
PURWOKERTO, SERAYUNEWS — Banyumas memiliki sejumlah seniman yang kiprahnya berhasil dikenal hingga tingkat nasional. Salah satunya Darto Helm, pelawak kelahiran Purwokerto yang namanya populer melalui kelompok lawak Bagyo CS. Selain melawak, Darto juga berkiprah di dunia film dan musik.
Darto Helm merupakan nama panggung dari Sudarto. Berdasarkan data Indonesian Film Center, ia lahir di Purwokerto pada 17 Maret 1943. Darto kemudian dikenal sebagai pelawak sekaligus aktor dan menjadi bagian dari Bagyo CS bersama S. Bagio, Diran, dan Sol Saleh.
Kecintaan Darto terhadap dunia seni telah tumbuh sejak berada di Purwokerto. Keluarganya memiliki latar belakang kesenian. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Darto bergabung dengan kelompok wayang orang keluarganya, Sri Surya.
Di kelompok tersebut, Darto terlibat dalam pertunjukan ketoprak dan lebih sering memainkan karakter Bagong. Ia juga memiliki kemampuan bernyanyi dan pernah bergabung dengan kelompok musik Bumulung. Pengalaman di panggung kesenian tersebut kemudian menjadi bekal ketika Darto mengembangkan karier di dunia hiburan.
Setelah Sri Surya tidak lagi aktif, Darto merantau ke Jakarta untuk mencari peluang baru. Ia sempat bergabung dengan kelompok ketoprak Adiluhung sebelum akhirnya semakin dekat dengan dunia lawak.
Kariernya semakin dikenal setelah bergabung dengan S. Bagio, Diran, dan Sol Saleh dalam Bagyo CS. Kelompok tersebut menjadi salah satu grup lawak yang dikenal masyarakat pada era 1970-an hingga 1980-an.
Darto memiliki penampilan yang mudah dikenali. Bagian tengah kepalanya mengalami kebotakan sehingga tampak menyerupai orang yang mengenakan helm. Ciri fisik tersebut kemudian menjadi bagian dari identitasnya hingga nama “Darto Helm” lebih dikenal publik daripada nama aslinya.
Kiprah Darto tidak berhenti di dunia lawak. Ia juga tampil dalam sejumlah film Indonesia. Indonesian Film Center mencatat keterlibatannya dalam film Ateng Sok Tahu yang dirilis pada 1976 serta sejumlah produksi lainnya.
Perjalanan karier Darto kemudian mengalami perubahan setelah ia terserang stroke pada 4 September 1996. Kondisi tersebut membuat aktivitasnya di dunia hiburan berkurang.
Darto Helm meninggal dunia di Jakarta pada 14 Agustus 2004 dalam usia 61 tahun. Setelah meninggal, jenazahnya dibawa ke Purwokerto dan dimakamkan di kota kelahirannya.
Darto Helm meninggalkan jejak sebagai salah satu seniman Banyumas yang mampu menembus panggung hiburan nasional. Perjalanannya dari seni pertunjukan di Purwokerto, ketoprak, musik, lawak, hingga film menjadi bagian dari sejarah perkembangan hiburan Indonesia.
Namanya mungkin tidak lagi sesering muncul di layar seperti pada masa kejayaannya. Namun, kiprahnya bersama Bagyo CS dan kontribusinya di berbagai bidang seni membuat Darto Helm tetap menjadi salah satu nama yang patut dikenang dalam sejarah kesenian Banyumas. (Shafira Nur Anindya)