Reaksi Redoks dan Elektrokimia, Apa Saja Ciri-cirinya?

Penjelasan reaksi redoks dan elektrokimia. (Pexels/Ivan Samkov)

SERAYUNEWS – Reaksi redoks adalah reaksi kimia yang melibatkan dua proses penting, yaitu oksidasi dan reduksi, yang terjadi secara bersamaan.

Pada reaksi redoks, terjadi perubahan bilangan oksidasi (biloks) pada atom atau ion. Sederhananya, reaksi oksidasi melibatkan pelepasan elektron, sedangkan reduksi melibatkan penerimaan elektron.

Karena kedua proses ini terjadi secara bersamaan, reaksi ini dikenal sebagai reaksi redoks, singkatan dari “reduksi” dan “oksidasi.”

Pengertian Oksidasi dan Reduksi

Pada dasarnya, reaksi oksidasi adalah reaksi di mana suatu atom atau ion kehilangan elektron, sehingga bilangan oksidasinya meningkat.

Contohnya, saat logam seperti besi (Fe) berkarat, besi tersebut mengalami oksidasi karena terjadi pelepasan elektron yang menyebabkan biloks besi naik.

Di sisi lain, reduksi adalah kebalikan dari oksidasi, yaitu reaksi yang melibatkan penerimaan elektron sehingga bilangan oksidasinya menurun.

Sebagai contoh, ketika oksigen (O₂) bereaksi dengan hidrogen (H₂) untuk membentuk air (H₂O), oksigen mengalami reduksi.

Spesi (zat) yang mengalami oksidasi disebut sebagai reduktor, karena zat tersebut “mengorbankan” elektron dan mereduksi zat lain.

Sedangkan, zat yang mengalami reduksi disebut oksidator, karena zat ini menerima elektron dan mengoksidasi zat lain.

Ciri-ciri Reaksi Redoks

Untuk mengenali reaksi redoks, terdapat beberapa ciri utama yang bisa kita perhatikan:

1. Kehadiran Unsur Bebas

Reaksi redoks seringkali melibatkan unsur bebas seperti oksigen (O₂), klorin (Cl₂), atau tembaga (Cu), yang berpotensi mengalami perubahan biloks saat bereaksi.

2. Perubahan Bilangan Oksidasi (Biloks)

Salah satu ciri penting reaksi redoks adalah adanya perubahan biloks pada atom atau ion yang terlibat dalam reaksi.

Misalnya, jika besi (Fe) mengalami oksidasi menjadi Fe²⁺ atau Fe³⁺, maka terjadi perubahan biloks dari Fe ke Fe²⁺ atau Fe³⁺.

3. Adanya Reduktor dan Oksidator

Pada reaksi redoks, selalu ada zat yang bertindak sebagai reduktor dan oksidator. Reduktor adalah zat yang melepaskan elektron, sementara oksidator adalah zat yang menerima elektron.

Contoh Reaksi Redoks

Contoh reaksi redoks yang sederhana adalah reaksi antara logam magnesium (Mg) dengan oksigen (O₂), yang menghasilkan magnesium oksida (MgO).

Pada reaksi ini, magnesium mengalami oksidasi (kehilangan elektron) sehingga biloksnya naik, sementara oksigen mengalami reduksi (menerima elektron) sehingga biloksnya menurun.

Elektrokimia dan Reaksi Redoks

Elektrokimia adalah cabang kimia yang mempelajari hubungan antara listrik dan reaksi kimia, terutama reaksi redoks.

Pada dasarnya, elektrokimia memanfaatkan proses redoks untuk menghasilkan arus listrik atau sebaliknya, menggunakan arus listrik untuk memicu reaksi redoks.

1. Sel Galvani

Dalam sel galvani, reaksi redoks terjadi secara spontan, yang menghasilkan arus listrik. Baterai adalah contoh utama dari sel galvani, di mana energi kimia diubah menjadi energi listrik melalui reaksi redoks.

2. Sel Elektrolisis

Berbeda dengan sel galvani, sel elektrolisis memerlukan energi listrik eksternal untuk memicu reaksi redoks yang tidak spontan.

Misalnya, dalam proses penyepuhan logam, digunakan arus listrik untuk memindahkan logam dari satu elektroda ke permukaan logam lain.

Demikian penjelasan mengenai reaksi redoks dan elektrokimia, lengkap dengan ciri-cirinya. Semoga informasi ini bermanfaat untuk Anda.***