
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah mulai dirasakan dampaknya oleh petani, pelaku UMKM, hingga ribuan relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Banyumas.
Kebijakan tersebut mengacu pada Surat Edaran (SE) Nomor 12 Tahun 2026 yang diterbitkan Badan Gizi Nasional (BGN), yang mengatur penghentian sementara pelaksanaan Program MBG selama peserta didik menjalani libur sekolah.
Koordinator Relawan SPPG Kabupaten Banyumas, Imam Muntobin, mengatakan hingga saat ini Program Makan Bergizi Gratis masih dihentikan sementara.
“Program MBG sampai hari ini masih dihentikan karena SE Nomor 12 Tahun 2026 yang dikeluarkan pimpinan BGN. Selama hari libur sekolah, program MBG dihentikan,” ujar Imam, Sabtu (27/6/2026).
Menurutnya, Kabupaten Banyumas saat ini memiliki lebih dari 200 dapur SPPG yang mendukung pelaksanaan Program MBG.
Imam menjelaskan, setiap dapur SPPG rata-rata melibatkan sekitar 50 relawan. Dengan jumlah tersebut, diperkirakan ada sekitar 10.000 hingga 11.000 relawan di Banyumas yang menggantungkan aktivitas dan penghasilannya pada program tersebut.
Penghentian sementara Program MBG, kata dia, tidak hanya berdampak pada relawan, tetapi juga terhadap petani dan pelaku UMKM yang selama ini menjadi pemasok bahan pangan ke dapur-dapur SPPG.
Menurut Imam, para petani telah mempersiapkan hasil panen mereka untuk memenuhi kebutuhan dapur SPPG. Namun, penghentian sementara program membuat mereka kehilangan pasar.
“Sangat terasa dampaknya bagi petani dan UMKM. Awalnya mereka sudah mempersiapkan hasil panennya untuk dikirim ke dapur-dapur SPPG. Begitu program dihentikan, mereka bingung harus menjual hasil taninya ke mana,” katanya.
Ia menyebut kondisi tersebut turut berdampak pada harga sejumlah komoditas pertanian di pasaran.
“Bisa dicek di pasar-pasar, harga timun sekarang anjlok, harga telur juga sudah turun,” ujarnya.
Selain petani dan pelaku UMKM, ribuan relawan SPPG juga merasakan dampak ekonomi akibat berhentinya sementara Program Makan Bergizi Gratis.
Menurut Imam, banyak relawan sebelumnya kesulitan memperoleh pekerjaan sebelum bergabung dalam program tersebut.
“Relawan juga sangat terbantu dengan adanya Program MBG. Sebelumnya banyak yang kesulitan mendapatkan pekerjaan, sehingga ketika program ini berhenti sementara tentu sangat berpengaruh terhadap penghasilan mereka,” kata Imam.
Ia berharap Program Makan Bergizi Gratis dapat kembali berjalan setelah masa libur sekolah berakhir, sehingga aktivitas dapur SPPG, petani, pelaku UMKM, dan para relawan bisa kembali normal.
Program MBG dinilai telah menciptakan efek ekonomi berantai di daerah, mulai dari membuka lapangan pekerjaan, menyerap hasil pertanian lokal, hingga menggerakkan sektor UMKM.
Karena itu, para relawan berharap penghentian sementara ini hanya bersifat sementara dan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis dapat segera kembali berjalan setelah tahun ajaran baru dimulai.