
SERAYUNEWS- Perawatan paliatif masih sering disalahpahami sebagai layanan bagi pasien yang sudah tidak bisa disembuhkan. Padahal, konsep ini jauh lebih luas dan humanis.
Merujuk pada penjelasan World Health Organization (WHO), perawatan paliatif merupakan pendekatan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya yang menghadapi penyakit berat atau mengancam jiwa.
Pendekatan ini dilakukan dengan mencegah dan mengurangi penderitaan melalui identifikasi dini, penilaian yang tepat, serta pengobatan terhadap nyeri dan masalah lain baik fisik, psikologis, sosial, maupun spiritual.
Artinya, perawatan paliatif tidak hanya berbicara soal tindakan medis, tetapi juga soal empati, komunikasi, dan dukungan sosial.
Namun, siapa yang berperan dalam perawatan ini? Apakah hanya tenaga kesehatan? Jawabannya tidak. Keluarga memiliki peran sentral, terutama dalam konteks budaya Indonesia yang menjunjung tinggi kebersamaan.
Perspektif inilah yang dikembangkan oleh Dr.dr. Raditya Bagas Wicaksono, dosen Bioetika Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.
Dalam studi doktoralnya di UMC yang terafiliasi dengan University of Amsterdam, Belanda, dr. Bagas menawarkan pendekatan perawatan paliatif berbasis rumah (home palliative care) yang memadukan unsur kearifan lokal Indonesia.
Risetnya berjudul “Home Palliative Care in Indonesia: An Ethnographic Study of Family Involvement and Local Values.”
Melalui pendekatan etnografi, ia meneliti secara mendalam bagaimana keluarga Indonesia terlibat aktif dalam pengambilan keputusan medis dan perawatan anggota keluarga yang sakit berat.
“Dalam budaya Indonesia, keluarga bukan hanya pendamping, tetapi juga pengambil keputusan utama. Nilai musyawarah, gotong royong, dan kedekatan emosional menjadi kekuatan dalam proses perawatan,” jelas dr. Bagas.
Ia menegaskan bahwa model layanan kesehatan tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan budaya masyarakatnya. Karena itu, pendekatan medis yang sensitif terhadap budaya menjadi kebutuhan mendesak, terutama di negara berkembang.
Menariknya, dr. Bagas menyelesaikan studi doktoralnya dalam waktu 3 tahun 9 bulan lebih cepat dibandingkan rata-rata studi doktoral di Belanda yang berkisar antara 4 hingga 8 tahun.
Sidang disertasinya pada akhir 2025 mendapatkan apresiasi tinggi dari para pembimbing dan penguji lintas disiplin.
Penelitiannya dinilai memberi kontribusi signifikan dalam pengembangan layanan paliatif di negara berkembang, khususnya pada masyarakat dengan sumber daya terbatas namun memiliki jejaring keluarga yang kuat.
Model yang ia tawarkan dianggap relevan bagi sistem kesehatan yang belum sepenuhnya memiliki fasilitas paliatif terintegrasi, tetapi memiliki kekuatan sosial berbasis keluarga.
Keberhasilan tersebut sekaligus mengharumkan nama Unsoed di tingkat internasional.
Sebagai penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dr. Bagas merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat Indonesia.
Ia berkomitmen mengembangkan program pelayanan paliatif rumah berbasis komunitas yang sensitif terhadap budaya lokal. Program ini akan melibatkan keluarga sebagai mitra aktif tenaga kesehatan, bukan sekadar penerima informasi.
Selain itu, ia dan timnya tengah menyusun buku panduan komunikasi sensitif budaya bagi tenaga kesehatan dalam mendampingi pasien dengan penyakit serius. Panduan tersebut diharapkan membantu dokter dan perawat memahami dinamika keluarga Indonesia dalam situasi krisis kesehatan.
Sejak kembali aktif mengajar di Unsoed pada 2 Maret 2026, dr. Bagas mulai mengintegrasikan hasil risetnya ke dalam pengajaran dan pengabdian masyarakat.