
SERAYUNEWS – Ribuan pelari dari 44 negara memeriahkan gelaran Red Dress Run 2026 di Kota Magelang, Jumat (8/5/2026) sore.
Ajang ini menjadi bagian dari rangkaian Prambanan Mendut Interhash 2026 yang mengangkat konsep sport tourism berbasis budaya.
Sebanyak 2.943 peserta tampil kompak mengenakan kostum dominan merah, menciptakan pemandangan unik di sejumlah ruas jalan Kota Magelang.
Mereka menempuh rute sekitar tiga kilometer, dari eks Gedung Bakorwil Magelang menuju Gedung Tri Bhakti.
Gelaran ini tidak hanya menghadirkan aktivitas lari santai, tetapi juga memadukan unsur budaya lokal.
Sepanjang perjalanan, peserta diiringi alunan gamelan, atraksi barongan, serta berbagai pertunjukan seni tradisional Jawa Tengah.
Di sejumlah cheering point, tampil kesenian khas daerah seperti Dayakan Topeng Ireng, barongsai, hingga tarian tradisional yang memperkuat atmosfer budaya.
Konsep tersebut menjadikan Red Dress Run sebagai medium promosi kekayaan budaya Jawa Tengah kepada ribuan peserta mancanegara.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno menyebut keberhasilan Jawa Tengah menjadi tuan rumah Interhash 2026 sebagai momentum penting memperkuat posisi daerah dalam peta sport tourism global.
Menurutnya, kehadiran hampir tiga ribu peserta dari puluhan negara memberi dampak nyata terhadap promosi wisata dan pergerakan ekonomi lokal.
“Ini bagian dari pengembangan sport tourism di Jawa Tengah. Dampaknya dari sisi ekonomi tentu luar biasa bagi Magelang. Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi sarana mempromosikan pola hidup sehat,” kata Sumarno.
Ia menilai antusiasme masyarakat yang menyambut peserta di sepanjang jalur menjadi bukti kuat bahwa event berbasis komunitas mampu mendorong partisipasi publik secara luas.
“Harapannya masyarakat ikut terdorong gemar berolahraga. Kesehatan tidak bisa dibangun tanpa aktivitas, dan olahraga adalah salah satu caranya,” ujarnya.
Sumarno menambahkan, Interhash bukan pertama kali digelar di Jawa Tengah. Provinsi ini pernah menjadi tuan rumah pada masa kepemimpinan Gubernur Bibit Waluyo.
Kembalinya agenda internasional ini menegaskan kawasan Borobudur–Prambanan tetap memiliki daya tarik kuat di mata komunitas olahraga dunia.
Salah satu peserta asal Belanda, Xania Blaire (32), mengaku terkesan dengan pengalaman pertamanya mengikuti Red Dress Run di Magelang.
Ia memuji keramahan warga serta keterlibatan anak-anak sekolah di sepanjang jalur kegiatan.
“My experience, ini bagus sekali. Ada banyak anak-anak di sini, dan mereka pintar berbahasa Inggris,” ujarnya.
Xania sengaja mengalokasikan enam hari untuk mengikuti rangkaian Interhash sebagai bagian dari liburannya selama satu bulan di Indonesia.
Interhash merupakan kegiatan olahraga nonkompetitif yang memadukan jalan santai, lari ringan, petualangan, dan interaksi sosial.
Fokus utama kegiatan ini bukan pada kecepatan, melainkan kebersamaan serta pengalaman menikmati suasana kota dan alam.
Setelah agenda di Kota Magelang, rangkaian Prambanan Mendut Interhash 2026 akan berlanjut pada 9–10 Mei di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, serta kawasan Candi Plaosan di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten.