
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Di tengah derasnya arus konten media sosial, zodiak masih menjadi salah satu topik yang akrab bagi Generasi Z atau Gen Z.
Ramalan harian, gambaran karakter berdasarkan tanggal lahir, hingga kecocokan pasangan kerap berseliweran di lini masa dan memancing perbincangan.
Bagi sebagian orang, zodiak bahkan menjadi pembuka percakapan yang menarik. Namun, seberapa jauh zodiak benar-benar memengaruhi cara Gen Z memilih teman atau pasangan?
Sejumlah Gen Z yang ditemui Serayunews menilai zodiak lebih sering menjadi hiburan dan bahan candaan ketimbang dijadikan pedoman untuk menentukan pilihan penting dalam kehidupan.
Tegar Yudho Yuarno, misalnya, mengaku sesekali mencari tahu informasi mengenai zodiak.
Namun, ia tidak menjadikannya sebagai acuan dalam menilai seseorang maupun mengambil keputusan.
“Buat seru-seruan aja, bisa buat sarkas bercandaan. Kalau aku pribadi enggak berpengaruh, cuma kadang iseng aja ngecek-ngecek, tapi tidak dijadikan panutan atau acuan,” ujarnya.
Bagi Tegar, zodiak lebih cocok ditempatkan sebagai bagian dari hiburan. Mengetahui karakter seseorang berdasarkan zodiak boleh saja menjadi bahan obrolan, tetapi tidak cukup untuk menentukan bagaimana seseorang seharusnya dinilai.
Pandangan serupa disampaikan Vonny Pramadhanti. Ia menganggap konten tentang zodiak cukup menarik untuk ditonton maupun dibaca, terutama ketika muncul di media sosial.
Meski demikian, ketertarikannya tidak sampai memengaruhi cara ia memilih teman atau pasangan.
“Kalau menurut aku pribadi, zodiak itu menarik. Aku juga kadang suka nonton atau baca terkait zodiak, cuma enggak terlalu mendalami, hanya untuk hiburan aja dan enggak berpengaruh dalam memilih teman atau pasangan,” kata Vonny.
Bagi Vonny, menikmati konten zodiak tidak berarti harus mempercayainya sebagai dasar dalam menentukan hubungan dengan orang lain.
Di sisi lain, Rafif Dian melihat ada kecenderungan sebagian anak muda yang terlalu jauh menggunakan zodiak sebagai ukuran untuk memahami diri sendiri maupun menilai orang lain.
“Menurut saya, Gen Z terlalu melihat zodiak sebagai cara mereka menilai diri sendiri dan menilai orang lain. Padahal zodiak hanya sebuah rasi bintang,” ungkapnya.
Menurut Rafif, seseorang tidak seharusnya langsung diberi penilaian tertentu hanya berdasarkan tanda zodiaknya.
Beragam pandangan tersebut menunjukkan bahwa zodiak masih memiliki tempat tersendiri dalam budaya populer Gen Z.
Kontennya mudah ditemukan, menarik untuk dibicarakan, dan kerap menjadi bahan candaan di tengah pergaulan.
Namun, ketika berbicara soal memilih orang yang akan menjadi teman dekat atau pasangan, zodiak tampaknya bukan menjadi pertimbangan utama bagi sebagian Gen Z.
Mereka lebih memilih melihat kepribadian, sikap, cara berkomunikasi, serta kecocokan yang dirasakan secara langsung.
Pada akhirnya, zodiak mungkin tetap seru untuk dibahas di tengah obrolan atau dijadikan bahan candaan.
Tetapi bagi sebagian Gen Z, mengenal seseorang tampaknya tidak cukup hanya dengan mengetahui tanggal lahir dan tanda zodiaknya. (Sundi Tias)