
PURBALINGGA, SERAYUNEWS — Mencari pekerjaan masih menjadi tantangan besar bagi Generasi Z (Gen Z) di Kabupaten Purbalingga. Di tengah tingginya persaingan dunia kerja, para pencari kerja muda masih harus menghadapi berbagai kendala.
Kendala itu mulai dari persyaratan administrasi yang dinilai memberatkan, batasan usia, hingga tuntutan pengalaman kerja yang sulit dipenuhi oleh lulusan baru (fresh graduate).
Potret tersebut terungkap dari pengalaman dua pencari kerja asal Purbalingga, Nurul, lulusan Madrasah Aliyah (MA), dan Niah, lulusan Sarjana Ekonomi.
Keduanya membagikan pengalaman saat berburu pekerjaan sekaligus memberikan pandangan terhadap program Pemerintah Kabupaten Purbalingga bertajuk “Penak Ngodene”.
Nurul mengaku sudah pernah bekerja di empat perusahaan berbeda di Purbalingga. Namun, proses melamar pekerjaan saat ini menurutnya justru semakin rumit karena banyak persyaratan administrasi yang harus dipenuhi.
Salah satu syarat yang paling menyulitkan adalah kewajiban memiliki SKCK aktif, sementara proses perpanjangannya mengharuskan kepesertaan BPJS Kesehatan dalam kondisi aktif.
“Persyaratan PT wajib SKCK aktif, sedangkan punyaku sudah mati. Kalau mau aktifkan SKCK lagi BPJS harus aktif, bikinnya harus ke Polres,” ujar Nurul yang berdomisili di Karangmoncol.
Menurutnya, perjalanan menuju Polres yang memakan waktu sekitar 30 menit ditambah biaya pengurusan menjadi beban tersendiri, terlebih belum ada jaminan akan diterima bekerja.
Selain persoalan administrasi, Nurul juga menyoroti tingginya beban kerja di sejumlah perusahaan. Kondisi produksi yang menurun hingga berimbas pada pemotongan gaji membuatnya beberapa kali memilih mengundurkan diri.
Tak hanya itu, persaingan yang ketat dan batas usia pelamar juga membuat peluang kerja semakin sempit. Kondisi tersebut mendorongnya mencari alternatif penghasilan dengan berdagang yang dinilai lebih fleksibel tanpa persyaratan administrasi yang rumit.
Pengalaman serupa dirasakan Niah, lulusan Sarjana Ekonomi yang telah hampir satu tahun mencari pekerjaan di bidang perbankan, administrasi, maupun operasional.
Meski pernah bekerja sebagai Sahabat Sehat SPHERES di Dinas Kesehatan Kabupaten Purbalingga, pengalaman tersebut belum cukup membuka jalan menuju pekerjaan tetap.
Menurut Niah, banyak perusahaan masih menetapkan syarat pengalaman kerja minimal satu tahun, padahal sebagian besar pelamar berasal dari kalangan fresh graduate.
“Banyak yang minta pengalaman kerja 1 tahun, padahal pelamar banyak yang fresh graduate. Informasi soal gaji atau benefit juga sering tak dicantumkan, harus datang langsung ke tempat kerja untuk pengumpulan berkas. Kadang bingung dan lelah juga sebelum melamar,” ungkap Niah.
Ia juga menyoroti minimnya transparansi dalam informasi lowongan kerja. Selain informasi gaji dan fasilitas yang sering tidak dicantumkan, isu keberadaan “orang dalam” (ordal) masih menjadi kekhawatiran sebagian pencari kerja.
Menurutnya, proses rekrutmen yang terbuka dan informasi yang jelas akan meningkatkan kepercayaan sekaligus semangat para pencari kerja.
Kedua narasumber juga memberikan tanggapan terhadap program Pemerintah Kabupaten Purbalingga dengan slogan “Alus Dalane, Kepenak Ngodene”.
Nurul mengapresiasi pembangunan infrastruktur jalan yang dinilai mempermudah mobilitas masyarakat. Namun, untuk aspek ketenagakerjaan, ia menilai manfaat program tersebut belum sepenuhnya dirasakan karena persoalan pengangguran dan rumitnya syarat melamar kerja masih menjadi kendala utama.
Selain itu, website atau platform Kepenak Ngodene dinilai belum dikenal luas oleh masyarakat.
“Platform itu mungkin belum banyak yang tau, sosialisasinya belum menyeluruh,” tutur Nurul.
Sementara itu, Niah menyambut positif keberadaan platform tersebut apabila mampu menjadi pusat informasi lowongan kerja yang lengkap, terpercaya, dan diperbarui secara berkala.
Menurutnya, kehadiran satu platform resmi akan memudahkan masyarakat yang selama ini harus mencari informasi lowongan dari berbagai media sosial maupun grup percakapan.
“Kalau isinya lengkap, lowongannya update, dan fokus buat domisili Purbalingga, pasti bakal membantu banget,” tambah Niah.
Di tengah ketatnya persaingan dunia kerja, Nurul dan Niah tetap berharap iklim ketenagakerjaan di Purbalingga terus membaik.
Mereka berharap perusahaan memberikan kesempatan lebih besar kepada lulusan baru, menyederhanakan persyaratan administrasi, serta menyajikan informasi lowongan kerja secara transparan, termasuk mengenai gaji, fasilitas, dan proses seleksi.
Di sisi lain, platform daerah seperti Penak Ngodene diharapkan tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar menjadi sarana yang mampu mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan secara lebih cepat, mudah, dan transparan.