dalam satu waktu yang relatif berdekatan.
Fenomena parade planet kerap dianggap istimewa karena tidak terjadi setiap tahun. Badan antariksa dunia NASA menjelaskan bahwa kesejajaran beberapa planet merupakan dampak alami dari pergerakan orbit planet-planet yang mengelilingi Matahari, bukan tanda perubahan kosmik atau kejadian luar biasa.
Di Indonesia, momen parade planet yang bersinggungan dengan Ramadan memicu beragam tafsir di masyarakat, mulai dari sudut pandang sains, budaya, hingga keagamaan.
Lantas, apa makna sebenarnya dari parade 6 planet menurut sains, dan benarkah ada pertanda khusus di baliknya? Melansir berbagai sumber, berikut Serayunews sajikan ulasannya:
Parade planet adalah istilah astronomi yang digunakan ketika beberapa planet tampak berada dalam satu garis pandang di langit malam atau dini hari.
Pada 28 Februari, enam planet yaitu Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus, dan Uranus dapat diamati dalam satu rentang waktu tertentu.
Menurut penjelasan NASA, kesejajaran ini bukan berarti planet-planet benar-benar membentuk garis lurus sempurna di ruang angkasa.
Fenomena tersebut hanyalah efek visual dari perspektif pengamat di Bumi akibat orbit planet yang berada pada bidang ekliptika yang relatif sama.
Meskipun tergolong langka, parade planet tetap merupakan kejadian alamiah yang dapat diprediksi secara ilmiah menggunakan perhitungan orbit dan simulasi astronomi modern.
NASA menegaskan bahwa parade planet tidak berdampak langsung pada kondisi Bumi, baik secara gravitasi maupun iklim. Tidak ada hubungan antara kesejajaran planet dengan gempa bumi, letusan gunung api, atau bencana alam lainnya.
Dalam sejumlah publikasi resminya, NASA menyebutkan bahwa gaya gravitasi planet-planet terhadap Bumi sangat kecil dibandingkan pengaruh Bulan dan Matahari. Oleh karena itu, fenomena ini tidak memicu perubahan ekstrem pada sistem alam Bumi.
Fenomena parade planet justru menjadi kesempatan emas bagi masyarakat untuk belajar astronomi dan memahami keteraturan alam semesta secara ilmiah.
Dalam perspektif Islam, fenomena langit seperti gerhana, peredaran planet, dan kesejajaran benda langit dipandang sebagai tanda kebesaran Allah, bukan pertanda buruk atau ramalan masa depan.
Sejumlah ulama dan pakar falak menegaskan bahwa Islam mendorong umatnya untuk mengamati alam sebagai bentuk tafakur, bukan mengaitkannya dengan mitos atau ketakutan yang tidak berdasar.
Fenomena parade planet yang terjadi di awal Ramadan dapat dimaknai sebagai momentum refleksi spiritual, memperkuat keimanan, dan mengingatkan manusia akan keteraturan ciptaan Tuhan.
Berdasarkan laporan Kompas.com dan lembaga astronomi, sebagian planet dapat diamati dengan mata telanjang, terutama Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus.
Sementara Uranus dan Merkurius membutuhkan teleskop atau binokular dengan kondisi langit yang sangat cerah.
Waktu terbaik pengamatan diperkirakan terjadi sebelum matahari terbit atau sesaat setelah matahari terbenam, tergantung posisi geografis dan kondisi cuaca di masing-masing wilayah.
Pengamat disarankan mencari lokasi minim polusi cahaya agar fenomena parade planet dapat terlihat lebih jelas.
Parade enam planet tidak sering terjadi karena setiap planet memiliki periode revolusi yang berbeda. Sinkronisasi visual seperti ini membutuhkan kombinasi posisi orbit yang tepat, sehingga hanya muncul dalam rentang waktu tertentu.
Menurut data astronomi, parade planet dengan jumlah lebih dari lima termasuk kategori fenomena langit yang jarang dan menjadi momen penting dalam kalender astronomi global.
Hal inilah yang membuat parade 6 planet pada 28 Februari menjadi perhatian besar di kalangan astronom dan pengamat langit.
Fenomena ini memberikan kesempatan edukasi bagi masyarakat untuk memahami dinamika Tata Surya secara langsung. Anak-anak dan pelajar dapat belajar tentang planet, orbit, dan pergerakan benda langit melalui pengalaman nyata.
Lembaga antariksa dan komunitas astronomi juga kerap memanfaatkan momen parade planet untuk menggelar kegiatan pengamatan publik dan edukasi sains.
Dengan pendekatan ilmiah, parade planet menjadi sarana literasi astronomi yang positif dan inspiratif.
Dari sudut pandang sains, bertepatan dengan Ramadan adalah kebetulan waktu dalam kalender Masehi dan Hijriah. Namun secara spiritual, banyak umat Muslim memaknai momen ini sebagai pengingat kebesaran Tuhan di awal bulan penuh ibadah.
Fenomena alam yang terjadi di bulan Ramadan sering dianggap sebagai ajakan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah melalui refleksi dan penghayatan ciptaan-Nya.
Makna tersebut bersifat personal dan spiritual, bukan kesimpulan ilmiah atau ramalan kejadian tertentu.
Parade 6 planet pada 28 Februari merupakan fenomena astronomi alami yang dapat dijelaskan secara ilmiah. Tidak ada bukti bahwa kesejajaran planet membawa pertanda buruk atau perubahan besar bagi kehidupan di Bumi.
Sebaliknya, fenomena ini menjadi kesempatan berharga untuk meningkatkan literasi sains sekaligus refleksi spiritual, terutama karena terjadi bertepatan dengan bulan Ramadan.
Masyarakat diimbau menikmati fenomena ini secara rasional, informatif, dan penuh rasa kagum terhadap keindahan alam semesta.