
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Dulu, Patung Kuda Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) hanya menjadi penanda jalan yang dilewati begitu saja. Kini, monumen tersebut memiliki kehidupan baru.
Setiap malam, terutama menjelang akhir pekan, kawasan di sekitarnya berubah menjadi titik kumpul yang ramai oleh obrolan, tawa, lalu-lalang mahasiswa, hingga transaksi jual beli.
Lokasinya yang strategis, berada di pinggir jalan dan dikelilingi berbagai pilihan jajanan dengan harga terjangkau, membuat Patung Kuda Unsoed semakin populer sebagai tempat nongkrong.
“Di sini itu biasanya ramai kalau malam hari, malam minggu, atau zaman maba. Biasanya juga kalau weekend atau hari besar itu ramai,” ujar Anisa, salah satu mahasiswa Unsoed yang ditemui sedang nongkrong di kawasan tersebut.
Kebiasaan itu seolah menjadi ritual kecil yang terus berulang. Selepas kegiatan kampus, mata kuliah, atau sekadar mencari suasana santai, Patung Kuda menjadi salah satu pilihan karena lokasinya dekat dan mudah dijangkau.
Keramaian di kawasan Patung Kuda tidak hanya memberikan ruang bagi mahasiswa untuk bersantai. Aktivitas tersebut ikut memberikan dampak bagi pedagang kecil yang berjualan di sekitarnya.
Salah satunya penjual bakwan kawi. Pedagang mengaku dagangannya kini lebih ramai sejak kawasan tersebut semakin sering dijadikan tempat nongkrong mahasiswa.
“Iya, Mbak. Sekarang semenjak banyak mahasiswa yang nongkrong di Patung Kuda, dagangan saya jadi tambah ramai. Biasanya mahasiswa beli bakwan kawi pakai mangkok, terus dimakan di sekitar Patung Kuda. Ramainya itu biasanya malam hari, terutama malam minggu,” ujar Alzam, pedagang Bakwan Kawi.
Bakwan kawi bahkan menjadi salah satu jajanan yang kerap dibeli mahasiswa untuk menemani aktivitas nongkrong. Makanan tersebut dibawa ke sekitar patung, kemudian disantap sembari berbincang dengan teman-teman.
Dari sisi pengeluaran, mahasiswa juga tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Rata-rata mereka hanya mengeluarkan sekitar Rp10 ribu hingga Rp20 ribu untuk membeli jajanan di sekitar kawasan Patung Kuda.
Menariknya, fungsi kawasan Patung Kuda kini tidak berhenti sebagai tempat nongkrong. Lokasi tersebut juga mulai dimanfaatkan sebagai titik Cash on Delivery (COD) oleh masyarakat, terutama mahasiswa.
Kemudahan akses dan posisi Patung Kuda yang mudah dikenali membuat lokasi tersebut kerap dipilih sebagai tempat bertemu antara penjual dan pembeli yang sebelumnya melakukan transaksi melalui platform online.
Transaksi semacam ini membuat Patung Kuda memiliki fungsi baru sebagai ruang temu antara aktivitas digital dan kehidupan sehari-hari. Penjual dan pembeli yang sebelumnya hanya berinteraksi melalui pesan singkat akhirnya bertemu secara langsung untuk menyelesaikan transaksi.
Fenomena tersebut sekilas mengingatkan pada sejumlah titik yang kemudian dikenal masyarakat sebagai pusat COD, seperti kawasan depan rumah Denny Caknan di Ngawi yang kerap menjadi lokasi pertemuan transaksi jual beli online.
Namun, di Purwokerto, aktivitas COD di Patung Kuda tumbuh secara lebih organik mengikuti kebiasaan masyarakat dan mahasiswa yang memang sudah menjadikan kawasan tersebut sebagai titik pertemuan.
Perubahan fungsi Patung Kuda memperlihatkan bagaimana sebuah ruang publik dapat berkembang mengikuti kebiasaan masyarakat. Tidak membutuhkan bangunan khusus atau fasilitas yang mewah, kawasan tersebut justru hidup karena mudah diakses dan berada dekat dengan aktivitas mahasiswa.
Pada malam hari, satu lokasi dapat memiliki berbagai fungsi sekaligus. Mahasiswa datang untuk nongkrong, pedagang mendapatkan pembeli, sementara masyarakat lainnya memanfaatkannya sebagai titik pertemuan untuk transaksi COD.
Dari yang awalnya hanya dikenal sebagai monumen atau penanda jalan, Patung Kuda kini bertransformasi menjadi ruang sosial kecil yang mempertemukan mahasiswa, pedagang, penjual online, dan pembeli.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ruang publik tidak selalu harus dibangun dengan fasilitas megah. Terkadang, tempat yang sederhana justru dapat menjadi ramai ketika lokasinya strategis, mudah dijangkau, dan perlahan dianggap sebagai ruang bersama. (Amelia Zhariif)