
CILACAP, SERAYUNEWS – Upaya rehabilitasi kawasan pesisir di Kabupaten Cilacap terus diperkuat. PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menghadirkan inovasi berupa rumah bibit mangrove berteknologi Internet of Things (IoT) di Desa Bunton, Kecamatan Adipala. Teknologi tersebut dirancang untuk meningkatkan kualitas bibit mangrove sekaligus menekan angka kematian tanaman saat ditanam di kawasan pesisir.
Rumah bibit mangrove itu diresmikan melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Electrifying Agriculture PLN EPI pada Selasa (28/7/2026). Selain mendukung pelestarian lingkungan, program ini juga diharapkan mampu memperkuat ekonomi masyarakat melalui budidaya bibit mangrove yang memiliki nilai jual.
Manager Komunikasi Korporat & TJSL PLN EPI, Dita Artsana, mengatakan rumah bibit tersebut merupakan hasil kolaborasi PLN EPI bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) Wana Lestari untuk memenuhi kebutuhan bibit mangrove dan cemara udang di kawasan pesisir Cilacap.
Menurutnya, berbeda dengan rumah bibit konvensional, fasilitas yang dibangun PLN EPI telah dilengkapi sistem IoT yang mampu mensimulasikan kondisi pasang surut air layaknya habitat alami mangrove.
“Kalau sebelumnya rumah bibit hanya tergenang air, sekarang kami menambahkan teknologi IoT sehingga terjadi siklus pasang surut seperti di sungai. Harapannya bibit menjadi lebih kuat dan tingkat kematiannya semakin rendah saat ditanam,” kata Dita.
Ia menjelaskan, PLN EPI sebagai subholding PLN yang memasok batu bara, biomassa, gas, dan BBM untuk pembangkit listrik, memiliki komitmen tidak hanya menjaga ketahanan energi, tetapi juga berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan melalui program TJSL.
Program tersebut juga mendapat dukungan dari PLN UP3 Cilacap, Pemerintah Kabupaten Cilacap, Pemerintah Kecamatan Adipala, hingga Pemerintah Desa Bunton.
Dita menyebut rumah bibit mangrove ditargetkan mampu memproduksi sekitar 10 ribu bibit setiap tahun. Saat ini, sebanyak 6.000 bibit telah berhasil diproduksi, bahkan 2.000 bibit di antaranya sudah dipasarkan.
Hasil penjualan bibit tersebut selanjutnya digunakan kembali untuk membeli benih baru sehingga menciptakan siklus ekonomi yang berkelanjutan bagi kelompok pengelola.
“Bibit yang terjual akan diganti dengan pembibitan baru. Jadi hasil penjualan diputar kembali untuk memperbanyak produksi bibit,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cilacap, Achmad Nurlaeli, mengatakan kebutuhan mangrove untuk rehabilitasi pesisir di Cilacap masih sangat besar.
“Kalau dihitung secara keseluruhan, kebutuhan mangrove di Cilacap masih mencapai jutaan bibit. Penanaman akan terus dilakukan secara bertahap melalui berbagai program rehabilitasi pesisir,” katanya.
Menurut Achmad, keberadaan rumah bibit dengan teknologi IoT menjadi solusi penting karena bibit telah beradaptasi dengan kondisi pasang surut sebelum ditanam di lapangan. Dengan begitu, peluang hidup tanaman mangrove akan lebih tinggi dibandingkan bibit yang belum mendapatkan perlakuan serupa.
Ia menambahkan, selama ini pengadaan bibit mangrove di Cilacap berasal dari berbagai rumah bibit binaan perusahaan maupun kelompok masyarakat, seperti di Kutawaru, Kampung Laut, hingga Desa Bunton.
Dengan hadirnya rumah bibit mangrove binaan PLN EPI, diharapkan kebutuhan bibit untuk mendukung rehabilitasi pesisir dapat semakin terpenuhi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan pembibitan mangrove secara berkelanjutan.