Selasa, 28 September 2021

Pembelajaran Tatap Muka di Jateng Berlangsung Bagus dan Akan Terus Dievaluasi

Simulasi pembelajaran tatap muka (PTM) dan pembelajaran tatap muka terbatas di Jawa Tengah berlangsung baik dan akan terus dilakukan evaluasi.


Semarang, Serayunews.com

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Suyanta mengatakan bahwa pelaksanaan simulasi PTM jenjang SMA, SMK dan SLB dilakukan di 144 satuan pendidikan, dengan total 19.362 siswa peserta.

“Total ada 144 satuan pendidikan yang melaksanakan simulasi PTM. Yakni 113 SMA, 24 SMK dan 7 SLB,” ujarnya, Senin (6/9/2021).

Sedangkan pelaksana PTM Terbatas jenjang SMA, SMK, dan SLB total satuan pendidikan sebanyak 159 sekolah dan diikuti 36.405 siswa.

“Simulasi PTM dan PTM terbatas sudah memasuki minggu kedua. Semua berjalan bagus dan baik,” lanjutnya.

Sejauh ini, belum ada laporan terkait hambatan dalam pelaksanaan simulasi PTM maupun PTM Terbatas.

“Yang masih menjadi evaluasi memang soal monitoring (pengawasan) proses pulang dan perginya naik transportasi apa,” ungkap Suyanta.

Untuk itu, pihaknya akan mengambil dua langkah. Pertama, memberikan penguatan pengawasan dalam disiplin penerapan protokol kesehatan dengan melibatkan Cabang Dinas, Pengawas, Komite Sekolah, dan Satgas Tingkat Sekolah.

Kedua, memperkuat pembelajaran model campuran melalui pemberdayaan fungsi musyawarah guru mata pelajaran.

“Penting juga peningkatan sosialisasi penerapan prokes kepada warga seluruh warga sekolah dan masyarakat sekitar melalui berbagai media yang sesuai karakter wilayah,” terangnya.

Disinggung soal kebebasan dalam berseragam, pihaknya mendukung Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang tidak mewajibkan siswa mengenakan seragam saat simulasi dan PTM terbatas.

“Kami mendukung karena memang kondisi seperti ini dan masih simulasi dan PTM terbatas. Bahkan kami melarang sekolah menjual seragam kepada siswa. Kalau mau beli ya di toko atau pasar,” imbuhnya.

Sementara Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menegaskan bahwa dirinya mengimbau Pemerintah Kabupaten/Kota agar tidak memaksakan siswa untuk berseragam.

“Tidak perlu berseragam. Orang tua ada yang sambat. Kalau yang mampu boleh tapi yang tidak mampu jangan dipaksa,” ujarnya dalam rapat koordinasi penanganan Covid-19.

Berita Terkait

Berita Terkini