
SERAYUNEWS- Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan di awal 2026 seiring meningkatnya ketidakpastian global.
Pergerakan mata uang Garuda tidak hanya dipengaruhi oleh arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed), tetapi juga oleh eskalasi risiko geopolitik yang mendorong investor global berburu aset aman.
Pada penutupan perdagangan awal pekan, rupiah tercatat melemah di kisaran Rp16.740 per dolar AS.
Tekanan ini mencerminkan kehati-hatian pasar dalam merespons sinyal kebijakan moneter AS yang masih belum sepenuhnya jelas, meskipun di sesi berikutnya rupiah sempat menunjukkan pemulihan terbatas.
Melansir berbagai sumber, berikut kami sajikan ulasan selengkapnya mengenai Rupiah dan Dolar AS, siapa lebih kuat di 2026? berikut faktor penentunya:
Pelaku pasar global saat ini menaruh perhatian besar pada arah kebijakan suku bunga The Fed sepanjang 2026. Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru menunjukkan adanya perbedaan pandangan di internal bank sentral AS.
Sebagian pejabat The Fed menilai pelonggaran suku bunga diperlukan untuk menjaga momentum pasar tenaga kerja agar tidak melemah lebih dalam.
Namun, kelompok lain justru menilai risiko inflasi masih cukup tinggi sehingga kebijakan moneter ketat perlu dipertahankan lebih lama demi memastikan inflasi benar-benar kembali ke target 2 persen.
Perbedaan pandangan tersebut menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan global, termasuk pasar valuta asing di negara berkembang seperti Indonesia. Rupiah pun ikut terdampak karena investor cenderung menahan posisi sambil menunggu kepastian arah kebijakan.
Berdasarkan pemantauan pasar derivatif suku bunga, peluang The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan Januari 2026 masih sangat besar.
Mayoritas pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS belum akan terburu-buru menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.
Ekspektasi ini membuat dolar AS relatif tetap diminati, meskipun pergerakannya cenderung fluktuatif. Setiap sinyal hawkish dari pejabat The Fed kerap langsung mendorong penguatan dolar dan memberi tekanan tambahan pada mata uang negara berkembang.
Selain faktor moneter, kondisi geopolitik global juga ikut memengaruhi pergerakan rupiah. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela menjadi salah satu sentimen yang memperkuat permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS dan emas.
Situasi ini mendorong sebagian investor asing melakukan penyesuaian portofolio, termasuk mengurangi kepemilikan aset berisiko di pasar negara berkembang.
Dampaknya, aliran modal keluar dari pasar obligasi domestik turut memberi tekanan pada nilai tukar rupiah dan mendorong kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN).
Meski menghadapi tekanan, rupiah sempat menunjukkan penguatan terbatas pada pembukaan perdagangan Selasa (6/1/2026). Penguatan ini terjadi seiring pelemahan sementara dolar AS setelah rilis data ekonomi Amerika Serikat yang mengecewakan.
Indeks manufaktur AS tercatat kembali berada di zona kontraksi yang lebih dalam. Data tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap prospek aktivitas industri Negeri Paman Sam dan menekan permintaan dolar dalam jangka pendek.
Namun, penguatan rupiah masih bersifat rapuh karena sentimen eksternal belum sepenuhnya kondusif.
Indeks dolar AS (DXY) tercatat bergerak naik-turun seiring kombinasi data ekonomi, komentar pejabat The Fed, serta perkembangan geopolitik.
Di satu sisi, data ekonomi yang melemah membuka peluang pelonggaran kebijakan moneter. Di sisi lain, pernyataan bernada hawkish dari sejumlah pejabat The Fed menahan pelemahan dolar lebih dalam.
Beberapa pejabat bank sentral AS menyebut suku bunga saat ini sudah mendekati level netral, namun masih membuka ruang penyesuaian lanjutan apabila inflasi dan pasar tenaga kerja bergerak sesuai ekspektasi.
Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas tinggi. Faktor eksternal tetap menjadi penentu utama, mulai dari kebijakan The Fed, rilis data ekonomi AS, hingga dinamika geopolitik global.
Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar cenderung bersikap selektif dan berhati-hati. Selama ketidakpastian global belum mereda, rupiah berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan mengikuti arah dolar AS di pasar internasional.
Nilai tukar rupiah saat ini berada di persimpangan sentimen global. Ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed dan meningkatnya risiko geopolitik membuat investor global cenderung menghindari risiko.
Selama faktor-faktor tersebut masih mendominasi, rupiah diperkirakan belum akan bergerak stabil dan tetap rentan terhadap tekanan eksternal.