
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS – Banjarnegara dikenal luas sebagai daerah asal Dawet Ayu dan pintu gerbang menuju kawasan wisata Dieng. Tak sedikit orang dari berbagai daerah memilih menetap di Banjarnegara karena pekerjaan, pendidikan, maupun pernikahan.
Namun, tinggal di lingkungan baru sering kali menghadirkan culture shock atau gegar budaya. Perbedaan bahasa, kebiasaan, hingga gaya hidup menjadi hal yang kerap membuat pendatang terkejut pada awal menetap.
Mengutip laman s1pbing.fbs.unesa.ac.id, culture shock merupakan reaksi awal seseorang saat menghadapi budaya baru yang terasa asing.
Kondisi ini dapat memunculkan rasa bingung, tidak nyaman, hingga stres karena harus beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda.
Lantas, apa saja hal yang paling sering membuat pendatang kaget saat tinggal di Banjarnegara? Berikut rangkumannya.
Bahasa sehari-hari masyarakat Banjarnegara adalah Bahasa Jawa dialek Banyumasan atau yang lebih dikenal dengan ngapak.
Bagi sebagian pendatang, intonasi bicara masyarakat setempat terdengar lebih tegas sehingga sekilas seperti sedang marah.
Hanni, warga asal Yogyakarta yang telah lima tahun tinggal di Banjarnegara, mengaku sempat merasa kaget dengan cara berbicara masyarakat setempat.
Sementara itu, Siti asal Bandung menilai orang Banjarnegara berbicara dengan tempo yang lebih cepat dibandingkan di daerah asalnya.
Perbedaan bahasa juga menjadi tantangan tersendiri.
Siti menceritakan ada sejumlah kosakata yang terdengar sama antara Bahasa Sunda dan bahasa yang digunakan masyarakat Banjarnegara, tetapi memiliki arti berbeda.
Beberapa contohnya antara lain:
Muncang: di Banjarnegara berarti daun bawang, sedangkan dalam Bahasa Sunda berarti kemiri.
Atos: di Banjarnegara berarti keras, sedangkan dalam Bahasa Sunda berarti sudah.
Cokot: di Banjarnegara berarti gigit, sedangkan dalam Bahasa Sunda berarti ambil.
Di sisi lain, Witha asal Bekasi justru terkejut karena banyak warga Banjarnegara menggunakan Bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari.
Bagi pendatang yang terbiasa menggunakan transportasi umum hingga larut malam, kondisi di Banjarnegara bisa menjadi kejutan.
Witha mengaku sempat kaget karena sebagian besar angkutan umum hanya beroperasi hingga sore hari. Kalaupun masih ada kendaraan umum pada malam hari, umumnya merupakan angkutan antarkota dengan jumlah yang terbatas.
Hal lain yang membuat Hanni terkejut adalah pengaturan lampu lalu lintas di beberapa persimpangan.
Menurutnya, di sejumlah titik lampu hijau dapat menyala bersamaan dengan jalur dari arah berlawanan. Pengalaman ini berbeda dengan di Yogyakarta yang umumnya menerapkan sistem pergantian lampu secara bergantian.
Aa, pendatang asal Tegal, juga merasakan perbedaan tradisi saat menghadiri pesta pernikahan di Banjarnegara.
Di daerah asalnya, tamu biasanya datang hanya pada hari pelaksanaan akad atau resepsi. Sementara di Banjarnegara, rangkaian hajatan dapat berlangsung selama beberapa hari.
Selain itu, buah tangan yang diberikan kepada tamu juga berbeda. Jika di daerah asalnya lebih banyak berupa suvenir, di Banjarnegara tamu sering membawa pulang aneka camilan.
Bagi Hanni yang memiliki anak, keberadaan komunitas keluarga dan kegiatan parenting menjadi salah satu hal yang cukup dirindukan.
Ia mengaku sempat kesulitan menemukan aktivitas untuk anak di luar lingkungan sekolah karena pilihan komunitas keluarga masih terbatas.
Sebagai daerah yang identik dengan Dawet Ayu, Banjarnegara justru memberikan kejutan bagi Witha.
Ia mengaku mengira harga minuman khas tersebut akan lebih murah. Namun, menurutnya harga Dawet Ayu di Banjarnegara berkisar Rp7.000 hingga Rp10.000 per gelas, sedangkan di daerah asalnya minuman serupa bisa dibeli dengan harga di bawah Rp5.000.
Setiap daerah memiliki budaya, kebiasaan, dan karakter masyarakat yang berbeda. Culture shock merupakan hal yang wajar dialami oleh pendatang pada masa awal beradaptasi.
Seiring waktu, berbagai perbedaan tersebut justru menjadi pengalaman menarik yang membuat banyak orang semakin mengenal dan mencintai Banjarnegara.
Lalu, bagaimana pengalaman Anda? Apakah pernah mengalami culture shock saat tinggal atau berkunjung ke Banjarnegara?