
BANYUMAS, SERAYUNEWS– Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar (Cak Imin), merespons positif usulan pembangunan laboratorium pengujian kualitas gula kelapa senilai Rp8 miliar di Kabupaten Banyumas. Pemerintah berkomitmen mengupayakan skema pendanaan agar fasilitas krusial penunjang daya saing ekspor tersebut dapat segera terealisasi.
Dukungan tersebut disampaikan Cak Imin dalam acara Launching Pilot Project Ekosistem Pemberdayaan Masyarakat Terintegrasi Berbasis Kawasan Ekspor di kawasan wisata Pereng, Desa Cilongok, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Kamis (25/6/2026). Langkah ini diproyeksikan bakal memperkokoh posisi Banyumas sebagai sentra utama gula semut dunia.
Menanggapi usulan bernilai miliaran tersebut, Cak Imin menilai investasi untuk laboratorium pengujian komoditas kelapa ini sangat layak karena dampaknya yang luas, mulai dari korporasi hingga pelaku usaha mikro.
“Pemerintah akan berupaya mencarikan skema pendanaan yang memungkinkan agar kebutuhan tersebut bisa direalisasikan,” ujarnya.
Cak Imin menegaskan bahwa hilirisasi komoditas berbasis sumber daya alam harus dilakukan secara tepat agar mampu mendongkrak nilai tambah sekaligus mengentaskan kemiskinan. Berdasarkan data, saat ini masih terdapat sekitar 194 ribu penduduk miskin di Kabupaten Banyumas. Melalui ekosistem ekonomi yang kuat, inovasi di sektor pertanian, perkebunan, hingga perlindungan para penderes kelapa diharapkan bisa melahirkan kesejahteraan baru yang tepat sasaran.
Sebelumnya, Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, memaparkan betapa besarnya potensi industri gula kelapa di wilayahnya. Fakta mengejutkan yang jarang diketahui publik, bahkan di tingkat kementerian, adalah Indonesia memasok sekitar 90 persen kebutuhan gula semut global.
“Dari jumlah itu, sekitar 80 persennya berasal dari Banyumas dan pusatnya ada di Cilongok,” ujar Sadewo.
Capaian masif inilah yang menjadi modal kuat Banyumas bertransformasi menjadi pusat pengembangan kawasan ekspor gula kelapa nasional. Saat ini, produk gula semut Banyumas telah melanglang buana ke berbagai negara, mulai dari Rusia, Eropa, hingga Timur Tengah.
Guna mendukung hulu produksi, Banyumas juga mendapat suntikan bantuan 10.000 bibit kelapa genjah Bali dari Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, yang diperkirakan membutuhkan lahan seluas 625 hektare.
Kendati memiliki pasar yang luas, Sadewo mengungkapkan bahwa pelaku usaha gula kelapa kerap tersandung masalah pengujian kualitas. Hingga kini, Banyumas belum memiliki laboratorium lokal standar ekspor untuk mendeteksi kontaminasi gula rafinasi, syarat mutlak meraih sertifikasi organik di pasar internasional.
Akibat ketiadaan fasilitas ini, rantai produksi dari penderes hingga eksportir berada dalam posisi rentan. Sadewo mencontohkan kasus di mana produk gula semut yang sudah dikirim ke luar negeri mendadak kehilangan sertifikat organik karena dinyatakan mengandung rafinasi setelah diuji di negara tujuan. Hal ini terjadi karena laboratorium standar ekspor terdekat masih berada di Eropa.
“Kalau Banyumas memiliki laboratorium sendiri, setiap hari bisa menguji sekitar 10 sampai 20 sampel gula,” katanya.
Saat ini, biaya uji per sampel mencapai Rp2,5 juta. Padahal di Jawa Tengah ada sekitar 30 perusahaan eksportir yang melayani pengiriman ke 56 negara.
Jika usulan laboratorium Rp8 milar ini terealisasi di bawah pengelolaan Dinas Perdagangan Kabupaten Banyumas, fasilitas tersebut tidak hanya menaikkan daya saing produk ekspor di kancah internasional, tetapi juga berpotensi menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Di sisi lain, Sadewo turut menaruh perhatian pada tingginya risiko keselamatan para penderes kelapa yang setiap hari harus memanjat 20 hingga 25 pohon tinggi. Ia mendorong seluruh perusahaan eksportir untuk menjamin kesejahteraan mereka lewat kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.
Ke depan, kehadiran kelapa genjah berpostur pendek diharapkan menjadi solusi inklusif. Sekitar 100 pohon kelapa genjah nantinya bisa dikelola oleh kaum perempuan, membuka lapangan kerja baru, dan mempercepat ambisi Kecamatan Cilongok sebagai pusat produksi gula semut terbesar di Indonesia.