
SERAYUNEWS – Daging unta disebut sebagai jenis daging merah yang paling sehat dibandingkan daging sapi dan kambing.
Hal tersebut berdasarkan pada kandungan lemak dan kolesterol yang lebih rendah sehingga lebih baik untuk menjaga kesehatan tubuh, terutama kesehatan jantung.
Selain itu, daging kambing juga memiliki kadar lemak lebih sedikit daripada daging sapi yang selama ini paling banyak masyarakat Indonesia konsumsi.
Perbandingan kandungan nutrisi ketiga jenis daging tersebut kembali menjadi perhatian publik menjelang meningkatnya konsumsi daging merah di berbagai kesempatan, termasuk saat perayaan hari besar keagamaan.
Banyak masyarakat mulai mencari jenis daging yang tetap kaya protein tetapi memiliki risiko kesehatan lebih rendah untuk konsumsi secara rutin.
Meski sama-sama termasuk daging merah, sapi, kambing, dan unta mempunyai kandungan gizi yang berbeda.
Perbedaan itu terlihat dari kadar protein, lemak, kalori, hingga kolesterol yang terkandung di dalamnya.
Faktor tersebut menjadi penentu apakah suatu jenis daging lebih aman dikonsumsi oleh orang dengan kondisi kesehatan tertentu.
Daging unta selama ini lebih populer di negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, jenis daging ini mulai banyak dibahas karena kandungan gizi lebih sehat dibandingkan daging merah lain.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa daging unta memiliki kandungan lemak dan kolesterol yang lebih rendah daripada daging sapi maupun kambing.
Oleh karena itu, daging ini lebih aman bagi orang yang ingin menjaga kadar kolesterol dan mengurangi risiko gangguan jantung.
Selain rendah lemak, daging unta juga kaya akan protein, zat besi, vitamin B kompleks, serta asam lemak tak jenuh yang baik bagi tubuh.
Kandungan nutrisi tersebut membantu menjaga daya tahan tubuh, mendukung pembentukan otot, dan membantu proses pembentukan sel darah merah.
Secara fisik, warna daging unta cenderung lebih gelap dengan serat yang lebih padat daripada daging sapi.
Teksturnya juga lebih keras sehingga memerlukan teknik memasak tertentu agar tetap empuk saat kita konsumsi.
Walaupun memiliki banyak manfaat, daging unta belum banyak ditemukan di Indonesia. Ketersediaan yang terbatas membuat konsumsi daging ini masih kalah populer daripada sapi dan kambing.
Selama ini, daging kambing sering orang anggap sebagai penyebab meningkatnya tekanan darah dan kolesterol. Namun, anggapan tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar.
Berdasarkan data kandungan gizi, daging kambing justru memiliki kadar lemak dan kolesterol lebih rendah daripada daging sapi.
Dalam 100 gram daging kambing, kandungan kolesterolnya sekitar 75 miligram. Jumlah tersebut lebih kecil daripada daging sapi yang mencapai sekitar 90 miligram kolesterol per 100 gram.
Selain itu, kandungan kalorinya juga lebih rendah. Daging kambing mengandung protein tinggi dan zat besi yang cukup baik untuk membantu mencegah anemia.
Meski demikian, aroma khas atau prengus membuat sebagian orang kurang menyukai jenis daging ini. Tekstur daging kambing juga cenderung lebih alot jika pengolahan tidak benar.
Oleh karena itu, proses memasak menjadi faktor penting untuk menjaga kualitas rasa dan tekstur daging kambing agar tetap nyaman untuk konsumsi.
Di Indonesia, daging sapi masih menjadi jenis daging merah yang paling banyak masyarakat konsumsi.
Selain mudah ditemukan, daging sapi juga dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan seperti rendang, semur, bakso, sate, hingga steak.
Kandungan protein dalam daging sapi cukup tinggi, yakni sekitar 18 hingga 26 gram per 100 gram daging. Protein tersebut penting untuk membantu memperbaiki jaringan tubuh dan menjaga massa otot.
Daging sapi juga mengandung zat besi, fosfor, seng, dan vitamin B12 yang membantu menjaga fungsi saraf dan pembentukan sel darah merah.
Namun, dibandingkan kambing dan unta, daging sapi memiliki kandungan lemak yang lebih tinggi.
Dalam 100 gram daging sapi terdapat hampir 8 gram lemak dengan jumlah kalori mencapai sekitar 179 hingga lebih dari 200 kalori tergantung bagian dagingnya.
Untuk konsumsi secara berlebihan, kandungan lemak jenuh pada daging sapi dapat meningkatkan risiko kolesterol tinggi dan gangguan kesehatan lain.
Pakar kesehatan menilai bahwa manfaat atau risiko dari konsumsi daging tidak hanya dipengaruhi jenis daging, tetapi juga cara pengolahan.
Pemasakan daging menggunakan santan berlebihan, minyak terlalu banyak, atau pembakaran hingga gosong dapat meningkatkan kandungan lemak jenuh dan menghasilkan zat yang kurang baik bagi tubuh.
Untuk menjaga nilai gizinya tetap baik, sebaiknya olah daging dengan metode yang lebih sehat seperti rebus, kukus, atau panggang menggunakan suhu sedang.
Selain itu, konsumsi daging merah sebaiknya tidak berlebihan dan perlu berimbang dengan asupan sayur, buah, serta aktivitas fisik yang cukup agar kesehatan tubuh tetap terjaga.
Berdasarkan kandungan gizinya, daging unta menjadi pilihan paling sehat karena kadar lemak dan kolesterol lebih rendah.
Meski demikian, daging sapi dan kambing tetap dapat kita konsumsi selama porsin terjaga dan pengolahan dengan cara sehat.***